Thursday, October 2. 2008
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=27432Dari buku Kumpulan kesaksian para Murtadin:
WHY WE LEFT ISLAM
(Kenapa kami meninggalkan islam)
http://www.nydailynews.com/gossip/2008/04/17/2008-04-17_why_we_left_is lam_may_face_muslim_wrath.html
http://www.prweb.com/releases/2008/04/prweb885574.htm
Saya lahir dari keluarga yang cukup religius. Dari pihak Ibu malah
punya kerabat yang jadi Ayatollah. Meski kakek (yang tak pernah
kulihat) agak sedikit skeptis, tapi kami semua orang percaya. Orang
tuaku tidak begitu suka pada para mullah. Malah, kami jarang gaul
dengan kerabat2 yang fundamentalis. Kami suka berpikir bahwa keluarga
kamilah yg “Islam sejati,” bukan yang diajarkan dan dipraktekan oleh
para mullah.
Saya ingat waktu diskusi agama dengan suami bibi saya, umur saya
baru 15 tahun. Dia muslim fanatik yang sangat peduli akan Hukum Islam.
Hukum ini mengatur bagaimana muslim menjalankan hidupnya, sholat,
puasa, serta kehidupan umum dan pribadinya sehari-hari, berbisnis,
membersihkan diri, memakai WC bahkan bersetubuh sekalipun. Saya
mendebat bahwa semua itu tidak ada hubungannya dengan “Islam Sejati”,
bahwa itu semua Cuma karangan para mullah belaka, perhatian yang
berlebihan terhadap fiqh menghilangkan akibat dan kepentingan dari
pesan2 murni Islam – yaitu utk menyatukan umat manusia dengan
penciptanya.. Pandangan ini kebanyakan diilhami oleh Sufisme. Banyak
orang Iran, berkat puisi2 nya Rumi, sangat suka akan sufisme hingga
tingkat tertentu.
Pada masa muda saya, saya memperhtaikan diskriminasi dan kekejian
terhadap pengikut agama minoritas di Iran. Ini lebih terlihat lagi
dikota kecil dimana tingkat pendidikannya rendah dan para Mullah lebih
berkuasa atas orang2 yang mudah dibohongi ini. Karena Pekerjaan ayah
saya, kami tinggal beberapa tahun dikota kecil, jauh dari ibu kota.
Saya ingat salah seorang guru renang, dimana kami sangat senang sekali
dan menunggu-nunggu pelajaran renang ini, melarang dua orang anak
(mereka Baha’i dan Yahudi). Sang guru melarang mereka berenang
bersama-sama kami, katanya mereka dilarang berenang dikolam yang sama
dengan para muslim. Saya tidak akan pernah lupa roman muka kecewa dua
anak itu ketika dilarang berenang, ketika mereka pulang dengan
menangis, pasrah dan sakit hati. Diumur sekian itu, mungkin 9 atau 10
tahun, saya tidak mengerti dan ikut sedih atas ketidak adilan ini. Dulu
itu saya pikir salah anak itu sendiri kenapa ngga jadi muslim.
Saya beruntung punya orang tua yang pikirannya agak terbuka, yang
mengajarkan saya utk berpikir kritis. Mereka mengajarkan dan menanamkan
rasa cinta Tuhan dan UtusanNya, tapi sambil tetap mempertahankan nilai2
kemanusiaan seperti kesetaraan hak antara lelaki perempuan, dan cinta
bagi seluruh umat manusia. Intinya, demikianlah keluarga2 modern Iran
diajarkan, mayoritas muslim berpendidikan percaya bahwa Islam adalah
agama manusiawi yang menghargai HAM, yang mengangkat status wanita dan
membela Hak2 mereka. Kebanyakan muslim percaya bahwa islam artinya
damai. Tak perlu dikatakan, sedikit sekali dari mereka yang membaca dan
mengerti Quran.
Saya menghabiskan masa muda saya dalam mimpi2 manis ini, membela
“Islam Sejati” seperti yang saya pikir sudah seharusnya saya lakukan,
dan mengkritik para Mullah serta penyimpangan2 mereka dari ajaran asli
Islam. Saya mengidealisasikan islam yang sesuai dengan nilai2 kemanusiaan yang saya bentuk.
Tentu saja Islam khayalan saya adalah islam yang indah. Sebuah agama
yang damai dan menyetarakan seluruh umat manusia. Sebuah agama yang
mendorong para pengikutnya utk mengejar ilmu pengetahuan dan haus akan
rasa ingin tahu. Agama yang selaras dengan sains dan akal. Malah, saya
pikir sains itu diilhami dari islam. Islam yang saya percaya adalah
sebuah agama yang bertaburan dengan sains modern, yang pada akhirnya
membuahkan hasil di negara2 barat dan membuat penemuan2 modern
dihasilkan dan dimungkinkan. Islam, saya percaya, adalah penyebab utama
dari peradaban modern sekarang ini. Alasan kenapa bukan muslim yang
menemukan dan kenapa muslim hidup dalam ketidak tahuan yang menyedihkan
akan ilmu pengetahuan, saya pikir, karena salah para mullah yang
self-centered dan para pemimpin agama yang menafsirkan ajaran asli
Islam demi keuntungan pribadi mereka sendiri.
Banyak muslim percaya bahwa peradaban Barat yang hebat itu akarnya
adalah dari Islam. Mereka menyebut-nyebut pemikir2 sains timur Tengah
yang hebat2 yang menyumbangkan hal2 penting bagi kelahiran dari sains
modern. Omar Khayyam adalah matematikawan yang besar yang mengukur
panjangnya waktu setahun persis 0.74 persen hingga kedetiknya. Zacharia
Razl dianggap sebagai salah seorang pelopor sains empirik yang
mendasarkan pengetahuannya pada riset dan eksperimen. Ensiklopedia
Kedokteran dari Avicenna yg monumental diajarkan diuniversitas2 Eropa
selama berabad-abad. Ada banyak sekali ilmuwan2 hebat yang punya nama
“Islam” yang menjadi pionir/pelopor dari sains modern ketika Eropa
masih dalam Zaman Kegelapan. Seperti semua muslim, saya percaya bahwa
semua ilmuwan2 yang disebutkan itu adalah muslim, bahwa mereka
mendapatkan ilmu pengetahuannya itu dari Quran, dan jika saja sekarang
ini para muslim bisa kembali mendapatkan ajaran murni Islam, maka
zaman2 keemasan islam itu akan kembali dan para muslim akan memimpin
dunia kembali dalam hal ilmu dan peradaban.
Iran adalah negara muslim, tapi juga negara yang korup. Kesempatan
masuk universitas sangat kecil. Hanya satu dari 10 pelamar yang bisa
masuk. Sering mereka terpaksa belajar dijurusan yang tidak mereka suka
hanya karena mereka tidak punya nilai cukup utk jurusan yang mereka
inginkan. Para pelajar yang punya koneksi sering mendapatkan jurusan
yang populer.
Standar pendidikan di Iran tidaklah ideal. Universitas kurang dana,
karena pemerintah lebih suka membangun militer yang kuat daripada
membangun infrastuktur negara dan berinvestasi dalam pendidikan
warganya. Inilah alasan2 kenapa ayah saya pikir lebih baik saya keluar
Iran dan belajar dinegara lain.
Kami mempertimbangkan Amerika dan Eropa, tapi ayah, karena nasihat
dari teman religiusnya, berpikir bahwa negara islam akan lebih baik
bagi anak umur 16 tahun. Kami diberitahu bahwa Moralitas di barat
terlalu longgar, orang2 jadi aneh, pantai2 penuh orang telanjang, dan
mereka minum minuman keras serta gaya hidupnya berantakan, semuanya
bahaya bagi anak muda. Jadinya saya dikirim ke Pakistan, dimana
orang2nya religius dan jadinya aman serta bermoral. Teman dari keluarga
bialng Pakistan sama dengan Inggris, kecuali lebih murah doang.
Ini, tentunya, terbukti tidak benar. Saya mendapatkan orang2
Pakistan sama tidak bermoral dan korupnya seperti orang Iran. Ya,
mereka religius. Mereka tidak makan babi dan saya tidak melihat ada
yang minum alkohol dimuka umum, tapi saya perhatikan banyak yang
berpikiran kotor, berbohong, munafik, kejam pada wanita dan terlebih,
penuh kebencian akan orang2 India. Saya tidak mendapatkan mereka lebih
baik dari orang Iran dalam hal apapun. Mereka religius tapi tidak
bermoral dan tidak beretika.
DiUniversitas, bukannya mengambil jurusan Urdu, saya ambil Budaya
Pakistan utk melengkapi tingkat FSc (Fellow of Science) saya. Saya
mempelajari alasan pemisahan Pakistan dari India dan utk pertama kali
kudengar tentang Mohammad Ali Jinah, orang2 Pakistan menyebutnya Qaid-e
A’zam, Pemimpin Besar. Dia ditampilkan sebagai orang pintar, Bapak
Bangsa, sementara Gandhi disebut dalam cara yang menyepelekan. Bahkan
saat itupun saya tidak bisa tidak harus berpihak pada Gandhi dan tidak
suka Jinnah sebagai orang sombong, ambisius ayng menjadi biang keladi
perpecahan sebuah negara dan menyebabkan kematian jutaan orang. Saya
selalu punya pemikiran sendiri dan saya cukup percaya diri dalam
pemikiran itu. Apapun yang diajarkan pada saya, saya selalu
menyimpulkan kesimpulan sendiri dan tidak percaya begitu saja apa yang
dikatakan.
Saya tidak melihat perbedaan agama sebagai alasan sah utk
memisahkan sebuah negara. Kata “Pakistan” itu sendiri merupakan hinaan
bagi orang India. Orang2 Pakistan menyebut diri mereka Pak (Bersih) utk
membedakan mereka dari orang India yang adalah najis (kotor).
Ironisnya, saya tidak pernah melihat orang sejorok orang Pakistan, baik
secara fisik maupun menatl. Mengecewakan sekali melihat sebuah negara
islam dengan kebangkrutan intelektual dan moral sedemikian parah. Dalam
diskusi dengan teman, saya gagal meyakinkan tentang “Islam Sejati”.
Saya mengutuk kefanatikan dan fanatisme mereka sementara mereka tidak
setuju dengan pandangan2 ‘tidak islami’ saya.
Saya sampaikan ini semua pada ayah dan memutuskan utk belajar di
Italia. Di Italia, orang minum arak dan makan babi, tapi mereka lebih
ramah tamah, menyambut dan tidak munafik dibanding muslim. Saya lihat
orang mau menolong tanpa mengharapkan imbalan. Saya bertemu pasangan
manula yang sangat ramah, yang mengundang makan siang dihari minggu
agar saya tidak sendirian dirumah. Mereka tidak menginginkan apapun
dari saya. Mereka Cuma ingin membagi kebahagiaan mereka. Saya dianggap
cucu mereka. Hanya seorang asing yang berada dinegara asing, yang tidak
kenal siapa2 dan tidak bisa bicara bahasa mereka, yang bisa sungguh2
menghargai nilai pertolongan dan keramahan dari orang2 lokal.
Rumah mereka sangat bersih cemerlang, dengan lantai marmer yang
mengkilat. Ini mengkontradiksi gagasan saya tentang orang barat. Meski
keluarga saya sangat terbuka terhadap orang lain, Islam mengajarkan
bahwa non muslim adalah najis (QS 9.2
dan kita tidak boleh berteman dengan mereka. Saya masih punya Quran
terjemahan Farsi yang suka saya baca. Salah satu ayat yg saya garis
bawahi adalah:
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi
dan Nasrani menjadi teman-teman (mu); sebahagian mereka adalah teman
bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka
menjadi teman, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
lalim.” (QS 5.51)
Saya sulit mengerti “bijaknya” ayat demikian. Saya membayangkan kenapa
tidak boleh berteman dengan pasangan yg baik ini yang tidak punya motif
lain dalam menunjukkan keramahan mereka selain agar saya merasa betah.
Saya pikir merekalah yang patut disebut “Muslim Sejati” dan saya
mencoba membicarakan masalah agama, berharap mereka bisa melihat
kebenaran islam dan memeluknya. Tapi mereka tidak tertarik dan dengan
sopan mengganti subjek pembicaraan. Saya tidak begitu bodoh utk percaya
begitu saja bahwa semua kafir akan masuk neraka. Say baca ini dalam
Quran sebelumnya tapi tidak pernah ingin memikirkan lebih jauh
tentangnya. Saya hanya mengabaikannya saja. Tentu saja, saya tahu bahwa
Tuhan akan senang jika ada orang yang mengenal utusanNya tapi tidak
pernah berpikir bahwa Dia akan sangat kejam utk membakar seseorang
dineraka selamanya, bahkan jika orang itu hanya berlaku baik sekalipun,
Cuma karena dia bukan muslim belaka. Saya baca peringatan berikut:
“Barang
siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk
orang-orang yang rugi.” QS 3.85
Tapi saya tidak mengindahkan itu dan mencoba meyakinkan diri sendiri
bahwa arti sebenarnya bukanlah demikian. Saat itu ini bukanlah sebuah
subjek yang siap utk saya tangani atau pikirkan, jadi tidak begitu saya
indahkan.
Saya nongkrong dengan teman2 muslim dan melihat kebanyakan hidup
tidak bermoral dan berstandar ganda. Kebanyakan punya pacar dan
meniduri mereka. Itu sangat tidak islami, atau saya pikir demikian saat
itu. Yang mengganggu saya adalah mereka tidak menghargai para pacar
mereka itu sebagai manusia yg patut. Para gadis ini bukan muslim maka
Cuma mereka pakai utk seks saja. Sikap ini bukan sikap umum muslim,
para muslim yang kurang religius justru menunjukkan sikap hormat dan
jujur terhadap pacar barat mereka bahkan ada yang sungguh2 mencintai
dan ingin menikahi mereka. Sebaliknya, mereka yang religius Cuma
pura-pura setia terhadap pacar mereka. Saya selalu berpikir bahwa
“islam sejati” itu adalah yang Benar. Jika suatu hal itu tidak
bermoral, tidak jujur tidak etis, atau keji, maka tidak mungkin itu
islam. Saya tidak melihat bahwa tingkah laku tidak bermoral dan tidak
berperasaan para muslim adalah hasil dari yang diajarkan islam.
Bertahun kemudian, saya sadar bahwa kebenaran sesungguhnya adalah
sebaliknya. Saya menemukan banyak ayat yang sangat mengganggu saya dan
membuat saya mengubah selurup pendapat saya akan islam. Seperti saya
lihat, tragedinya adalah orang yang sama ayng hidup tidak etis dan
tidak bermoral adalah mereka yang menyebut diri mereka muslim, rajin
sholat, puasa dan yang pertama marah dan membela islam jika orang
mempertanyakannya. Merekalah orang yang akan ngamuk dan mulai mengajak
berkelahi jika ada orang berani menghina atau menentang islam.
Pernah saya berteman seorang Iran di kantin Universitas, belakangan
mengenalkan dia kepada dua teman muslim saya. Kami hampir sebaya. Dia
sangat terpelajar, saleh dan bijak. Dua teman saya kagum akan karisma
dan nilai2 moral dia. Kami suka menunggunya dan duduk disebelah dia
ketika waktu makan, karena kami selalu belajar sesuatu darinya. Kami
makan banyak spagheti dan risotto dan sangat rindu akan makanan Persia,
ghortrie sabzi dan cielow. Teman kami itu bilang ibunya mengirim
makanan kering dan mengundang kerumahnya minggu nanti utk makan. Kami
melihat kamar dia sangat bersih, tidak seperti kamar2 kami. Dia membuat
Ghorme Sabzi yang sangat lezat, yang kami makan dengan rakus, lalu kami
duduk ngobrol sambil menyeruput the. Saat itulah saya perhatikan buku2
Baha’i berjejer disana. Ketika kami tanya, dia bilang dia pengikut
Baha’i
Hal itu tidak mengusik saya sama sekali, tapi dijalan waktu pulang
kedua teman saya bilang tidak mau berteman lagi dengan dia. Saya
terkejut dan bertanya kenapa? Mereka bilang karena dia Baha’i maka dia
itu Najis, kalau saja tahu sebelumnya dia itu Baha’i mereka tidak mau
datang dan berteman dengannya. Saya bingung dan bertanya2 kenapa mereka
pikir dia itu najis padahal sebelumnya kita memuji-muji kebersihan dia.
Sebelumnya kami semua setuju bahwa moral dia jauh lebih tinggi dari
pemuda2 muslim yang kami kenal, jadi kenapa sikap mereka mendadak
berubah begini? Respon mereka sangat mengusik nurani saya. Kata mereka
nama Baha’i itu sendiri mengandung arti yang membuat mereka tidak suka
agama ini. Tahu tidak mengapa semua orang membenci Baha’i? Tanya
mereka. Saya tidak tahu, dan bilang bahwa saya suka semua orang. Tapi
karena mereka tidak suka atau membenci Baha’i, mungkin mereka harus
menjelaskan alasannya kenapa. Mereka sendiri ternyata tidak tahu! Orang
ini adalah Pengikut Baha’i pertama yang mereka kenal baik dan
sebelumnya jadi panutan contoh mereka, saya ingin tahu kenapa mereka
berbalik sikap. Tidak ada alasan khusus, kata mereka. Tapi mereka Cuma
tahu bahwa Baha’i itu jelek.
Saya senang tidak meneruskan persahabatan saya dengan dua orang
bigot ini. Dari mereka saya belajar bagaimana prasangka buruk itu
berbentuk dan bekerja.
Belakangan saya sadar bahwa prasangka buruk dan kebencian yang ada
pada diri muslim terhadap semua non muslim bukanlah hasil dari salah
tafsir ajaran Quran, tapi justru karena Buku Sial ini mengajarkan
kebencian dan mendorong prasangka buruk. Para muslim yang ke mesjid dan
mendengarkan khotbah2 terpengaruh demikian. Ada banyak sekali ayat2
dalam Quran yang menyerukan orang Percaya agar membenci kafir, melawan
mereka, menyebut mereka najis, menaklukan dan mempermalukan mereka,
memotong kepala dan tangan mereka, menyalibkan mereka dan membunuh
mereka dimanapun ditemukan.
Saya simpan agama dibelakang rumah utk beberapa tahun. Bukan karena
pandangan saya tentang agama telah berubah atau saya tidak menganggap
diri saya religius lagi. Hanya saya sibuk hingga tidak punya waktu utk
menyisakan waktu memikirkan agama. Sementara itu saya sedikit demi
sedikit mulai mengerti tentang demokrasi, HAM dan nilai2 kemanusiaan
lain, seperti HAM antara lelaki dan wanita, dan saya suka semua yang
saya dapatkan ini. Apa saya sholat? Jika sempat, tapi tidak fanatik.
Lagi pula, saya hidup dan bekerja dinegara bArat dan tidak mau terlihat
terlalu berbeda.
Satu hari, saya memutuskan bahwa sudah waktunya utk memperdalam
pengetahuan saya akan Islam serta membaca sekaligus mengerti Quran
sampai Tamat (sebelumnya hanya membaca saja, qatham, tanpa mengerti
artinya). Saya punya Quran arab dan terjemahan Inggrisnya. Sebelumnya
hanya Quran Arab saja. Kali ini saya pelajari semua, dari cover depan
sampai cover belakang.
Saya baca ayatnya dalam huruf Arab, lalu baca terjemahannya, lalu
kembali ke arabnya lagi, saya tidak maju ke ayat berikutnya sebelum
saya benar2 puas dan mengerti maksudnya baik dalam Arab maupun dalam
terjemahannya.
Tidak terlalu lama bagi saya menemukan ayat2 yang sulit utk saya terima. Salah satu ayat itu adalah:
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa
yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang
siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa
yang besar.” (QS 4.4
Saya sulit menerima bahwa Gandhi akan dibakar dineraka selamanya karena
dia seorang politeis tanpa harapan diampuni, sementara seorang muslim
pembunuh punya harapan diampuni Allah. Ini mengangkat pertanyaan yang
mengusik saya: Kenapa Allah begitu kebelet utk dipuja dan dikenal
sebagai satu-satunya Tuhan? Jika tidak ada Tuhan selain Dia, ngapain
repot2? Saingan ama siapa Dia sebenarnya? Kenapa dia mesti ribut2
mengenai apakah orang kenal dia dan menyembah dia atau tidak?
Sekarang karena saya tinggal di barat dan punya banyak teman barat
yang baik, suka pada saya, terbuka hati dan rumahnya utk saya dan
menerima saya sebagai teman mereka, sulit sekali utk menerima bahwa
Allah tidak menginginkan saya berteman dengan mereka.
“Janganlah
orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi teman dengan
meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya
lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara
diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan
kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).”
(QS 3.2
Bukankah Allah juga pencipta orang kafir? Bukankah Dia itu Tuhan utk
semua orang? Kenapa harus jahat pada kafir? Bukankah lebih baik jika
muslim berteman dengan kafir dan mengajar mereka islam dengan contoh2
yg baik? Dengan membuat kita menjaga jarak dan jauh dari kafir, jurang
ketidak mengertian tidak akan dijembatani. Bagaimana bisa kafir belajar
tentang islam jika kita tidak bergaul dengan mereka? Ini adalah
pertanyaan2 yang berputar dikepala saya. Jawaban dari pertanyaan2 ini
muncul dari ayat yang sangat mengganggu benak. Perintah Allah adalah
untuk:
“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka” (QS 2.191)
Saya teringat teman2 saya, ingat kebaikan mereka dan sayang mereka
pada saya, dan membayangkan Kok bisa Tuhan Sejati meminta orang
membunuh orang lainnya hanya karena orang itu tidak eprcaya. Ini tidak
masuk akal, tapi konsep ini diulang2 begitu sering dalam Quran hingga
tidak ada keraguan lagi tentang itu. Dalam ayat 8.65, Allah mengatakan
pada sang Nabi:
“Hai
Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada
dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat
mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang
sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada
orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak
mengerti.” (QS 8.65)
Saya membayangkan kenapa Allah mengirim utusanNya utk berperang.
Bukankah seharusnya Tuhan mengajar kita agar saling mencintai satu sama
lain dan toleran akan agama satu sama lain? Dan jika Allah sungguh2
peduli utk membuat orang2 percaya padanya hingga dia tega menyuruh
bunuh jika mereka tidak percaya, kenapa bukan Dia sendiri saja yang
membunuh mereka langsung? Kenapa meminta kita utk melakukan Pekerjaan
KotorNya? Apa kita ini Tukang Pukulnya Allah?
Meski saya tahu tentang Jihad dan tidak pernah mempertanyakan
sebelumnya, saya temukan sulit utk diterima Tuhan akan memaksakan
kekerasan demikian pada orang2. Yang lebih mengejutkan lagi adalah
kekejaman Allah ketika menangani kafir:
“Kelak
akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka
penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.”
(QS 8.12)
Kelihatannya Allah tidak cukup puas dengan membunuh kafir doang; dia
menikmati penyiksaan mereka sebelum membunuh mereka. Memenggal kepala
orang, memotong ujung2 jari mereka adalah tindakan yang sangat biadab.
Apa Tuhan sungguh2 memberi perintah demikian? Tapi itu belum apa2, yang
lebih parah lagi adalah kebiadaban yg dia janjikan terhadap kafir
dineraka nanti.
Gimana bisa pencipta Jagat Raya begitu kejamnya? Saya kaget mendapati bahwa Quran menyuruh Muslim untuk:
-Membunuh kafir dimanapun mereka ditemukan (Q 2.191)-
-membunuh mereka dan memperlakukan mereka dengan keras (9.123),
- memerangi mereka (8.65)
- sampai tidak ada agama lain selain Islam (2.193),
- mempermalukan mereka dan memaksakan mereka pajak khusus jika mereka kristen atau yahudi (9.29),
- membunuh mereka jika mereka penyembah berhala (9.5),
- menyalibkan atau memotong tangan dan kaki mereka dan mengusir mereka dari kampung mereka dengan dipermalukan.
Dan seakan semua ini belum cukup, Muslim diberitahu bahwa kafir itu
-akan mendapatkan hukuman berat diakhirat nanti (5.34),
- jangan berteman dengan ayah atau saudara mereka sendiri jika mereka itu kafir (3.28; 9.23),
- bunuh keluarga sendiri jika mereka murtad dan
- berjihadlah melawan mereka dengan jihad yang besar (25.52)
- Keraslah pada mereka karena tempat mereka dineraka jahanam (66.9)
Gimana bisa orang waras tidak tergerak hatinya ketika membaca ayat Quran yang mengatakan: “Apabila
kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher
mereka” (Q 47.4)? dan setelah “dikalahkan, tawanlah mereka dan minta
tebusan”.
Saya juga tersentak kaget mendapatkan bahwa Quran menolak kebebasan
agama bagi semua orang dan dengan jelas dinyatakan bahwa Islam adalah
satu-satunya agama yang diterima (Q3.85). Allah menyatakan bahwa mereka
yang tidak percaya Quran akan masuk neraka (5.11) dan menyebut mereka
najis (9.2 .
Dia bilang kafir akan masuk neraka dan diberi minum air mendidih
(14.17). Lebih jauh lagi, “Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka
pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke
atas kepala mereka.” (Q22.19). Betapa sadisnya!
Buku Allah bilang wanita lebih rendah dari lelaki dan suami2 mereka
punya hak memukul istri (4.34), dan wanita akan masuk neraka jika tidak
patuh pada suami (66.10). Dikatakan lelaki punya kelebihan atas wanita
(2.228). Bukan saja menyangkal Hak wanita mengenai Warisan (4.11-12)
tapi juga menganggap mereka dungu dan menetapkan bahwa kesaksian mereka
(wanita) saja tidak berlaku di pengadilan (2.282). Ini artinya wanita
yg diperkosa tidak bisa menudup pemerkosanya kecuali dia bisa
menghadirkan saksi lelaki yg menyaksikan pemerkosaan itu terjadi, ini
tentu saja gila! Pemerkosa tidak akan memperkosa dihadapan saksi. Tapi
ayat yang paling mengejutkan adalah ketika Alloh mengijinkan muslim
untuk memperkosa tawanan wanita dalam perang, meski mereka (tawanan
wanita) itu sudah bersuami sebelum ditangkap (4.3,24). Sang nabi Suci
memperkosa wanita tercantik yang tertangkap dalam perampokkannya dihari
yang sama ketika dia bunuh suami dan kerabat2nya. Ini sebabnya kenapa
setiap kali tentara muslim menaklukan negara lain, mereka menyebut
orang2 itu kafir dan memperkosa wanita2nya.
Tentara Pakistan memperkosa hingga 250 RIBU (250.000) wanita
bengali tahun 1971 dan membantai TIGA JUTA (3.000.000) rakyat tak
bersenjata ketika ulama mereka menetapkan orang2 Bangladesh bukan
muslim (kafir). Itu sebabnya penjaga penjara di rejim Islam Iran
memperkosa wanita lalu membunuh mereka setelah menyebut mereka murtadin
dan musuh Allah.
Quran penuh ayat2 yang mengajarkan pembunuhan orang tidak percaya
(kafir) dan bagaimana Allah akan menyiksa mereka setelah mereka mati.
Tidak ada pelajaran moralitas, keadilan, kejujuran atau cinta. Pesan
satu-satunya Quran adalah utk percaya hadiah Seks tak Terhingga di
Surga dan mengancam mereka dengan api neraka. Ketika Quran ngomong
kebajikan, bukan berarti kebajikan yang kita biasa kenal, tapi
kebajikan yg artinya Percaya pada Allah dan utusanNya. Seorang muslim
bisa menjadi pembunuh dan membunuh non muslim tapi tetap menjadi orang
saleh. Tindakan baik Cuma sekunder belaka. Percaya Allah dan UtusanNya
menjadi tujuan Utama dari kehidupan seseorang manusia.
Setelah membaca Quran saya jadi depresi. Sulit menerima semua itu.
Pertamanya saya menyangkal dan mencari arti tersembunyi lain dari ayat2
keji Quran ini, semuanya sia-sia. Tidak ada kesalah pahaman! Quran
sangat penuh dengan ketidak manusiawian. Tentu saja juga berisi
penghujatan2 dan kemustahilan sains, tapi itu tidak berakibat banyak
pada saya dibanding dengan ayat2 keji itu. Kekejian dari buku ini lah
yang menyentak dan menggoyahkan dasar2/fondasi kepercayaan saya.
Setelah pengalaman pahit dengan Quran, saya mulai melakukan
perjalanan batin yang menyiksa. Saya ditendang keluar dari Ruang
kebodohan, dimana semua pertanyaan2 saya terjawab sudah. Diruang itu
dulu saya tidak perlu berpikir. Cukup percaya saja. Sekarang, pintu
masuk sudah tertutup bagi saya selamanya. Saya telah berkomitmen tuk
melakukan perbuatan yang sebelumnya mustahil meski utk dipikirkan saja.
Saya telah memakan buah terlarang, yaitu buah pengetahuan, dan mata
saya terbuka lebar. Saya bisa melihat semua buah2 pikiran yang keliru
dalam Islam dan juga melihat ketelanjangan saya sebelumnya. Saya tahu
saya tidak akan diijinkan masuk surga “Kebodohan” itu lagi. Sekali saja
anda mulai berpikir, anda tidak patut tinggal disana lagi. Cuma satu
jalan, KELUAR.
Jalan pencerahan terbukti lebih sulit meski diri saya telah saya
persiapkan. Jalannya licin, segunung penghalang utk dilalui dan banyak
jurang kesalahan utk dihindari. Saya berjalan di daerah asing
sendirian, tidak tahu apa yang akan saya temukan besok. Ini menjadi
Pengembaraan dalam dunia pengertian dan penemuan kebenaran, yang pada
akhirnya membawa saya ke tanah pencerahan dan kebebasan.
Saya akan membuat peta daerah asing ini bagi mereka semua yang
melakukan ‘dosa’ karena telah berpikir, bagi mereka yang mendapatkan
dirinya tertendang dari ruang pembodohan dan berada dijalan menuju
daerah tak dikenal.
Jika ragu, jika jubah kebodohan yang kau pakai mulai tersobek
sedikit demi sedikit dan akhirnya anda sadar telah telanjang, sadarlah
bahwa anda tidak bisa lagi tinggal diruangan pembodohan lebih lama
lagi. Anda telah diusir utk selamanya. Seperti bayi yang keluar dari
rahim ibunya, juga tidak bisa kembali, anda tidak akan bisa diterima
dalam ruang ‘pelupaan’ itu lagi. Dengarkan mereka yang pernah tinggal
disana dan jangan berpegangan pada pintu yang menutup. Pintu itu
terkunci rapat.
Tataplah kedepan, perjalanan anda masih panjang. Anda bisa terbang
ke tujuan anda atau anda bisa merangkak. Saya merangkak! Karena itu
saya kenal jalan ini dengan cukup baik. Saya akan gambarkan peta jalan
tersebut, hingga semoga saja anda tidak perlu lagi merangkak seperti
saya.
|