http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=1692
March 11, 2006
The Saturday Profile
Ancaman2 Pembunuhan Bakal Diterima Muslim yang Mengatakan Kekerasan Menghancurkan Islam
By JOHN M. BRODER
LOS ANGELES, March 10 —
Tiga minggu yang lalu, Dr. Wafa Sultan
yang tadinya adalah dokter ahli jiwa Syria Amerika yang tidak begitu
dikenal yang tinggal di daerah luar kota Los Angeles, mengakibatkan
para Muslim marah besar.
Akibat hasil interview yang blak2an dan tanpa kekang di TV Al Jazeera
pada tanggal 21 Februari lalu, hari ini Dr. Wafa Sultan jadi sensasi
internasional, di-puji2 sebagian orang karena menyuarakan pendapat yang
baru dan sebagian lainnya menuduhnya sebagai penghujat dan kafir yang
layak dibunuh.
Dalam interview TV yang telah dilihat di internet lebih dari sejuta
kali dan tersebar melalui e-mail ratusan ribu kali di seluruh dunia,
Dr. Sultan dengan lugas mengecam imam2 Muslim, pejuang2 suci Islam dan
pemimpin2 politik yang dia sebut telah mendistorsi ajarang Muhammad dan
Qur’an selama 14 abad.
Dia berkata bahwa dunia Islam yang dia bandingkan kalah dengan dunia
kaum Yahudi, telah terjerumus ke dalam sikap mengasihani diri sendiri
dan tindakan kekerasan.
Dr. Sultan berkata bahwa dunia saat ini tidak menyaksikan pertikaian
agama atau budaya, tapi tepatnya adalah perang antara modernitas dan
barbarisme. Dalam perang ini kekuatan Islam yang penuh kekerasan dan
sangat reaktif sudah ditentukan akan kalah.
Akibat pendapat ini, para imam di seluruh dunia Muslim mengutuki Dr.
Sultan, dan mesin penerima pesan teleponnya penuh dengan ancaman
pembunuhan. Tapi para Muslim penganut reformasi Islam memujinya karena
telah mengatakan kritik yang bahkan tidak berani dikatakan Muslim dalam
percakapan tertutup sekalipun. Sebaliknya, Dr. Sultan menyuarakan
kritik itu dengan keras dalam bahasa Arab dan disiarkan di seluruh
jaringan TV dunia Arab.
”Aku percaya bahwa masyarakat kita disandera oleh kepercayaan dan
ajaran2 kita sendiri, “katanya dalam sebuah interview minggu ini di
rumahnya di daerah luar kota Los Angeles.
Dr. Sultan, 47 tahun, mengenakan baju atasan formal dan rok dan stoking
yang tebal. Warna mata dan rambutnya hitam pekas dan penampilannya yang
sederhana berlawanan dengan kata2nya yang tajam: “Pengetahuan telah
membebaskanku dari pemikiran yang terbelakang. Seseorang harus menolong
memerdekakan kaum Muslim dari kepercayaan2 yang salah ini.”
Barangkali kata2nya yang paling menusuk di interview Al Jazeera
adalah perbandingan yang dia katakan tentang bagaimana kaum Yahudi dan
kaum Muslim bereaksi dalam menghadapi kesukaran. Dalam berbicara
tentang Holokaus, dia berkata, “Kaum Yahudi telah bangkit dari tragedi
dan memaksa dunia untuk menghormati mereka melalui pengetahuan mereka
dan bukan melalui teror. Dengan hasil kerja mereka, dan bukan dengan
menangis dan menjerit-jerit.”
Dia melanjutkan, “Kita tidak pernah melihat seorang pun Yahudi yang
meledakkan dirinya di restoran Jerman. Kita tidak pernah melihat
seorang pun Yahudi yang menghancurkan gereja. Kita tidak pernah melihat
seorang pun Yahudi yang melakukan protes dengan membunuh orang.”
Dia menyimpulkan, “Hanya kaum Muslimlah yang membela kepercayaan
mereka dengan membakar gereja2, membunuhi orang2 dan menghancurkan
kedubes2. Cara yang mereka tempuh tidak akan menghasilkan apapun. Kaum
Muslim harus bertanya kepada diri mereka sendiri APAKAH YANG BISA MEREKA LAKUKAN BAGI UMAT MANUSIA, SEBELUM MEREKA MENUNTUT AGAR UMAT MANUSIA MENGHORMATI MEREKA.”
Pandangan2nya terdengar oleh Kongres Yahudi Amerika yang kemudian
mengundangnya di bulan Mei untuk berbicara di sebuah konferensi di
Israel. “Kami telah mendiskusikan dengannya betapa pentingnya pesan2
darinya dan kami mencoba mengatur agar dia bisa bicara dengan para
pemimpin Yahudi, “ kata Neil B. Goldstein, direktur eksekutif
organisasi itu.
Kemungkinan besar Dr. Sultan lebih diterima dengan baik di Tel Aviv
daripada di Damaskus. Tak lama setelah interview disiarkan, para imam
Syria mengutuknya sebagai kafir. Seorang imam berkata bahwa dia telah
merusakkan Islam lebih parah daripada kartun2 Denmark mengejek
Muhammad, demikian disampaikan oleh sebuah kantor berita.
Dr. Sultan “sekarang sedang menyelesaikan bukunya, yang kalau berhasil diterbitkan, akan menjungkirbalikkan dunia Islam.”
”Aku sudah berada pada titik di mana aku tidak bisa kembali lagi. Aku
tidak punya pilihan. Aku mempertanyakan setiap ajaran yang tertera di
Qur’an.
Judul bukunya adalah “Tawanan yang Melarikan Diri: Jika Tuhan adalah Monster.”
Dr. Sultan berasal dari keluarga Muslim tradisional yang besar di
Banias, Syria, yakni sebuah kota kecil di daerah Mediterania yang
jaraknya sekitar 2 jam nyetir mobil di sebelah utara Beirut. Ayahnya
adalah pedagang gandum dan Muslim yang taat. Dr. Sultan melaksanakan
ajaran Islam sampai dia dewasa.
Tapi, katanya, hidupnya berubah di tahun 1979 ketika dia masih menjadi
mahasiswa kedokteran di Universitas Aleppo, di bagian Utara Syria. Pada
saat itu, anggota kelompok radikal Muslim Brotherhood menggunakan
terorisme untuk mengguncangkan pemerintahan di bawah Presiden Hafez
al-Assad. Orang2 bersenjata dari Muslim Brotherhood menyerbu ke dalam
ruangan kelas di universitas dan membunuh profesornya di hadapannya,
kata Dr. Sultan.
“Mereka memuntahkan ratusan peluru ke tubuh profesorku sambil berteriak
“Allahuakbar!” katanya. “Pada detik itu, aku kehilangan imanku pada
tuhan mereka dan mulai mempertanyakan semua ajaran agama Islam. Itu
adalah titik balik dalam hidupku, dan ini pula yang mengantarkanku pada
posisiku yang sekarang. Aku harus pergi. Aku harus mencari tuhan yang
lain.”
Dia dan suaminya yang sekarang ganti nama dengan nama Amerika yakni
David, merencanakan untuk meninggalkan Syria dan pergi ke Amerika
Serikat. Visa2 mereka akhirnya ke luar di tahun 1989, dan suami istri
Sultan dan kedua anak mereka (sekarang anak mereka berjumlah tiga) lalu
tinggal dengan kawan2 mereka di Cerritos, California. Ini adalah daerah
perumahan makmur di tepi kota Los Angeles.
Setelah berganti-ganti pekerjaan dan kesusahan bahasa, Dr. Sultan
akhirnya menyelesaikan ijin kedokteran Amerika, dan yang belum selesai
tinggal program pasien rumah sakit yang diharapkannya bisa diselesaikan
dalam waktu setahun. David bekerja dengan mengusahakan bengkel peneliti
kadar polusi bagi kendaraan. Mereka beli sebuah rumah di daerah Los
Angeles dan memasukkan anak2 mereka ke sekolah2 umum. Sekarang mereka
semua adalah warga negara Amerika Serikat.
TAPI bahkan setelah dia hidup nyaman sebagai warga kelas menengah di
Amerika, kemarahan Dr. Sultan tetap menyala di lubuk hatinya. Dia
menuliskan kemarahannya, pertama-tama untuk dirinya sendiri, dan lalu
untuk website reformasi Islam yang bernama Annaqed (Sang Pengritik)
yang dikelola oleh seorang imigran Syria di Phoenix, Arizona.
Sebuah artikel penuh kemarahan yang ditulis Dr. Sultan tentang Muslim
Brotherhood menarik perhatian Al Jazeera, yang lalu mengundangnya untuk
berdebat dengan seorang imam Algeria di siaran TV bulan July lalu.
Dalam perdebatan itu, Dr. Sultan mempertanyakan ajaran2 relijius Islam
yang mengakibatkan anak2 muda bunuh diri dalam nama Awloh. “Mengapa
seorang anak muda Muslim, dalam puncak hidupnya, dengan masa depan
cerah di hadapannya, pergi dan meledakkan diri sendiri?” dia bertanya.
“Di negeri2 kita, agama merupakan satu2nya pendidikan dan dari satu2nya
mata air agama inilah para teroris minum untuk melegakan dahaganya.”
Kata2nya mengakibatkan banyak perdebatan di seluruh dunia dan
namanya mulai bermunculan di koran2 dan website2 Arab. Tapi
kemahsyurannya meledak setelah tampil di Al Jazeera lagi di tanggal 21
Februari di sebuah interview yang diterjemahkan dan disebarkan secara
luas oleh Middle East Media Research Institute, yang dikenal sebagai
Memri.
Memri melaporkan bahwa klip video Dr. Sultan telah ditonton lebih dari sejuta kali.
”Pertentangan yang kita saksikan di seluruh dunia bukanlah
pertentangan agama atau budaya, “ kata Dr. Sultan. “Ini adalah
pertentangan dua pihak berlawanan yang berasal dari era yang berbeda.
Ini adalah pertentangan antara mentalitas yang dimiliki Abad
Pertengahan lawan mentalitas Abad ke 21. Ini adalah pertentangan antara
kemajuan lawan keterbalikan, antara keberadaban lawan primitif, antara
barbarisme lawan rasionalisme.”
Dia berkata dia tidak lagi melaksanakan ajaran agama Islam. “Aku adalah manusia sekuler, “ katanya.
Tamu lain dalam program interview ini yang diperkenalkan sebagai
profesor Mesir tentang studi agama, Dr. Ibrahim al-Khouli, bertanya,
“Apakah kamu bida’ah?” Dia lalu berkata tidak ada gunanya menyangkal
atau mendebat Dr. Sultan, karena dia telah menghujat Islam, Muhammad
dan Qur’an..
Dr. Sultan berkata dia menganggap kata2 itu sebagai fatwa, kutukan
agama. Sejak saat itu, katanya, dia menerima banyak ancaman pembunuhan
di mesin penjawab telepon dan melalui e-mail
Satu pesan berkata, “Oh, kamu masih hidup ya? Tunggu aja nanti.” Dia
menerima sebuah e-mail di hari lalu dalam bahasa Arab yang berkata,
“Jika seseorang nanti membunuhmu, orang itu adalah saya.”
Dr. Sultan berkata bahwa ibunya yang masih tinggal di Syria ketakutan
untuk menghubunginya secara langsung dan hanya berani bicara melalui
saudara perempuannya yang hidup di Qatar. Dia berkata dia lebih
khawatir akan keselamatan anggota keluarganya di Amerika dan Syria
daripada akan dirinya sendiri.
”Aku tidak takut,” katanya. “Aku percaya akan pesan2ku. Rasanya seperti
melakukan perjalanan yang jauhnya sejuta mil dan kurasa yang terberat
adalah 10 mil pertama.
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?p=272928#272928By Jamie Glazov
FrontPageMagazine.com | Wednesday, January 02, 2008
Homa Arjomand adalah Koordinator Kampanye Internasional Melawan Pengadilan Shariah di Canada. Ia dianggap sbg Wanita Terkemuka Thn 2005 oleh Gazette Des Femmes dan thn 2006 menerima Hadiah Toronto Humanist of the Year dan Humanist of The Year Award dari HAC (Humanist Association of Canada).
Websitenya : http://www.nosharia.com/
Arjomand: Saya lahir dan
dibesarkan di Iran. Pada usia 17, saya mulai aktivitas sosial dan
politik dgn siswa2 kedokteran yg menjadi pembangkang regim Islam. Saya
studi di UK dgn sponsor the National Iranian Oil Company dan kembali ke
Iran utk bekerja sbg guru di berbagai perguruan tinggi dan universitas.
Musim dingin 1989, saya lari dari Iran lewat pegunungan karena nyawa
saya teranyam oleh rejim Islam. Saya tinggal di Kanada sejak th 1990
dan menghadiri berbagai konferensi2 internasional ttg hak2 anak2,
wanita dan kaum gay. Saya diwawancara berbagai surat kabar di Eropa dan
Amerika membela sekularisme.
Ketika UU Arbitrari Ontario mengijinkan kasus2 keluarga ditangani oleh
badan2 arbitrasi berdasarkan agama saya langsung membentuk the International Campaign against Sharia Court in Canada
utk menentang pengadilan Shariah dan pembatasan2 Islam Politik terhdp
wanita dan anak2. Kini saya bekerja sbg penasehat bagi wanita2 yg
menghadapi kekerasan domestik.
Dgn pengalaman hidup di Iran, saya melihat dari dekat aplikasi hukum
Shariah. Meningkatnya Islam Politik mendorong mundur gerakan pembebasan
hak wanita dan menurunkan standar masy dgn menghalalkan apartheid
berdasarkan jenis kelamin dan memberlakukan hukum kekeluargaan yg jelas
mendiskriminasi wanita dan anak2.
Hukum keluarga macam itu mengakibatkan banyak wanita dari masy2 Islam spt itu lari dan mengungsi ke Barat.
Saya melihat bgm dlm keluarga Muslim, seorang ayah akan mengirim
kembali puteri2nya ke negara asal mereka dan memaksa mereka utk menikah
pada usia yg sangat muda, walau mereka warga Kanada.
Tgl 23 Oktober 2003, Syed Mumtaz Ali (foto atas), Presiden the Canadian Society of Muslims,
meresmikan the Islamic Institute of Civil Justice. Katanya, sbg ‘Muslim
tulen’, kau harus menggunakan hukum Shariah bagi masalah2 hukum.
Pernytaan politik ini tidak hanya bernada memaksa tetapi juga sbg
ANCAMAN langsung bagi Muslim2 tulen yg lebih suka menggunakan hukum
Kanada.
Dan sayangnya, Arbitration Act 1991 Kanada memberikan lampu hijau bagi
Islam Politik utk meluaskan cengkramannya atas kehidupan Muslim di
Kanada. Oleh karena itu kami merasa wajib utk mewanti2 rakyat Kanada
akan adanya ANCAMAN terhdp kebebasan mereka ini.
Kami
sangat khawatir bahwa Islam Politik mencoba mengekspansi ke Kanada
lewat arbitrasi keluarga berdasarkan Shariah. Kami yakin bahwa
meningkatnya pengadilan Shariah di Kanada bukan hanya kebetulan. Ini
BAGIAN DARI SEBUAH GERAKAN GLOBAL.
Kampanye kami dimulai di Toronto tgl 30 Oktober 2003 dgn selusin
pendukung namun kini kami merupakan koalisi 183 organisasi dari 14
negara dgn lebih dari 1000 aktivis yg menyumbang waktu dan keahlian
mereka.
FP: Apa sifat rejim Islam di Iran ?
Arjomand: Rejim Islam di Iran
adalah Islam dan didasarkan pada ideologi Islam. Sudah diketahui secara
luas bahwa sistim itu adalah anti kebebasan, anti wanita dan anti
sekularisme. Hukum2 brutalnya menantang modernisasi dan nilai2
progresif masy. Rejim ini dibangun atas prinsip2 teror, penyiksaan,
eksekusi di tempat dan perajaman.
FP: Apa pendapat anda ttg Islam Politik.
Arjomand: Islam Politik adalah
sebuah gerakan yg sangat aktif dlm politik dan berniat membentuk negara
dan kekuasaannya sendiri. Segala hukum dan aturan budaya ditujukan utk
melayani kepentingan politik semata2. Gerakan ini bernafas diatas massa
manusia yg ditekan dan di-isolasi.
Ini sebuah gerakan yg tidak ragu2 melakukan apa saja utk memukul mundur
oposisi dan mendapat pengakuan oleh negara2 Barat. Entah lewat
mengintimidasi rakyat lewat teror atau lewat jalur hukum. Gerakan ini
ingin memanfaatkan demokrasi Barat utk kepentingan mereka di Barat tapi
mereka juga sadar bahwa demokrasi tidak boleh diterapkan di negara2
Islam sendiri karena ini akan mengakibatkan pemberontakan rakyat secara
besar2an.
Di Iran, ada upaya utk menyelamatkan rejim Islam yg menyebarkan ide
bahwa Islam bisa menjadi moderat. Tapi REALITASnya sangat berbeda.
Utk mencapai kebutuhan sehari2, rakyat harus mencapai masy modern.
Wanita2 yg terdidik tidak mungkin diminta utk menanggalkan hak2 dasar
mereka dan membagi rumah mereka dgn wanita lain dan tunduk pada suami
mereka. Tidak mungkin memperlakukan wanita sbg warga kelas dua jika
mereka bekerja sbg manajer di perusahaan2 modern. Tidak mungkin lagi
menahan anak2 muda dari kemajuan internet dan teknologi sambil menuntut
agar mereka bertindak sbg anak2 madrasah.
Rakyat Iran sudah sadar. Kita tinggal tunggu tanggal mainnya saja. Kami
ikut membantu membawa pengaruh ‘kebebasan dan sekularisme’ utk
menumbangkan rejim Islam Iran.
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?p=135082#135082
Mina Ahadi adalah ketua Organisasi Murtadin: http://www.ex-muslime.de/
Mina adalah pendiri Kelompok International Menentang Hukuman Mati dan
Rajam, yang berhubungan dengan 200 organisasi dan kelompok2 individu di
seluruh dunia. Kelompok ini bertujuan untuk menghentikan praktek rajam
di dunia (Islam).
Mina Ahadi lahir di Iran tahun 1956. Dia mulai aktivitas politiknya
ketika dia masih berusia 14 tahun dengan mendirikan kelompok2 diskusi,
perpustakaan, dan tampil di muka umum. Pada waktu Revolusi Iran di
tahun 1979, dia termasuk mahasiswa yang aktif dalam kegiatan politik.
Ketika Pemerintah Islam Iran terbentuk dan Khomeini mengeluarkan fatwa
yang memaksa Muslimah berjilbab, Mina tanpa ragu lagi menggalang
pertemuan2 dan demonstrasi2 melawan Pemerintah. Pidato umumnya yang
pertama dihadiri lebih dari 2.000 wanita di kota Tabriz dan tak lama
kemudian dia dikeluarkan dari universitasnya.
Mina dikejar-kejar antek Pemerintah dan harus bersembunyi. Setahun
kemudian rumahnya digerebeg dan suami dan kawan2nya ditahan. Mina
berhasil lolos sebab saat itu dia tidak berada di rumah. Suaminya lalu
dihukum mati dan Mina meninggalkan kotanya untuk melarikan diri ke
daerah Kurdistan di tahun 1980.
Mina tinggal di Kurdistan sambil terus berjuang melawan Republik Islam
Iran selama 10 tahun dan di tahun 1990 dia pergi ke Vienna (Wina,
Austria). Sejak itu Mina tetap tinggal di Eropa dan secara aktif
berjuang melawan Pemerintah Iran dan kesamaan hak2 wanita. Dia telah
jadi juru bicara utama berbagai pertemuan dan konferensi internasional
emansipasi wanita yang tak terhitung jumlahnya. Beberapa konferensi
utama antara lain adalah konferensi wanita internasional di Peking,
konferensi internasional hak azasi manusia di Vienna, kongres wanita
internasional di Cologne dan Wied. Dalam pertemuan ini, Mina
mengungkapkan masalah2 yang dihadapi Muslimah di negara2 Islam dan dia
menggalang kegiatan2 protest menentang negara2 itu.
Mina adalah juru bicara Kampanye Internasional untuk Memperjuangkan
Hak2 Wanita di Iran. Dia telah diundang kelompok Internasional Amnesty
beberapa kali untuk hadir di perkumpulan2 tahunan mereka. Mina
merupakan tokoh terkemuka dan dikenal dalam perjuangan emansipasi
wanita dan telah tampil dalam berbagai wawancara di berbagai koran dan
program TV terkemuka di Eropa.
Comments
Thu, 20.11.2008 14:56
liat nanti di akhirat, sesungguhnya kita semua sama2 menunggu hari akhir untuk mengetahui mana yang benar. dimana semua [...]
Thu, 20.11.2008 10:01
hehehe.... kenapa marah2. Ngak perlu marah kerana mereka memang goblok ngak tau erti sebenar ayat tersebut. Apa yang [...]
Thu, 20.11.2008 09:52
Mina hanya memperjuang hak wanita di Iran. Hahaha blogger ini sangat goblok. Mina bukannya menentang Islam tapi [...]
Thu, 20.11.2008 09:43
Link yang lu beri datangnya dari FFI yg sememangnya jelas membenci Islam. hanya orang goblok saja yang ngak tau sumber [...]
Thu, 20.11.2008 09:33
Otak manusia memang tidak pintar sama seperti penulis situs ini.
Thu, 20.11.2008 09:18
mbak/bang karma...makanya bisanya jangan cuman nyontek dong...katanya orang2 kristen sama yahudi itu pinter2 sampe2 [...]
Thu, 20.11.2008 08:58
weee...yang Tuhannya satu itu cuma Islam loh...kristen itu tuhannya 3, hindu juga 3,budha lebih dari 3...yahudi apalagi [...]
Thu, 20.11.2008 08:29
hidup layak makan cukup udah menggebirakan , daripada saling menghujat dan menghina mending saling mendo'akan. saya [...]
Thu, 20.11.2008 08:26
artikel [...]
Thu, 20.11.2008 05:20
wah, nggak pintar, hadis gamblang begitu masih nanay artinya. makanya belajar tentang tafsir jangan hermenetik. Kalo [...]
Thu, 20.11.2008 05:11
hey syekh puji bertobatlah kau jgn mengexploitasi anak dibawah umur kasian tau gak tau malu bgt sih udah bau tanah juga [...]
Thu, 20.11.2008 03:17
kalo gitu, maksud dari hadis tsb apa boss ...
Thu, 20.11.2008 02:33
banyak ayat dan hadist palsu yang dibuat untuk mensesatkan kaum muslim atau ayat yang mentafsirkan sepenggaal-sepenggal [...]
Thu, 20.11.2008 02:20
kalau kakbah hanya sebagai kiblat..berarti sah-sah saja ibada tidak menghadap kiblat..? kiblat kan bukan rumah [...]
Thu, 20.11.2008 01:50
eh yang bangsat itu loe!!! itu bisa jadi akibat/gambar kekerasan tentara atau kaum kafir yang menjajah dan membantai [...]