Jalan dari ‘iman’ ke pencerahan terdiri dari tujuh lembah.
Lembah pertama adalah Kaget
(Shock/Kejut). Setelah membaca Quran, pemikiran saya tersentak kaget.
Saya mendapatkan diri saya berhadapan muka dengan kebenaran dan saya
takut utk menatapnya. Pastinya bukan itu yang saya harapkan utk saya
tatap. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, mengutuk atau memaki
siapa-siapa. Saya temukan kemustahilan dari Islam dan ketidak manusiaan
‘Pengarang’ Quran dengan membacanya. Dan saya Kaget. Hanya,
kekagetan/Kejutan inilah yg membuat saya sadar dan berhadapan dengan
kebenaran. Sayangnya, hal ini adalah sebuah proses yg sulit dan
menyakitkan. Para pengikut Muhammad harus melihat Kebenaran Nyata dan
mereka haruslah terkejut. Kita tidak bisa terus menerus menutupi
kebenaran dengan yang manis-manis. Kebenaran itu terasa pahit dan harus
diterima. Fakta2 itu sangat keras kepala, tidak mau pergi2. Hanya
dengan demikianlah proses pencerahan bisa dimulai.
Karena setiap orang itu tingkat sensitivitasnya berbeda, yang
dirasakan sebagai shock bagi orang lain mungkin bukan shock bagi yang
lainnya. Tapi bahkan sebagai seorang lelakipun saya shock ketika
membaca bahwa Muhammad memerintahkan pengikutnya utk memukul istri2
mereka dan menyebut wanita itu “kurang pintar.” Tapi saya sudah
mengenal banyak wanita muslim yang tidak sulit menerima perintah ini.
Bukan karena mereka itu ‘kurang pintar’ atau mereka percaya bahwa
penghuni neraka itu kebanyakan wanita hanya karena nabi bilang begitu,
tapi karena mereka menjegal, memblok informasi tsb. Mereka baca tapi
tidak meresapinya. Mereka dalam mode penyangkalan. Tindakan
penyangkalan berlaku sebagai perisai yang menutupi dan melindungi
mereka, yang membantu mereka menghadapi sakitnya realitas. Sekali saja
perisai itu dilepas, tak ada satupun yang bisa mengembalikannya. Pada
titik ini kepercayaan mereka harus diserang dari segala arah. Kita
harus membombardir mereka dengan ajaran mengejutkan lainnya dari Quran.
Mereka mungkin punya titik kelemahan. Itulah yang diperlukan: Shock
yang tepat. Shock itu menyakitkan tapi bisa menyelamatkan. Shock
dipakai dokter utk mengembalikan kehidupan pada para pasien.
Utk pertama kalinya, internet telah mengubah Keseimbangan Kekuatan.
Sekarang kekuatan brutal senjata, penjara dan pasukan pembunuh tidak
berdaya dan ‘tinta’ jauh lebih berbahaya. Utk pertama kalinya, para
muslim tidak bisa menghentikan kebenaran dengan membunuh pembawa
pesannya. Sekarang banyak diantara mereka bersentuhan dengan kebenaran
dan merasa tdk berdaya. Mereka ingin membungkam suara ini tapi tidak
bisa. Mereka ingin membunuh pembawa pesan, tapi tidak bisa. Mereka
mencoba mem-ban (melarang) situs2 yang mengungkapkan agama sesembahan
mereka; kadang mereka berhasil sementara, tapi kebanyakan gagal. Saya
membuat sebuah situs utk mengajar muslim tentang islam yang sebenarnya.
Saya pasang di tripod.com. Para islamis memaksa tripod utk menutupnya
dan secara pengecut eksekutif Tripod memenuhi keinginan mereka. Saya
dirikan domain dan situs saya lagi dalam waktu dua minggu saja. Dg
demikian, cara kuno dengan membunuh murtadin, membakar buku2 mereka,
dan membungkam dengan teror tidak bisa dipakai lagi. Mereka tidak bisa
mencegah orang utk membaca. Meski situs saya dilarang si Saudi Arabia,
Emirat dan banyak negara2 lain, sejumlah besar muslim yang tidak pernah
tahu kebenaran tentang islam telah dikenalkan dengan kebenaran utk
pertama kalinya, dan terkaget-kaget.
Saya bertemu seorang wanita di internet yang telah masuk islam, ia
mulai memakai jilbab. Dia punya situs web dengan fotonya yang tertutup
dengan cadar hitam bersama dengan kisahnya tentang bagaimana dia
menjadi muslim. Dia sangat aktif dan suka memberi nasihat pada yang
lain agar jangan membaca situs saya. Tapi, ketika dia membaca kisah
dari Safiyah, wanita yahudi yang ditangkap Muhammad dan diperkosa
dihari yang sama ketika ayah, suami serta kerabatnya dibunuh, dia
terkaget-kaget. Dia bertanya pada muslim lain tentang ini, tapi
percuma. Pintu itu terbuka dan dia tertendang keluar dari ruang
pembodohan. Dia terus menulis pada saya dan bertanya-tanya. Akhirnya,
dia mampu meliwati tahap2 mulai dari percaya buta hingga kepada
pencerahan dengan sangat cepat dan berterima kasih pada saya karena
telah membimbing dia melalui jalan yang berliku itu. Dia menarik diri
dari situsnya di Yahoo! Islamic club.
Jika orang tahu tentang kehidupan najisnya Muhammad dan
kemustahilan dari Quran, mereka kaget. Saya ingin menelanjangi Islam:
menulis kebenaran tentang hidup najisnya Muhammad, kata2 kebenciannya,
pengakuan tak berdasarnya; dan membombardir muslim dengan fakta2.
Mereka akan marah, mengutuk, menghina dan bilang bahwa setelah membaca
artikel2 saya iman mereka MAKIN KUAT. Tapi itulah saatnya saya tahu
bahwa saya telah menanam bibit keraguan dalam benak mereka. Mereka
bilang semua ini karena mereka kaget dan telah masuk TAHAP
PENYANGKALAN. Bibit keraguan telah tertanam dan akan tumbuh berkembang.
Pada diri sebagian orang itu akan memakan waktu tahunan, tapi jika
dibiarkan akan tumbuh membesar pada akhirnya.
Ragu adalah berkat terbesar yang bisa kita berikan pada satu sama
lain. Ragu adalah Berkat bagi Pencerahan. Keraguan akan membebaskan
kita, akan memajukan pengetahuan dan akan mengungkap misteri2 jagat
raya.
Salah satu rintangan utk dilalui adalah tradisi dan nilai2 yang
salah yang dimasukkan dalam diri kita selama ribuan tahun berdirinya
Islam. Dunia masih menghargai agama dan menganggap bahwa keraguan
adalah pertanda kelemahan. Orang2 banyak membicarakan orang2 beriman
dengan rasa kekaguman dan menghina orang yang lemah iman. Kita
diperkosa oleh nilai2 kita sendiri.
Keraguan, dilain pihak, punya arti sebaliknya. Artinya adalah
berkemampuan untuk berpikir mandiri, bertanya dan menjadi skeptis. Kita
berhutang sains dan peradaban modern kita pada orang2 (lelaki dan
wanita) yang meragukan banyak hal – bukan mereka yang percaya banyak
hal. Mereka yang ragu itulah yang menjadi pionir/pelopor; mereka
Pemimpin2 Pemikiran Baru. Mereka filsuf2; pencipta2 dan penemu2. Mereka
yang percaya, yg hidup dan mati sebagai pengikut, sedikit sekali atau
malah bisa dibilang tidak menyumbang pada kemajuan sains dan pengertian
umat manusia.
Setelah dikejutkan, atau mungkin secara simultan, penyangkalan.
Mayoritas muslim akan terjebak dalam penyangkalan ini. Mereka tidak
bisa dan tidak mau mengakui bahwa Quran Cuma tipu-tipu belaka. Mereka
jungkir balik mencoba menjelaskan hal yang tidak bisa dijelaskan,
jungkir balik mencoba menemukan mukjijat didalamnya dan akan rela
membengkokkan semua aturan logika utk membuktikan bahwa Quran itu
benar.
Setiap kali mereka terkena efek kejut dari pernyataan mengejutkan
dalam Quran atau tindakan menjijikan yg dilakukan Muhammad, mereka
ngumpet dalam penyangkalan. Ini yang kulakukan dalam fase pertama
‘Perjalanan’ saya. Penyangkalan adalah tempat aman. Ketidak relaan utk
mengakui bahwa anda telah ditendang dari ‘ruang pembodohan’. Anda
mencoba utk kembali, tidak mau mengambil langkah pertama utk menjauhi
pintu ruang itu. Dalam penyangkalan anda menemukan zona nyaman. Dalam
penyangkalan anda tidak merasa tersakiti, segala sesuatu oke oke saja;
segala sesuatu is fine.
Kebenaran itu sangat menyakitkan, khususnya jika orang telah
terbiasa dijauhkan dari kebenaran sepanjang hidupnya. Tidak mudah bagi
seorang muslim untuk melihat Muhammad apa adanya. Ini sama seperti
bilang pada anak kecil bahwa ayahnya adalah seorang penjahat besar,
pemerkosa dan pencuri. Anak yang mengidolakan ayahnya tidak akan mampu
menerima hal itu, meskipun jika semua bukti2 nyata ditunjukkan padanya.
Kejutannya akan sangat besar hingga yang mampu dia lakukan hanya
menyangkal. Dia akan menyebut anda pembohong, membenci anda hingga
ingin menyakiti anda, mengutuk, menganggap musuh, bahkan akan meledak
dalam kemarahan dan membunuhmu.
Ini adalah TAHAP PENYANGKALAN. Sebuah mekanisme Self-Defense
(Pertahanan Diri). Jika rasa sakit terlalu besar, penyangkalan akan
menghilangkannya. Jika seorang ibu diberitahu anaknya mati dalam
kecelakaan, reaksi pertama dia sering berupa penyangkalan. Disaat
bencana besar menimpa, orang biasanya diliputi oleh rasa letih dan
merasa bahwa semua itu hanya mimpi buruk dan pada akhirnya dia nanti
akan bangun dan segalanya oke-oke saja. Sayangnya, fakta itu keras
kepala dan tidak mau pergi. Orang bisa saja hidup dalam penyangkalan
utk sementara tapi cepat atau lambat kebenaranlah yang harus dia
terima.
Muslim diselimuti oleh kebohongan. Karena bicara hal yang menentang
Islam bisa dihukum mati, tak seorangpun berani mengatakan kebenaran.
Mereka yang melakukannya tidak hidup lama. Mereka dengan cepat
dibungkam. Jadi bagaimana bisa anda tahu kebenaran jika semua yang anda
dengar Cuma kebohongan2? Disatu pihak Quran mengklaim sebagai mukjijat
dan menantang setiap orang utk membuat Surah sepertinya:
“Dan jika
kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada
hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an
itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang
yang benar.” Q2.23
Tapi lalu memerintahkan pengikutnya utk membunuh siapa saja yang berani
mengkritik atau menantangnya. Jika anda berani mengambil tantangan dan
membuat surah sejelek Quran, anda akan dituduh telah mengejek Islam,
dimana hukumannya adalah mati. Dalam atmosfir ketidak jujuran dan
penipuan ini, kebenaran jadi korbannya.
Rasa sakit karena berhadapan dengan kebenaran dan menyadari semua
yg kita percaya Cuma bohong sangatlah menyengsarakan. Mekanisme dan
cara alami satu-satunya utk menghadapi itu hanya penyangkalan.
Penyangkalan menghilangkan rasa sakit. Sebuah berkat yang membuat
nyaman, meski seperti menyembunyikan kepala dalam tanah belaka.
Orang tidak bisa hidup dalam penyangkalan selamanya, cepat atau
lambat malam akan tiba dan dingin akan menyelimutinya dan akhirnya anda
sadar bahwa anda sudah ditendang dari ruang pembodohan. Pintu telah
tertutup dan kunci telah dibuang. Anda tahu terlalu banyak. Anda orang
buangan. Dengan gentar anda menatap jalan yang berliku yang samar-samar
dalam temaram sinar ketidak menentuan, dan pelahan anda terpaksa
mengambil langkah pertama kearah ‘takdir tak dikenal’. Anda menggapai
dan tersandung-sandung, mencoba tetap fokus. Tapi rasa takut
menyelimuti anda dan tiap kali mencoba lari balik ke ‘ruangan’ itu anda
sekali lagi berhadapan dengan pintu yang tertutup.
Mayoritas muslim hidup dalam penyangkalan. Mereka tinggal didalam
ruang pembodohan. Mereka tidak bisa keluar atau lari dari situ. Mereka
yang ada paling dalam adalah mereka yang tidak pernah beranjak pergi.
Yang disediakan bagi orang2 ‘beriman’, mereka yang tidak pernah ragu
setitikpun, mereka yang tidak mau berpikir. Mereka percaya apa saja.
Jika dikatakan malam itu siang dan siang itu malam, akan ditelan
mentah2 oleh mereka. Mereka percaya begitu saja bahwa Muhammad naik ke
surga ketujuh, bertemu Tuhan, membelah bulan dan bicara dengan para
jin.
Para orang percaya in itidak akan pernah bisa melihat kebenaran
jika mereka secara permanen ditutupi oleh kebohongan. Semua yang mereka
dengar selama ini Cuma kebohongan bahwa Islam itu baik dan kalau saja
para muslim mempraktekan islam sejati, dunia akan menjadi surga; bahwa
masalah2 dalam islam adalah kesalahan orang2nya (muslim). Ini semua
bohong. Kebanyakan orang2 muslim adalah orang2 baik. Mereka tidak lebih
buruk atau lebih baik dari orang lainnya. Islamlah yang membuat mereka
melakukan kekejian2. Para muslim yang melakukan kekejian itulah yang
sungguh2 islam sejati. Islam memunculkan insting kejahatan didalam diri
orang. Semakin islami seseorang, semakin haus darah orang itu, semakin
penuh kebencian dan semakin menjadi zombie orang tsb.
Ingin sekali saya menyangkal semua yang kubaca ini. Saya ingin
percaya bahwa arti sesungguhnya dari Quran itu bukan begini, tapi tidak
bisa. Saya tidak bisa lagi membodohi diri sendiri dengan bilang bahwa
ayat2 tidak manusiawi ini diartikan keluar konteks. Quran tidak punya
konteks. Ayat2nya berjubelan, berdesakan secara acak, kadang tidak ada
koherensi satu sama lain.
Mereka yang baca artikel saya dan tersakiti akan apa yang saya
katakan tentang Quran dan Islam sebenarnya beruntung. Mereka bisa
menyalahkan saya. Mereka bisa membenci saya, mengutuk dan mengarahkan
semua kemarahan mereka pada saya. Tapi, ketika saya membaca Quran dan
mempelajari isinya, saya tidak bisa menyalahkan siapapun. Setelah
meliwati TAHAP KEJUTAN DAN PENYANGKALAN, saya bingung dan menyalahkan
diri sendiri. Saya membenci diri kenapa memakai otak, kenapa meragukan
hingga menemukan kesalahan dari sesuatu yang saya anggap sebagai
perkataan Tuhan.
Seperti muslim lain, saya dibohongi dan menerima saja semua
kebohongan, kemustahilan dan ketidak manusiawian. Saya dibesarkan
sebagai orang yang religius. Saya percaya semua yang diajarkan.
Kebohongan2 ini diberikan pada saya pelahan2 dalam dosis2 kecil, sejak
masa kanak2. Saya tidak pernah diberi alternatif lain utk perbandingan.
Ini sama seperti vaksinasi. Saya kebal akan kebenaran. Tap ketika mulai
baca Quran secara serius sampai tamat dan mengerti apa isinya, saya
merasa pusing. Semua kebohongan2 itu mendadak muncul dihadapan saya.
Saya pernah mendengar semuanya dan menerima begitu saja. Dulu
pemikiran rasional saya beku. Saya jadi tidak sensitif pada
kemustahilan dari Quran. Ketika saya menemukan hal yang tidak masuk
akal, saya kesampingkan dan bilang pada diri sendiri, kita harus lihat
gambarannya secara luas. Gambaran Luas tsb, ternyata tidak ditemukan
dimanapun kecuali dalam benak bodoh saya belaka. Saya menggambarkan
Islam yang sempurna; jadi semua kemustahilan tidak mengganggu saya
karena saya tidak perhatikan. Ketika saya baca seluruh Quran, saya
menemukan gambaran yang sangat berbeda dari yang ada dalam benak saya
selama ini. Gambaran baru islam muncul dari halaman2 Quran yang keji,
tidak toleran, irasional, arogan; jauh dari islam agama damai,
kesetaraan dan toleransi.
Dalam kemustahilan ini, saya harus menyangkal agar tetap waras.
Tapi sampai berapa lama saya bisa menyangkal kebenaran ketika kebenaran
itu bersinar begitu terangnya seperti matahari diwajah saya? Saya
menbaca Quran Arab agar tidak bisa menyalahkan terjemahan. Lalu saya
baca terjemahannya. Saya sadar banyak terjemahan yang tidak begitu
tepat. Para penterjemah berusaha keras menyembunyikan ketidak
manusiawian dan kekejian Quran dengan memelintir kalimat dan
menambahkan perkataan mereka sendiri dalam kurung utk memperlunaknya.
Quran Arab jauh lebih mengejutkan dari yang terjemahan.
Saya bingung dan tidak tahu harus lari kemana. Iman saya terguncang
dan dunia saya jatuh bangun. Saya tidak bisa lagi menyangkal yang saya
baca. Tapi, saya tidak mau menerima kemungkinan bahwa ini semua hanya
kebohongan besar. Gimana bisa begitu, saya bertanya terus, gimana bisa
begitu banyak orang tidak melihat kebenaran tapi saya melihatnya?
Gimana bisa orang besar seperti Jalaladin Rumi tidak melihat Muhammad
sebagai penipu dan Quran sebagai tipuannya, tapi saya bisa melihatnya?
Saat itu lah saya memasuki TAHAP RASA BERSALAH.
Rasa salah ini berbulan2 membebani saya. Saya benci diri sendiri
karena berpikiran seperti ini. Saya merasa Tuhan sedang menguji saya.
Saya malu. Saya bercakap-cakap dengan orang2 terpelajar yang saya
percaya, orang yang bukan saja berpengetahuan banyak tapi yang saya
pikir juga bijaksana. Yang saya dengar sedikit sekali menyejukkan hati
saya. Salah seorang malah menyarankan jangan dulu baca Quran utk
sementara. Dia bilang sholatlah dan baca buku2 yang menguatkan iman
saya saja. Saya lakukan itu, tapi tidak membantu. Pemikiran tentang
kemustahilan, kekejian dan keanehan ayat2 Quran terus berputar2 dalam
pemikiran saya. Tiap kali melihat lemari buku dan menatap Quran, saya
merasa sakit didalam diri. Saya ambil dan sembunyikan dibelakang buku
lain. Saya pikir jika tidak memikirkannya utk beberapa waktu, pemikiran
negatif saya akan hilang dan iman saya akan kembali lagi. Tapi tidak
begitu. Saya menyangkal sebisa saya, sampai tidak sanggup lagi. Saya
terkejut, bingung, merasa bersalah dan semua itu sangat menyakitkan.
Perioda rasa bersalah ini berakhir terlalu lama. Satu hari saya
memutuskan CUKUP!! Saya bilang ini bukan salah saya. Saya tidak mau
menanggung rasa salah ini terus menerus, memikirkan hal2 yang tidak
masuk akal saya. Jika Tuhan memberi otak pada saya, ini karena Dia
kepingin saya memakainya. Jika yang saya anggap benar dan salah
dibanding Quran ternyata terbalik-balik, maka itu bukan salah saya.
Dia mengatakan pembunuhan itu salah, dan saya
tahu itu salah karena saya sendiri tidak mau dibunuh. Lalu kenapa
UtusanNya membunuh begitu banyak orang tak bersalah dan memerintahkan
pengikutnya membunuh mereka yang tidak percaya?
Jika pemerkosaan itu salah, dan saya tahu itu salah karena saya tidak
mau hal itu terjadi pada orang yang saya cintai, lalu kenapa Nabi Allah
memperkosa para wanita yang tertangkap dalam perang?
Jika perbudakan itu salah, dan saya tahu itu salah karena saya juga
tidak suka kehilangan kebebasan dan jadi budak, lalu kenapa nabinya
Tuhan memperbudak begitu banyak orang dan membuat dirinya kaya dengan
menjual para budak itu?
Jika memaksakan agama itu salah, dan saya tahu itu salah karena
saya juga tidak mau orang lain memaksa saya masuk agama dia, lalu
kenapa Nabi menyerukan Jihad dan memerintahkan para pengikutnya untuk
membunuh orang kafir, merampas harta mereka dan membagikan wanita serta
anak2 sebagai rampasan perang?
Jika Tuhan mengatakan sesuatu itu baik, dan saya tahu itu baik
karena terasa baik bagi saya dan semua orang, lalu kenapa NabiNya
melakukan kebalikan dari semua itu?
Ketika rasa salah ini terangkat dari pundak saya, cemas, kecewa dan
sinisme muncul. Saya merasa sedih karena telah membuang percuma banyak
tahun2 dalam hidup saya, dan sedih pada semua muslim yang masih
terperangkap dalam kepercayaan bodoh ini, sedih bagi mereka yang telah
kehilangan nyawanya dalam nama doktrin palsu ini, sedih bagi para
wanita di semua negara islam yang menderita segala macam aniaya dan
tekanan. Mereka itu bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang dianiaya.
Terpikir oleh saya semua perang yang dilakukan atas nama agama –
begitu banyak orang mati sia-sia. Jutaan muslim meninggalkan rumah dan
kerabat utk berperang atas nama Allah, tidak kembali, mereka pikir
mereka sedang menyebarkan iman Allah. Mereka membantai jutaan orang tak
bersalah. Peradaban dihancurkan, perpustakaan dibakar dan begitu banyak
pengetahuan hilang – semuanya utk kesia-siaan. Saya ingat ayah bangun
subuh2 setiap hari dan dengan air sedingin es ketika musim dingin ia
memaksakan diri melakukan wudhu. Sasya ingat pulang ke rumah kelaparan
dan kehausan selama bulan puasa, dan saya pikir jutaan orang yang
menyiksa diri mereka dengan puasa, semuanya sia-sia belaka. Kesadaran
bahwa semua yang saya percayai ternyata kebohongan dan semua yang saya
lakukan Cuma kesia-siaan, dan fakta bahwa jutaan orang masih
terperangkap dalam gurun kebodohan mengejar fatamorgana yang kelihatan
seperti air, sangatlah mengecewakan.
Sebelum itu, Tuhan selalu ada dalam pikiran saya, saya biasa bicara
padaNya dalam imajinasi saya dan percakapan itu terasa nyata bagi saya.
Saya pikir Tuhan sedang mengawasi dan mencatat setiap tindakan baik
yang saya lakukan. Perasaan ada yang mengawasi, membimbing langkah dan
melindungi saya, sangatlah nyaman. Sulit sekali utk menerima bahwa
ternyata tidak ada yang namanya ALLAH, misalnya ada Tuhan itu, pastilah
bukan ALLAH SWT. Saya tidak berhenti percaya pada Tuhan, tapi sejak
saat itu saya yakin bahwa jika jagat ini ada penciptanya, pastilah
bukan makhluk yang dipuja Muhammad, yang digambarkan Muhammad. Allah
terlalu bodoh, bodoh hingga ketulang-tulangnya. Quran penuh kesalahan.
Tidak mungkin pencipta Jagat begitu bodohnya, sebodoh Tuhannya Quran.
Allah tidak mungkin ada dimana-mana, Allah cuma ada diotaknya orang
gila belaka Saya mengerti bahwa Allah Cuma isapan jempol imajinasi
Muhammad, tidak lebih dari itu. Betapa mengecewakan sekali bagi saya
ketika sadar bahwa saya telah sekian tahun berdoa pada sebuah khayalan.
Perasaan hilang dan kecewa ini ditemani oleh rasa sedih dan semacam
rasa depresi, seakan dunia saya runtuh, saya merasa tanah tempat saya
berdiri menghilang dan saya jatuh kedalam jurang yang tak berdasar.
Tanpa membesar-besarkan, saya merasa ada dalam neraka.
Saya kebingungan, minta-minta tolong, tapi tak ada yang bisa
menolong. Saya malu akan pemikiran saya dan benci diri saya karena
berpikir demikian. Rasa salah ini muncul bersamaan dengan rasa
kehilangan dan depresi. Biasanya saya seorang yang berpikir positif,
saya lihat sisi baik dalam segala hal. Saya selalu berpikir hari esok
akan lebih baik dari hari ini. Saya bukan semacam orang yang mudah
depresi. Tapi, perasaan kehilangan ini sangat meluap-luap. Saya masih
ingat rasa berat dalam hati saya. Saya pikir Tuhan telah meninggalkan
saya dan saya tidak tahu kenapa Dia berbuat demikian. “Apakah ini
Hukuman Tuhan?” Saya terus bertanya diri demikian. Saya tidak ingat
pernah menyakiti siapapun. Saya berusaha menolong orang2 yang hidupnya
bersinggungan dengan hidup saya dan yg meminta tolong. Jadi, kenapa
Tuhan ingin menghukum saya dengan cara ini? Apa dia menguji saya? Lalu
dimana jawaban dari doa2 saya? Jika saya lulus apakah akan jadi bodoh
dan berhenti pake otak? Jika demikian, utk apa dia kasih saya otak?
Apakah hanya orang bodoh saja yang lulus test keimanan ini?
Saya merasa dikhianati dan diperkosa. Saya tidak bisa bilang
perasaan mana yang lebih dominan. Kadang saya kecewa, sedih atau cemas.
Bahkan jika iman itu palsu, tetap saja terasa manis. Sangatlah nyaman
utk percaya saja.
Mensejajarkan perasaan sedih dan kehilangan, saya merasa
terbebaskan. Anehnya saya tidak lagi merasa bingung atau bersalah. Saya
tahu dengan pasti Quran itu Tipuan dan Muhammad itu penipu.
Utk menaklukan rasa sedih ini saya mencoba menyibukkan diri dengan
aktivitas lain. Bahkan saya ambil les dansa dan merasakan bagaimana
hidup itu sebenarnya, bebas dari rasa bersalah, menikmati kehidupan dan
menjadi normal. Saya sadar betapa banyak yang saya tidak dapatkan dan
betapa bodohnya telah menghalangi diri dari kesenangan2 yg sederhana
sekalipun. Tentu saja, penyangkalan adalah cara kultus melingkup
pengaruh pada pengikutnya. Saya menyangkal diri sendiri dari kesenangan
sederhana sekalipun, hidup dalam rasa takut akan Tuhan yang terus
menerus, dan saya pikir itu normal2 saja. Saya bicara tentang
kesenangan seperti tidur sampai pagi, berdansa, berteman bebas tanpa
pilih gender atau ras, menyeruput segelas anggur dll.
Dititik ini, saya memasuki tahap lain dari perjalanan spiritual
saya menuju pencerahan. Saya menjadi marah. Marah karena telah percaya
kebohongan2 itu selama bertahun-tahun, menyia-nyiakan begitu banyak
tahun2 kehidupan saya mengejar hantu. Marah pada budaya saya yang
mengkhianati saya, karena nilai2 salah yang mereka tanamkan; pada orang
tua saya karena mengajarkan sebuah kebohongan; pada diri sendiri karena
tidak berpikir dari dulu, karena percaya kebohongan, karena percaya
pada seorang penipu; pada Tuhan karena membiarkan saya, tidak bertindak
dan menghentikan kebohongan yang dilakukan dalam nama Dia.
Ketika saya melihat gambaran jutaan muslim yang, dengan begitu
penuh pengabdian, pergi ke Saudi Arabia, malah banyak dari mereka yg
menghabiskan tabungan mereka utk melakukan Ibadah Haji. Say amarah pada
kebohongan yang membesarkan orang2 ini. Ketika saya baca ada orang yang
mualaf, sesuatu yang sangat disuka muslim utk digembar-gemborkan
kemana-mana dan menjadi isu besar, saya jadi sedih dan marah. Saya
sedih utk jiwa malang itu dan marah pada kebohongan2 yang membuatnya
terperangkap.
Saya marah pada dunia yang mencoba melindungi kebohongan ini, yang
membelanya bahkan menganiaya orang yang berani angkat suara utk
mengatakan yang sebenaranya. Bukan Cuma orang muslim, bahkan orang
barat sekalipun yang tidak percaya Islam. Oke-oke saja mengkritik
apapun, asal jangan mengkritik Islam. Yang mengherankan saya dan
membuat saya tambah marah adalah perlawanan yang saya dapati ketika
mencoba memberitahu orang lain bahwa Islam bukan kebenaran.
Untungnya, kemarahan ini tidak lama. Saya tahu Muhammad bukan
Utusan Tuhan tapi tukang tipu-tipu, seoarng demagog yang niatnya adalah
membodohi orang dan memuaskan ambisi narsisisnya belaka. Say atahu
semua kisah2 kekanak-kanakan tentang neraka dng api hebatnya dan surga
dg sungai arak, susu dan madu adalah khayalan orang sakit, liar, tidak
waras dan keji dari orang yang sangat butuh utk mendominasi dan
memastikan otoritasnya sendiri.
Saya sadar saya tidak bisa marah pada orang tua saya; karena mereka
melakukan yang terbaik utk mengajarkan saya apa yang mereka pikir
terbaik. Saya tidak bisa marah pada masyarakat atau budaya karena
orang2 saya juga sama salah informasinya seperti orang tua dan saya
sendiri. Setelah memikirkan ini, saya sadar setiap orang menjadi
korbannya. Ada lebih dari semilyar korban. Bahkan mereka yang menjadi
pelaku sekalipun sebenarnya adalah korban islam juga. Bagaimana bisa
saya salahkan muslim jika mereka sendiri tidak tahu apa yang dimaksud
Islam dan secara jujur mereka percaya, meski salah, bahwa islam adalah
agama damai?
Bagaimana dengan Muhammad? Apa saya harus marah padanya karena
berbohong, menipu dan menyesatkan orang? Bagaimana bisa saya marah pada
orang mati? Muhammad adalah orang sakit yang tidak bisa mengontrol
dirinya sendiri. Dia dibesarkan sebagai yatim dalam rawatan lima orang
tua yang berbeda-beda sebelum dia mencapai umur delapan tahun. Segera
setelah dia dekat pada seseorang, dia dilepaskan dan diberikan pada
orang lainnya lagi. Ini pastilah sulit baginya dan mengubah emosinya.
Sebagai anak kecil, kekurangan cinta dan sayang, dia tumbuh dengan rasa
takut dan kurang percaya diri. Dia menjadi seorang narsisis. Narsisis
adalah orang yang tidak cukup menerima cinta dimasa kanak-kanaknya,
yang tidak mampu mencintai malah lapar perhatian, penghormatan dan
pengenalan. Dia melihat dirinya pantas dipandang oleh orang lain
sekeinginan dia. Tanpa pengenalan demikian dia bukan siapa-siapa. Dia
menjadi seorang manipulator dan pembohong yang menyedihkan.
Orang narsisis adalah Pemimpi Hebat. Mereka ingin menaklukan dunia
dan mendominasi semua orang. Hanya dalam angan megalomania merekalah
rasa narsisisme itu dipuaskan. Beberapa narsisis terkenal adalah
Hitler, Mussolini, Stalin, Saddam Husein, Idi Amin, Pol Pot dan Mao.
Orang Narsisis biasanya pintar, tapi secara emosi hancur. Jauh didalam
dirinya mereka adalah orang2 ‘terganggu’. Mereka mengeset tujuan yang
sangat tinggi. Tujuan mereka selalu berhubungan dengan dominasi,
kekuasaan dan penghormatan. Mereka bukan siapa-siapa jika diacuhkan.
Orang narsisis sering mencari pembenaran utk memaksakan kuasa mereka
terhadap korban2 tak berdaya mereka. Bagi Hitler adalah partai dan ras.
Bagi Mussolini adalah fasisme atau Kesatuan Bangsa melawan bangsa lain.
Bagi Muhammad adalah agama.
Penyebab2 ini adalah alat semata bagi usaha mereka mencari
kekuasaan. Alih-alih mengenalkan dirinya, orang narsisis mengenalkan
tujuan, ideologi atau agama sambil menyebutkan bahwa dirinya menjadi
satu-satunya otoritas dan wakil dari tujuan2 itu. Hitler tidak meminta
orang Jerman utk mencintai dirinya sebagai pribadi tapi mencintai dan
menghormatinya karena dia seorang Fuhrer. Muhammad tidak meminta orang
utk mematuhinya. Tapi, dia dg mudah menuntut pengikutnya mematuhi Allah
dan UtusanNya. Tentu saja, Allahnya Muhammad Cuma alter ego dirinya
sendiri, jadi semua pengabdian sebenarnya ditujukan pada dirinya.
Dengan cara ini Muhammad bisa menerapkan kuasa atas hidup semua orang
dengan bilang bahwa Dia adalah wakil Tuhan dan apa yang dia katakan
adalah yang diperintahkan Tuhan.
Muhammad adalah orang keji tanpa perasaan. Ketika dia merasa orang
Yahudi tidak berguna lagi buatnya, dia berhenti menghormat mereka dan
memusnahkan mereka semua. Dia membantai semua lelaki Bani (Suku)
Quraiza dan mengusir atau membunuh yahudi2 atau kristen2 lain dari
Arabia. Pastinya jika Tuhan mau memusnahkan orang2 ini dia tidak perlu
pertolongan utusanNya.
Dg demikian, saya lihat tidak ada alasan utk marah pada orang ‘gila
dan sakit’ yang sudah mati dulu kala ini. Muhammad sendiri menjadi
korban dari budaya bodoh bangsanya, korban kebodohan ibunya yang tidak
memberi dia kasih saya ketika dia sangat membutuhkannya, malah
memberikannya pada wanita Bedouin yang membesarkannya semata hanya agar
ibunya itu tidak terhalangi dan bisa mendapatkan suami baru.
Saya tidak bisa mengkritik atau menyalahkan orang2 Arab abad 7 yang
bodoh karena tidak bisa membedakan Muhammad itu orang ‘sakit’ bukannya
nabi, bahwa janji2 keterlaluannya, mimpi2 hebatnya itu semua hanya
keinginan Muhammad belaka, disebabkan oleh komplikasi emosi patologis
dan bukan karena kuasa Yang Maha Tinggi. Bagaimana bisa saya
menyalahkan Arab2 bodoh itu karena mereka jadi krban orang seperti
Muhammad, padahal abad kemarin saja jutaan orang Jerman jadi korban
yang sama oleh Karisma Narsisis lain, yang seperti Muhammad, membuat
janji2 besar dan sama2 kejinya, sama-sama manipulatif dan ambisiusnya?
Setelah dipikirkan dengan lama dan berat, saya sadar tidak ada satu
orangpun yang bisa jadi sasaran kemarahan saya. Saya sadar kita semua
adalah korban dan sekaligus dikorbankan. Biang kerok dari semua ini
adalah kebodohan. Karena kebodohan kita sendiri yang percaya pada Dukun
Lepus dan dusta2nya, membuat mereka bisa menaburkan benci diantara kita
dalam nama Tuhan, Ideologi dan agama Palsu. Kebencian ini yang
memisahkan kita satu sama lain dan mencegah kita dari kesatuan dan
pengertian bahwa kita semua adalah sama-sama umat manusia, saling
tergantung satu sama lain.
Saat itulah kemarahan saya hilang dan berganti dengan perasaan
empati, sayang dan cinta. Saya berjanji pada diri sendiri untuk melawan
kebodohan yang memisahkan umat manusia ini. Kita telah membayar dan
masih membayar besar atas perpecahan kita. Perpecahan ini disebabkan
oleh kebodohan dan kebodohan adalah hasil dari kepercayaan palsu dan
ideologi jahat yang ditanamkan oleh orang yang secara emosi tidak sehat
dan punya tujuan pribadi.
Ideologi memisahkan kita. Agama menyebabkan perpecahan, benci,
perang, pembunuhan dan antagonisma. Sebagai anggota umat manusia, kita
tidak perlu ideologi, sebab atau agama utk bersatu.
Saya sadar bahwa tujuan hidup bukan untuk percaya tapi utk
meragukan. Saya sadar bahwa tak seorangpun bisa mengajar kita kebenaran
karena kebenaran tidak bisa diajarkan. Kebenaran hanya bisa dialami.
Tidak ada agama, filosofi atau doktrin yang bisa mengajar anda
kebenaran. Kebenaran ada dalam cinta yang kita punya bagi sesama
manusia, dalam tawa anak2, dalam persahabatan, dalam pertemanan, dalam
cinta antara orang tua dan anaknya dan dalam hubungan kita satu sama
lain. Kebenaran bukan ada dalam ideologi. Satu2nya yang nyata hanyalah
Cinta.
Proses dari iman menuju pencerahan adalah proses berliku dan
menyakitkan. Saya pinjam istilah dari sufisme dan menamakan tujuh
“Lembah” Pencerahan - Iman adalah kondisi yang pasti dalam
kebodohan/ketidak tahuan. Anda akan terus berada dalam kondisi ini
sampai anda dikejutkan dan dipaksa keluar dari dalamnya. Kejutan ini
adalah “Lembah Pertama”
Reaksi alami pertama dari kejutan ini adalah penyangkalan. Penyangkalan
itu seperti perisai. Menahan rasa sakit dan melindungi anda dari derita
karena keluar dari daerah nyaman. Daerah nyaman dimana kita merasa
enak, akrab, tidak menemui tantangan2 baru atau yang tidak dikenal. Ini
adalah “Lembah Kedua”.
Pertumbuhan tidak terjadi dalam daerah nyaman. Utk maju dan berkembang
serta tumbuh kita perlu keluar dari daerah nyaman ini. Kita tidak akan
melakukan itu kecuali kita dikejutkan. Juga alami sekali utk menahan
rasa sakit kejutan itu dengan penyangkalan. Saat beginilah kita perlu
kejutan lain, dan kita mungkin memutuskan melindungi diri lagi dengan
penyangkalan lain. Semakin banyak orang dihadapkan dengan fakta dan
kejutan, semakin sering dia mencoba utk melindungi dirinya dengan
penyangkalan2.
Tapi penyangkalan tidak menghilangkan fakta2. Cuma melindungi kita
sementara saja. Ketika kita dihadapkan pada fakta, pada titik tertentu
kita tidka bisa terus menerus menyangkal. Mendadak kita tidak akan bisa
melindungi diri lagi, dan perisai penyangkalan akan hancur. Kita tidak
bisa terus menerus sembunyi. Sekali saja keraguan muncul, akan terjadi
efek domino dan kita mendapatkan diri kita diserang dari semua arah
dengan fakta2 yang sebelumnya kita hindari dan sangkal. Mendadak semua
kemustahilan2 yang sebelumnya kita terima bahkan bela tidak lagi logis
diotak kita dan kita mulai menolaknya.
Kita ditarik kedalam tahap menyakitkan yaitu Kebingungan dan ini adalah “Lembah Ketiga”.
Kepercayaan lama terasa tidak masuk akal, bodoh dan tidak bisa
diterima, kita tidak punya pegangan lagi. Lembah ini, saya kira, adalah
tahap yang paling menderita dalam perjalanan ini. Dilembah ini kita
kehilangan iman kita tanpa/sebelum mendapatkan pencerahan. Kita berdiri
sendiri tidak tahu dimana. Kita serasa terjun bebas. Kita meminta
tolong tapi yang didapat hanya omong kosong2 yang itu-itu saja.
Sepertinya mereka yang mau menolong kita itu sendiri sedang tersesat,
tapi mereka seperti yakin diri. Mereka percaya apa yang mereka tidak
tahu. Argumen2 mereka tidak logis sama sekali. Mereka minta kita
percaya tanpa banyak tanya. Mereka memberi contoh iman orang lain. Tapi
intensitas iman orang lain itu bukanlah bukti kebenaran dari apa yang
mereka percaya.
Kebingungan ini akhirnya menuntun kita ke “Lembah Keempat”,
Rasa Salah. Anda merasa salah karena berpikir demikian. Anda merasa
bersalah karena telah meragukan, telah mempertanyakan, telah tidak
mengerti. Anda merasa telanjang dan malu akan pemikiran2 anda. Anda
pikir ini semua salah anda sendiri jika kemustahilan yang ditampilkan
dalam Kitab Suci tidak masuk akal anda. Anda pikir Tuhan meninggalkan
anda atau dia sedang menguji anda. Dalam lembah ini anda dirobek-robek
oleh emosi dan intelektualitas anda. Emosi tidaklah rasional, tapi
sangat kuat. Anda ingin kembali ke ‘Ruang Pembodohan’: anda mati-matian
ingin percaya, tapi tidak bisa. Anda telah berdosa karena berpikir.
Anda telah memakan buah Kholdi, buah terlarang dari pohon Pengetahuan.
Anda membuat marah Tuhan imajinasi anda.
Akhirnya anda memutuskan tidak perlu lagi merasa salah karena
pengertian2 belaka. Rasa salah ini bukan milik anda. Anda merasa
dibebaskan tapi sekaligus dilingkupi rasa sedih utk semua kebohongan
yang membuat anda ada dalam kebodohan dan membuang2 waktu. Inilah Lembah Kelima,
Kekecewaan. Disaat yang sama anda dilingkupi rasa sedih. Anda merasa
bebas, tapi seperti baru keluar dari penjara seumur hidup anda merasa
depresi berat. Anda merasa kesepian dan, meski telah bebas, anda merasa
kehilangan sesuatu. Anda merenungkan waktu2 yang terbuang. Anda pikir
banyak orang percaya kebohongan dan secara bodoh mengorbankan segala
sesuatu utk itu, termasuk nyawa mereka. Sejarah ditulis dengan darah
orang yang terbunuh dalam nama Allah atau Tuhan2 lain. Semuanya
sia-sia. Semuanya utk sebuah kebohongan!
Saat itulah anda memasuki “Lembah Keenam”:
Kemarahan. Anda menjadi marah pada diri anda, dan pada segalanya. Anda
sadar betapa banyak hidup berharga anda sia-siakan dalam banyak
kebohongan.
Lalu anda sadar bahwa andalah yang beruntung telah sanggup berjalan
sekian jauh dan bahwa ada banyak ratusan juta lain yang masih
terkungkung dalam penyangkalan dan tidak berani keluar dari daerah
nyaman mereka. Mereka masih berputar-putar di Lembah Pertama. Pada
tahap ini anda sepenuhnya bebas dari agama, iman, rasa salah dan
amarah, anda siap utk mengerti Kebenaran Mutakhir dan mengungkap
misteri2 kehidupan. Anda penuh dengan empati dan rasa sayang. Anda siap
untuk dicerahkan. Pencerahan datang ketika anda sadar bahwa kebenaran
itu ada dalam cinta dan hubungan kita dengan sesama umat manusia bukan
dalam sebuah agama dan kultus. Anda sadar bahwa Kebenaran itu adalah
Dataran tak berjalan. Tidak ada nabi atau guru bisa mengantar anda
kesana. Anda sebenarnya sekarang sudah ada disana, di Lembah Ketujuh, Lembah Pencerahan.