Google the Sitesupersized.orgStatisticRandom Quotes"Faith is, at one and the same time, absolutely necessary and altogether impossible."
|
Ahli perkawinan Saudi: Pernikahan Nabi dgn anak dibawah umurThursday, October 2. 2008
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=28478
Pernikahan Dini (Istri) Sang Nabi Oleh: Dallas M. Roark Ph.D http://www.answering-islam.org/Authors/Roark/marriage_one_year_old.htm Anda masih ingat kutipan wawancara dengan Dr. Ahmad Al-Mu’bi, pegawai pemerintah Saudi Arabia yang mengurus Pernikahan, yg ditayangkan oleh LBC TV pada tanggal 19 Juni 2008. Sumber: http://www.memritv.org/clip_transcript/en/1798.htm
Klik gambar untuk melihat dalam ukuran sebenarnya Dr. Ahmad Al-Mu’bi: Pernikahan sesungguhnya terdiri dari dua hal: Pertama kita membicarakan tentang kontrak pernikahan itu sendiri. Ini satu hal, sementara persetubuhan – seks dengan istri utk pertama kali - adalah hal lain lagi. Tidak ada umur minimal utk menikah, Anda boleh membuat kontrak nikah bahkan dengan bocah wanita satu tahun pun, apalagi dengan wanita 9, 7 atau delapan tahun. Ini Cuma kontrak perijinan belaka. Pelindung sang wanita dalam hal ini haruslah sang ayah, karena pendapat ayah adalah kewajiban. Dg demikian, si wanita jadi seorang istri… tapi apakah wanita itu siap utk seks tidak? Apa sih umur tepat utk melakukan seks pertama kali? Ini berbeda-beda sesuai lingkungan dan tradisi. Di Yaman, wanita2 menikah diumur 9, 10, 11, delapan atau 13 tahun, sementara dinegara lain, mereka menikah diumur 16 tahun. Dinegara2 lain telah ada undang-undang melarang seks sebelum gadis itu berumur 18 tahun.” Nabi Muhammad adalah model yang harus kita ikuti. Dia mengambil Aisha sebagai istrinya ketika Aisha berumur enam tahun, tapi melakukan seks dengannya hanya ketika Aisha berumur sembilan (9) tahun. Pewawancara: Ketika dia berumur enam tahun… Dr. Ahmad Al-Mu’bi: Dia menikahi Aisha diumur enam tahun dan melakukan kewajiban pernikahan, melakukan seks dengannya utk pertama kali ketika Aisha berumur sembilan. Kita anggap nabi Muhammad sebagai teladan kita.. ULASAN dari wawancara TV diatas : Sering sebuah tradisi budaya salah dan malah keji. Budaya Aztek, misalnya, membolehkan korban manusia. Dijaman Aztek dulu, diperkirakan 20.000 orang dijadikan korban setiap tahun. Hati mereka dicabut dan tubuh mereka dibuang kebawah piramid, persis seperti dalam adegan film ''Mel Gibson'', ''APOCALYPTO''. Tubuh-tubuh itu lalu dimakan oleh orang-orang Aztek. Dari sudut pandang BUDAYA (Aztek), ini dianggap sebagai hal yg BISA DITERIMA. TAPI dari sudut pandang RASIO, ini dianggap sebagai KEJAHATAN KEJI. Dimasa lalu ada juga budaya yang mengorbankan bayi baru lahir kepada Tuhannya, ''Moloch''. Sang pendeta Moloch memukuli tambur utk membuat tangis si bayi lebih keras lagi dan sang bayi itu dibakar sebagai korban bagi TUHAN MEREKA. Secara budaya ini bisa diterima, tapi secara rasio ini KEJAHATAN KEJI. Rasionalisasi macam apa lagi yang harus berlangsung terus dibenak orang2 yang membenarkan KEJAHATAN2 KEJI ini. Rasionalisasi macam apa yang dilakukan Muhammad ketika dia menikahi bocah enam tahun, lalu menunda seks sampai dia berumur sembilan tahun ? Dalam budaya muslim, Muhammad dianggap sebagai Suri Tauladan (''Insanul Kamil''). Di budaya non muslim orang semacam ini dianggap sebagai PEDOFIL. Jika kita memakai akal kita harusnya menerima penilaian rasional bahwa budaya tersebut itu salah. Muslim selalu akan menjawab dengan intimidasi, penghinaan atau ancaman, tapi mereka mati kutu kalau dihadapkan pada alasan melakukan seks dengan bocah umur sembilan tahun. Apapun yang dipikir Muhammad sebagai benar, secara medis MESTILAH SALAH bagi bocah perempuan 9 tahun melakukan seks (apalagi dengan kakek 53 tahun). Dan secara medispun kemungkinannya kecil utk hamil. Nasihat dari Dr. Ahmad Al-Mu’bi sangatlah jelek bagi anak2 perempuan. Saya bertanya seorang dokter 'OB-GYN (Obstetric-Gynecology) mengenai masalah seks bocah perempuan. Ini menurutnya: “Mengenai kehamilan dibawah 15 tahun, saya akan membagi masalah ini menjadi kategori dan risiko tambahan, ingat ini adalah risiko-risiko TAMBAHAN, diluar risiko-risiko NORMAL yang berlaku pada semua kehamilan. Semua risiko ini bertambah kecuali risiko Down Syndrome' (dan penyakit2 genetis yang berhubungan lainnya). Kategori: 1. Risiko Psikologis: Anak kecil yang melahirkan anak kecil adalah sesuatu yang sudah lama dielakkan dunia kedokteran. Situasi ini sangat berbahaya bagi sang ibu karena mencabut masa kanak-kanaknya. Sebelum dia bisa belajar mengenai hidup dan bereaksi secara tepat terhadap hidup itu sendiri, dengan kata lain, menjadi dewasa secara psikologis, ibu muda (sekali) ini ditempatkan dalam situasi orang dewasa. Rasa marah dan penolakan yang lama (bisa selama hidupnya) sangatlah umum muncul. Rasa pasrah seperti apa yang muncul disini bisa dijelaskan, bukan pasrah sebagai Rasa Nerimo, tapi lebih pada dipaksa dan ditekan oleh situasi... bukannya nerimo tapi terpaksa nerimo. Keahlian sebagai Orang Tua pun belum muncul untuk memomong bayi apalagi untuk mencintai dan menyayangi, ibu muda ini malah cenderung untuk membenci dan tidak mencintai bayinya, membiarkan bayi serta ibunya sekaligus dalam kekacauan perkembangan emosi yang parah. 2. Risiko Seksual bagi anak-anak: Menstruasi sekarang muncul kira-kira diumur 12 tahun. Kemampuan fisiologi untuk menjadi hamil sebelumnya tidak muncul. Risiko kontak seksual sebelum mens, misal saja diumur 9 sampai 11 tahun, muncul sebagai sebuah hasil dari rendahnya tingkat hormon estrogen. Risiko yang normal muncul adalah Trauma Vaginal, seperti robeknya tisu2 lain, akan sangat umum muncul hingga bagian vulva dan vaginal akan dipaksa melebar tanpa bisa kembali normal seperti pada wanita dewasa. Infeksi akan pasti muncul karena lemahnya jaringan tisu yang belum diperkuat oleh hormon estrogen ini. Kanker Cervic (leher rahim) akan lebih menyebar luas dan semakin muda sibocah perempuan, maka semakin luas pula penyebarannya. 3. Risiko Kehamilan Anak-anak, secara definisi, belum dewasa secara fisik. Karena itu sang ibu muda ini, meski dirawat baik sejak lahir, tetap bisa kena risiko melahirkan bayi prematur dengan berat badan bayi yang dibawah rata-rata. Ini bisa sangat berbahaya bagi bayi tsb karena meningkatnya risiko kerusakan otak dan mental. Bayi yang lahir dengan berat kurang dari normal punya risiko mati DUA PULUH KALI lebih banyak pada tahun pertamanya dibanding bayi normal. Karena pertumbuhan tulangnya belum lagi lengkap, risiko kerusakan cephalopelvic (tulang panggul) sang ibu muda sangat tinggi, karena bayi yang keluar jauh lebih besar dari kemampuan tulang panggulnya. Ini berakibat pada sulit dan lamanya kelahiran dan berakibat juga pada rusaknya sang bayi jika dipaksakan. Kemungkinan, karena nutrisi yang kurang, ibu-ibu muda kebanyakan keguguran dan bisa terkena penyakit Preeclampsia dan ‘kecelakaan-kecelakaan’ lainnya. Preeclampsia dan bentuk akhirnya, eclampsia, adalah sebuah penyakit yang khusus bagi kehamilan. Preeclampsia dicirikan dengan bertambahnya tekanan darah dan hilangnya protein dalam urine (proteinuria). Preeclampsia yang memburuk akan berkembang menjadi eclampsia, yang menambah serangan-serangan penyakit lain dengan symptom yang lebih kompleks. Saya sendiri melihat pasien mati karena eclampsia. Penyebab penyakit ini masih belum diketahui secara pasti. Sebenarnya masalah seks pada usia dini ini lebih panjang dari yang saya terangkan diatas, tapi mungkin ini cukup utk sementara.” Kesimpulan: Meski budaya menyetujui, membiarkan seorang bocah perempuan kawin dini tetap sebuah perbuatan yang sangat keji. Aisha tidak pernah hamil dan mungkin tertolong oleh karenanya. TAPI masalahnya adalah Muhammad telah MEMBERI CONTOH BURUK dan karenanya banyak Muslim menikahkan anak-anak perempuan mereka diusia sangat muda dan mengakibatkan penderitaan atas anak-anak muda tsb karena trauma seks dan kehamilan diusia sangat muda. Ini hanya satu contoh bagaimana wanita dieksploitasi dalam budaya Islam. Kesaksian Homa Darabi dan Parvin DarabiThursday, October 2. 2008
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=25825
Dari buku : WHY WE LEFT ISLAM Karya : Susan Crimp dan Joel Richardson http://lormarie.com/2008/05/07/why-we-left-islam-former-muslims-speak- out/ "Akhirnya dia memutuskan untuk memprotes penganiayaan wanita dengan cara membakar dirinya di alun-alun Teheran utara tanggal 21 February, 1994. Teriakan terakhirnya adalah: “Matilah Tirani! Hidup Kebebasan! Hidup Iran!” Tanggal 11 September 2001, dunia menyaksikan mentalitas fundamentalis islam abad 7 yang memperalat teknologi abad 21. Hasilnya adalah : bencana. Sifat kejam Islam tiba ditanah Amerika tanpa dapat dihilangkan dari benak kita semua. Banyak orang AS, ataupun orang Barat lain, tidak pernah memusingkan Islam sebelumnya. 9/11 mengubah semua itu; mempersembahkan Islam abad 7 kpd dunia Barat abad 21. Mendadak, Iran dan Irak tidak terasa jauh lagi dan orang2 Barat, khususnya kami orang AS, mendadak pula ingin belajar banyak tentang musuh tanpa wajah yang menyatakan perang terhadap kita dengan cara yang paling barbar. Kita berhadapan dng sebuah kekuatan mematikan yang sebelumnya kita pikir ada diujung bumi lain. Bom2 teroris yang cuma kita dengar di TV telah pindah dari Timur Tengah yang jauh ke halaman rumah kita. Pada tgl 11 September itu, wajah Islam sebenarnya menjadi pertanyaan Barat paling genting, pengalaman pertama mana meninggalkan rasa pahit dalam mulut Amerika. Parvin Darabi tidak cuma bicara tentang barbarnya Islam radikal yang dialami rakyat Amerika saat2 ini – Parvin malah hidup didalamnya jauh sebelum rubuhnya Menara Kembar WTC. Pada surat yang perih dan menyakitkan ini, dia menulis tentang saudarinya, Homa, yang berjuang keras melawan cengkraman kuat pemerintah islam iran. Hidup sebagai wanita membawa beban berat di Iran. Homa rela membayarnya. Sekarang Parvin yang meneruskannya, dan dia mendorong kita semua utk mencuekkan retorika 'islam agama damai' dan beralih memfokuskan pada realitas islam = agama kejam. Apa yang dialami Homa Darabi di Iran, satu hari nanti bisa sampai ke dunia Barat jika terorisme Islamofasis tidak dikalahkan. Kisah Homa adalah sebuah contoh spesifik cara kerja sebuah pemerintah islam – dan bagaimana hal itu tidak akan pernah bisa berfungsi didunia non-Muslim manapun. Saudariku Saudariku, Dr. Homa Darabi, lahir di Teheran, Iran bulan Januari 1940, lahir prematur dua bulan dari ibu Eshrat Dastyar, pengantin bocah yang dinikahi ketika umur 13 kpd Esmaeli Darabi. Homa adalah kakak perempuanku, pelindungku dan panutanku. Hidup Homa penuh dgn harapan dan janji2 bahwa sistem islam fundamental dan tiran suatu saat akan dihancurkan. Tentu saja, saudariku tidak pernah membayangkan apa yang akan dia hadapi ketika dia menyelesaikan SMP dan SMA di Teheran. Dia langsung masuk Jurusan Kedokteran Universitas Teheran setelah lulus tes masuknya tahun 1959. Sebuah pencapaian yang luar biasa dan yang membuat keluarga sangat bangga. Homa adalah orang pertama dari 150 orang dari puluhan ribu pelajar yang ikut tes dan menjadi satu dari 300 orang yang diterima di Kedokteran. Sbg perempuan muda yang penuh semangat dan rasa gembira, ia sangat aktif dalam kancah politik dan berharap suatu hari bisa membela HAM dan persamaan status utk wanita di Iran. Mimpinya sangat terlihat ketika dia masih di SMA dan selama tahun2 pertamanya di Kedokteran. Tapi perjalanannya tidaklah mudah. Th. 1960, dia ditangkap dan ditahan, karena ikut protes pelajar melawan rejim Shah Iran. Rejim ini sangat ganas khususnya terhdp para pelajar dan anak2 muda yang mulai menuntut kebebasan berekspresi, berkumpul dan mengemukakan pendapat. Tahun 1963, saudariku menikah dg teman kelasnya, Manoochehr Keyhani, sekarang ini seorang hematologis terkenal. Mereka melahirkan dua anak perempuan yang pintar2. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dr. Darabi berpraktek di Bahmanier selama dua tahun, sebuah kampung di Iran Utara, sementara suaminya menyelesaikan wajib militer sebagai dokter Militer. Tahun 1968, dia dan suaminya lulus ujian Education Council Foreign Medical Graduates (ECFMG) dan berangkat ke Amerika utk meneruskan pendidikan mereka. Dia mengambil jurusan Pediatri dan belakangan spesialisasi dalam psikiatri, lalu psikiatri anak dan mendapat ijin utk praktek di New Jersey, New York dan California. Dia menjadi warganegara Amerika dipertengahan 1970. Karena tekanan suami dan keluarga dan juga hasratnya untuk berbakti pada kampung halamannya, dia kembali ke Iran tahun 1976 dan langsung diterima sebagai pengajar di Universitas Teheran Jurusan Kedokteran. Dia menjadi orang Iran pertama yang lulus dari Kelembagaan Psikiatri Anak di Amerika dan menjadi kekuatan dibelakang pendirian Klinik Psikiatri Shahid Sahami di Teheran. Meski dia adalah pendukung kuat revolusi melawan Shah, ia juga menentang pendirian Republik Islam. Terlebih lagi, ketika pemimpin partainya memanfaatkan aturan Islam yang baru diterapkan (poligami) dan mengambil istri kedua, Homa merasa hancur dan melepas diri secara total dari panggung politik. Kakakku lalu mengabdikan diri pada profesi sebagai dokter. Th. 1990, karena ketidaksudiannya memakai HIJAB, ia dipecat dari posisinya sebagai pengajar di Fakultas Kedokteran. Belakangan, karena perlawanannya terhdp aturan Islam, praktek dokternya semakin diganggu, hingga akhirnya ketika dia merasa hidup sudah semakin sulit, dia menutup praktek dokternya dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, untuk pertama kali dalam hidupnya. Selama kehidupan profesionalnya, kakakku ini merasa tertekan oleh orang tua dari gadis2 yang menjadi pasiennya. Mereka memintanya untuk mengesahkan bahwa anak2 mereka itu ‘gila’, anak perempuan mereka yang muda, pintar2 dan cantik, agar mereka bisa selamat dari siksaan para penganut islam fanatik (150 cambukan jika memakai make-up atau lipstik). Membuat pengesahan ini sungguh2 menghancurkan hati saudariku. Ketika seorang gadis 16 tahun ditembak mati di Iran Selatan hanya karena memakai lipstik, kakakku ini tidak tahan lagi memendam perasaannya, terlebih lagi karena itu dilakukan oleh pemerintahan yang dulu pernah mempekerjakannya. Revolusi! Negaraku! Kurasa Iran telah dibajak oleh faksi2 religius dan melihat bagaimana wanita diperlakukan di Iran, sungguh tidak termaafkan … Dia ingin dunia tahu apa yang terjadi. Dia akhirnya memutuskan untuk memprotes penganiayaan wanita dengan membakar diri di alun-alun Teheran pada tanggal 21 Februari 1994. Teriakan terakhirnya adalah: Matilah Tirani! Hidup Kebebasan! Hidup Iran! Kakakku muncul kedunia secara prematur dan mati secara prematur pula. Saat ini, jutaan orang, khususnya wanita, masih meneriakkan hal itu, tapi sedihnya, sedikit sekali yang mendengarkan. Karena ini saya menulis buku saya “Rage Against the Veil” (Murka akan Kerudung). Buku ini menampilkan harapan bahwa Barat, khususnya amerika akan mulai mengerti besarnya masalah. Persis seperti di Iran, Islam tadinya digambarkan sebagai agama damai TAPI pada akhirnya Islam tidak lain cuma sebuah bentuk pemerintahan fasis. Inilah masalah yang membuat kakakku siap untuk mengorbankan dirinya dan saya menulis buku ini demi mempertahankan segala yang kita anggap penting dalam dunia Barat. Kisahku ini adalah sebuah usaha utk mendidik dan membangunkan rasa kepedulian, agar apa yang terjadi di Iran, tidak terjadi dinegara lain manapun di dunia. Kakakku, Homa, percaya bahwa dng membakar diri ia dapat menarik perhatian dunia pada sebuah rejim fundamentalis islam. Dia mati demi mempertahankan kebebasan Iran, negara yang sangat ia cintai. Homa sendiri akan ngeri seandainya ia melihat bagaimana makin ekstrim dan fundamentalisnya Iran, dan hatinya akan makin hancur jika melihat contoh2 tirani dan terorisme islam yang muncul dibagian2 dunia lain saat ini. Mungkin sulit bagi orang lain untuk mengerti apa yang dialami oleh kaum wanita dalam sebuah rejim Islam radikal dan kenapa ini dibolehkan. Padahal semua aturan Islami ini keluar dari mulut orang yang paling dicontoh didunia islam, nabi Muhammad. Dari sini kita bisa belajar bagaimana persisnya wanita diperlakukan dalam budaya islam. Aku berdiri dipinggiran neraka dan mayoritas penghuninya adalah wanita. Nabi Muhammad. Sejak saya memulai aktivitas saya dalam menguak Islam serta tekanannya terhadap wanita, saya sering diserang muslim dan muslimah tentang ‘kesalah pahaman’ dan ‘salah tafsir’ saya akan hukum islam mengenai wanita. Saya diceramahi bahwa islam adalah agama damai dan kesetaraan, bahwa islam menjunjung tinggi harkat wanita, dan bahwa hukum islam memberi wanita kuasa. Tapi, saya melihat sedikit sekali bukti2 tentang ini, yg kebetulan juga tidak tertulis dalam Quran. Malah, disampul bagian belakang dari salah satu edisi Quran terjemahan inggris oleh M.H. Shakir, dinyatakan bahwa: "Quran adalah kompilasi asli dan lengkap dari Wahyu terakhir Tuhan pada umat manusia lewat nabi terakhirnya, nabi Islam, Muhammad. Quran intinya memiliki tiga kualitas universal. Pertama, Quran ditulis dalam bentuk bhs Arab asli, sebuah maha karya yang penuh nilai sastra – mengandung gaya penyajian dengan substansi penyajian dalam bentuk2 unik. Kedua, meski pesan2nya adalah kelanjutan dari wahyu yang diturunkan sebelumnya pada nabi2 Ibrahim, Daud, Musa dan Yesus, tapi pesan ini merupakan pemenuhan dan punya keaslian yang membuatnya menarik bagi orang2 Yahudi, Kristen dan Muslim juga. Terakhir, penuh dengan informasi – yang memberikan kode2 kehidupan bagi umat manusia umumnya dan muslim khususnya. Jelas, kemukjijatan Quran ada pada kemampuannya untuk memberikan setidaknya sesuatu pada orang tidak percaya dan memberikan segalanya pada orang percaya.” Saya ingin menganalisa sedikit saja ttg “nilai2 sastra” yang ada dalam Quran mengenai wanita. Saya mencari2 dimana islam menempatkan wanita ditempat tinggi untuk dihargai oleh lelaki. Dan kenapa--jika kita, wanita, diberikan begitu banyak hak oleh kitab ini, tapi kok kita tetap saja tidak bisa menempatkan diri sebagai manusia sejajar-- malah menjadi subjek tirani negara2 islam? Mari kita mulai dengan pendapat bahwa islam adalah agama damai. “Islam” dalam bahasa Arab artinya “tunduk”/“submission”. Dg demikian, jika kita sebagai manusia mau tunduk pada aturan dan hukum islam, kita mendapat kedamaian. Arti persisnya apa? Well, menurut pengalaman saya dlm rejim islam, sepertinya selama kita menerima bahwa wanita itu lebih rendah dari pria; bahwa tangan boleh dipotong jika mencuri; bahwa wanita dirajam jika berjinah; dan bahwa lelaki punya hak untuk menceraikan, mendapat hak asuh anak dan boleh punya banyak istri – maka kita bisa hidup dalam damai. Tambahan lagi, kita bisa hidup damai selama kita sholat lima waktu, lelaki ke mesjid setiap jum’at dan jika ada acara lain di mesjid, para wanita duduk dibelakang para lelaki. Lebih-lebih lagi, dalam skenario damai ini, kita juga harus menerima harta warisan kita lebih sedikit dibanding pria. Kita juga harus selalu ingat, bahwa kita jangan sekalipun mengkritik Muhammad atau Agama Hebat seperti Islam, kalau tidak kita tidak bisa hidup damai. Juga, jika orang seperti penulis Taslima Nasrin atau Ayaan Hirsi Ali, atau saya sendiri, mengkritik Islam, kita harus tahan menghadapi kemarahan para ‘muslim baik’ dan tahan menghadapi ancaman2 bagi nyawa kita. Saya tanya: Apakah ini yang disebut DAMAI? Sulit sekali menemukan kata yang bisa berarti ‘damai’ bagi islam, khususnya ketika kita mengingat bahwa seorang pembuat film seperti Theo Van Gogh dibunuh secara brutal karena membuat film dokumenter tentang kehidupan wanita muslim yang menghadapi banyak kekejaman. Inikah DAMAI? Lagi2, ketika koran Denmark mempublikasikan kartun Nabi, orang2 yang mengaku “muslim damai” berlaku dgn kekerasan dan mengucurkan darah di Eropa dan diseluruh dunia Islam. Apakah agama damai ini mengijinkan pembunuhan hanya karena penerbitan kartun? Saya pikir sulit sekali utk mengerti bahwa semua ini sama dengan damai. Tapi mungkin Quran sendiri telah menyetel tingkah laku ‘muslim damai’ ini? Berikut adalah wahyu2 dari Quran mengenai agama damai ini, yang mungkin menjelaskan kenapa jutaan pengikut kitab ini bertindak seperti setan. Dalam Quran tertulis: [2.191] Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu [3.4] Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat [3.12] Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya". [4.56] Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [8.12] Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. Tentunya wahyu2 macam itu dalam Quran bukanlah berarti damai ataupun menghilhami kedamaian dan keagungan sang pencipta. Maka dari itu mudah sekali utk mulai melihat kenapa definisi kita tentang damai bukanlah spt yang didefinisikan Quran. Tambahan lagi, definisi kita akan kesetaraan gender dan HAM, yang kita pegang di dunia Barat, sangat kontrasadan bertentangan dengan definisi Islam. Status wanita dalam islam tidak mengijinkan wanita utk hidup damai dan harmonis dan tentunya Quran juga TIDAK menawarkan perkataan yang mengilhami hal demikian. Menurut islam, wanita adalah asuhan ayahnya selama dia masih dalam asuhannya dan menjadi asuhan bagi suaminya ketika dia menikah. Dan ketika suami meninggal dia menjadi asuhan bagi anak, cucu dan seterusnya, dan jika dia tidak punya saudara lelaki, dia menjadi asuhan dari komunitasnya. The Webster's New Word Dictionary mendefinisikan ‘ward’ (asuhan) sebagai ‘orang dibawah perhatian pelindung atau pengadilan.” Dg demikian, menurut islam, seorang wanita tidak akan pernah menjadi dewasa dan dia akan selalu dibawah ‘asuhan’ lelaki, pelindung, atau pengadilan/aturan islam. Saya tidak menganggap ini sebagai rasa hormat pada wanita, melainkan sebuah PEGNHINAAN. Pernah seorang muslim menjelaskan pada saya bahwa ini karena wanita itu hamil dan mengurus anak; dg demikian kaum lelakilah yang mengurusi mereka. Ini kedengarannya ide yang hebat, lelaki mengurus wanitanya sementara si wanita hamil atau mengurus anak. Tapi, kenapa wanita yang tidak menikah, wanita yang juga tidak hamil, nenek atau wanita lanjut usia harus dibawah ‘asuhan’ seorang pelindung? Bukankah hanya orang2 yg berpenyakit jiwa sajalah yang diatur dibawah asuhan pengadilan ? Wanita2 tidaklah gila atau tidak dewasa, dg demikian, mereka tidak perlu dibawah pengawasan pelindung atau diawasi pelindung yg ditunjuk pengadilan. Menurut Ayatollah Khomeini, pemimpin revolusi islam Iran, islam butuh hakim yang sbb: “orang yang berusia puber, tahu hukum2 islam, adil, tidak amnesia, bukan anak haram dan bukan wanita.” Dg demikian, wanita tidak dianggap sudah puber utk menjadi hakim. Ini sebabnya kenapa wanita tidak punya hak untuk memilih dalam banyak negara yang mengaku menganut faham ‘demokrasi islami’. Orang gila mana yang menganggap bahwa setengah jumlah penduduk tidak boleh terlibat dalam penentuan nasib negara mereka ? Tapi masih saja negara2 (Islam) ini menganggap diri mereka demokratis. Karena banyaknya kontradiksi dalam islam hingga lama sebelum kematian kakakku juga, aku telah memilih untuk keluar islam, islam yg saya warisi dari keluargaku. Saya ingin membagi sedikit pengalaman saya disini agar membuat anda tahu kenapa, seperti orang2 lain dalam buku ini, saya keluar dari islam. Waktu itu, begitu yang diceritakan pada saya, saya baru berumur enam hari, ketika kakek mewariskan agamanya padaku. Dia melakukan itu dengan melantunkan ayat2 al-quran pada telinga saya. Saya yakin hanya itulah kalimat arab yang bisa diucapkan oleh kakek dan mungkin juga dia tidak mengerti artinya. Kami orang Iran dan bahasa kami adalah bahasa Persia, mayoritas orang2 Iran, termasuk keluarga saya, tidak bicara arab, bahasanya islam. Bagi muslim, agama itu sama dengan warna mata. Diwariskan. Saya masuk TK sebuah sekolah religius dgn seorang wanita bernama Kobra menjadi kepala sekolahnya. Saya benci sekolah dan kepala sekolahnya karena selalu kelihatan galak dalam pakaian dan kerudung hitamnya itu. Dia selalu pakai warna hitam. Tidak suka ketawa, tidak ada musik, tidak ada main – yg ada hanya Allah dan hanya Islam. Sekolahnya kotor dan semua yang guru2 lakukan hanyalah membaca Quran dan buku doa. Bahkan diumurku yang kecil, naluriku mengatakan bahwa guru2 itu tidak berpendidikan dan BUTA HURUF, sebuah fakta yang belakangan terbukti ketika saya menempatkan Quran secara terbalik, tapi mereka tidak protes dan tetap ‘seakan’ membacanya. Sebagai anak2 saya melihat betapa bedanya perlakuan yg diteriam anak lelaki dibanding anak perempuan. Saya ingin naik sepeda roda tiga seperti anak2 lelaki, tapi saya dilarang. Ketika saya ingin belajar main biola, saya dikatakan bahwa anak perempuan yang baik sebaiknya tidak main instrumen musik. Ketika saya ingin naik kuda, berenang dan aktivitas lain, jawabnya sama. Dari kecil saya belajar ttg pentingnya keperawanan bagi wanita didalam budaya islam. Wanita harus perawan ketika menikah. Sebagai catatan, wanita bisa dinikahkan ketika berumur SEMBILAN tahun. Malah, Khomeini, pemimpin Republik Islam Iran, menyatakan bahwa: “Saat paling tepat utk menikah bagi wanita adalah jika si wanita mendapat menstruasi pertama dirumah sang suaminya, bukan dirumah ayahnya.” Saya mengetahui bahwa kutipan kalimat ini aslinya berasal dari Imam Musa Kazem, seorang Imam Shiah. Percayalah wahai pembaca, inilah pola pikir sebuah rejim islam. Untungnya keluargaku tidak begitu religius; tapi, budaya keluarga dan masyarakat dimana kita tinggal masih religius. Bayangan menikah dan dikirim kerumah orang asing diumur 9 tahun membuat saya gemetar ketakutan. Saya pernah melihat ayah seorang gadis yang bekerja pada ibu menikahkan anaknya pada seorang pria beranak tiga, yang anak2nya saja lebih tua dari gadis itu. Dia baru berumur 11 tahun, yg dianggap perawan tua oleh bapaknya. Juga ada aspek islam lain yang mempengaruhi saya secara pribadi. Saya ingat ketika ayah punya kambing kurban, lalu disembelih dihalaman rumah. Melihat bagaimana binatang malang itu berjuang agar bisa lari dan bagaimana dia merintih dan menggerak2kan kakinya setelah lehernya dibelah membuat saya membenci dan mengutuk ritual kurban ini. Malamnya, kakek dari ibu, satu2nya orang religius dikeluarga saya, bercerita tentang Ibrahim dan anaknya Ismail. Bagaimana Tuhan meminta Ibrahim membawa anaknya kesuatu tempat dan menyembelihnya untuk menunjukkan kesetiannya pada Tuhan. Dan ketika dia menempelkan pisau keleher anaknya, dia mendengar suara kambing dan lalu jadi menyembelih kambing sebagai pengganti anaknya. Itu sebabnya kenapa kami menyembelih kambing tadi pagi. Cerita itu menakutkan saya. Malam2 setelah itu diisi oleh mimpi buruk akan kisah itu. Saya mimpi ayah saya menyembelih saya untuk menunjukkan kesetiaan pada Tuhannya, saya akan terbangun dengan keringat dingin dan lalu sadar bahwa saya masih hidup. Akhirnya saya yakin bahwa Tuhan hanya meminta pada LELAKI untuk mengorbankan anak LELAKInya dan bukan anak perempuan. Lagipula ngapain ngorbanin anak perempuan? Secara itu saya bersyukur menjadi perempuan. Kakek dari ibu saya suka mengajar tentang agama islam. Dia suka bilang, “Allah itu Maha Besar, tahu segalanya dan menciptakan manusia serta jagat raya.” Lalu dia meminta saya berdoa dalam bahasa arab. Saya suka bertanya pada nenek: “Nek, apa Allah tidak mengerti bahasa Persia?” “Well, no. Kau musti bicara pada Allah dalam bahasa arab.” “Tapi kakek bilang Allah yg membuat segalanya. Jika dia yang membuat bahasa Persia, lalu kenapa Dia tidak mengerti?” Sering mereka terdesak oleh pertanyaan2 semacam itu dan tidak bisa menjawabnya, hingga saya mengabaikan agama dan islam. Ketidaksukaan saya pada agama diperkuat ketika saya mempelajari Syariah di SMA. Yang saya pelajari begitu mempermalukan bagi wanita dan begitu menekan hingga saya jadi benci kenapa telah membaca buku itu. Saya tidak mengerti kenapa perceraian menjadi hak unilateral bagi pria, atau kenapa wanita harus menyerahkan anak2nya pada keluarga suami jika sang suami menceraikan dia atau sang suami mati. Kenapa wanita mewarisi setengah dari pria dan kenapa pria boleh melakukan apa saja sedang wanita dilarang hak2nya. Kenapa kita selalu harus menunggu kaum pria selesai makan lalu mulai makan dari sisa2 makan mereka. Kenapa tubuhku ini milik orang lain bukannya milik saya pribadi? Jika saya berdiri dipintu depan dan bicara pada tetangga lelaki, setiap kerabat pria dikeluargaku bertanggung jawab untuk membuatku masuk rumah. Saya merasa jadi tahanan. Malah, satu2nya pria yang boleh diajak bicara adalah yang dipilihkan buat saya. Tentu saja, salah satu aspek Islam paling menjijikkan bagi saya adalah proses KHASTEGARY (penjodohan). Dalam proses ini, kaum pria atau kerabatnya akan mencari wanita yang cocok bagi kerabat pria mereka. Setiap anggota keluargaku mengunjungi seorang wanita yang potensial untuk istri paman atau sepupuku, penilaian atau evaluasi mereka akan si wanita itu membuat saya muak. Seakan mereka itu sedang BELI BARANG saja. Satu hal yang paling penting adalah bentuk fisiknya. Tambahan lagi, harus perawan. Jika keperawanannya ternyata tidak terbukti, orang tua siwanita harus membayar pada mempelai lelaki serta keluarga lelaki tsb semua biaya perkawinan, lalu hari berikutnya pernikahan itu dibatalkan. Ketika aku remaja di Teheran, saya ikut manyaksikan pernikahan kerabat. Mempelai wanita baru berumur 14 tahun. Orang tua mereka begitu khawatir akan keperawanannya hingga mereka nempeelll terus pada pasangan baru ini, sampai kepintu kamar pengantinnya. Mereka lalu masuk dan mengambil seprai yang berdarah, hasil ‘diperkosanya’ anak mereka dan dengan gagah dan bangga memperlihatkan seprai berdarah itu pada orangtua mempelai pria sebagai bukti keperawanan anak mereka. Saya tidak mau diperlakukan demikian dimalam pertama saya ! Begitu banyak hukum2 dalam islam, hingga akan memadamkan semangat orang2 berpendidikan seketika. Tapi tetap saja kita dicekoki bahwa islam itu agama damai. Salah satu hukum ini adalah SIGEK, atau Mut’ah atau perkawinan kontrak sementara. Saya sebut ini pelacuran religius, pelacuran yang disahkan oleh agama. Pernikahan dalam islam adalah sebuah kontrak antara lelaki dan pelindung sang perempuan utk jangka waktu tertentu. Ini sama saja seperti menyewa gedung atau barang. Dalam sebuah pernikahan yang permanen, lelaki menikahi wanita selama 99 tahun, karena tak ada orang yang bisa hidup lebih lama dari itu. Dalam kenyataannya, kebanyakan suami mati lebih dulu sebelum perioda ini habis, karena mereka menikah diusia akhir 30an atau awal 40an. Wanita yang ‘dilepas’ oleh pelindungnya ketika mereka masih sangat muda, punya kesempatan untuk hidup ‘SENDIRI’ selama sisa hidup mereka. Dalam pernikahan kontrak, lelaki menentukan jangka waktu kontrak nikah tsb. Dia meminta seorang wanita atau pada pelindung wanita tsb apakah mau dinikahi utk jangka waktu tertentu, mulai dari 10 menit sampai sejam, seminggu, atau beberapa bulan dengan imbalan uang sebanyak yang mereka tentukan. Jika si wanita atau pelindungnya setuju dengan kontrak itu, maka mereka jadi menikah dan pernikahan itu otomatis batal jika waktunya telah habis. Dalam kenyataannya, ini adalah cara legal bagi lelaki untuk menikmati tubuh wanita tanpa komitmen jangka panjang. Hukum Islam yang barbar lainnya adalah MOHALEL. Seorang lelaki membayar lelaki lain utk menikahi ‘Janda Cerai talak tiga’ bekas dia untuk semalam saja, berhubungan seks dengan janda itu lalu esok harinya menceraikannya, agar sang bekas suami ini bisa menikahi kembali istri yang ditalak tiganya itu. Beberapa tahun lalu, salah satu saudara saya menceraikan istrinya, karena marah dia tidak sengaja memberi talak tiga, lalu menyesal dan ingin kembali dengan ‘bekas’ istrinya itu. Tapi, Mullah setempat tidak mau menikahkan mereka kembali kecuali si ‘bekas’ istri menikahi dulu orang lain, ditiduri lalu dicerai, dengan demikian si ‘bekas’ suami ini bisa menikahinya kembali. Saya ingat betapa KACAUnya keadaan keluarga itu, persis spt SIRKUS ! Sang bekas suami begitu panik mencari lelaki yang mau menikahi istrinya utk semalam saja. Karena sang ‘bekas’ istri ini seorang wanita yang sangat cantik dari keluarga terkenal, si ‘bekas’ suami ini perlu mendapatkan lelaki yang bisa dia ‘percaya’ agar betul-betul menceraikan keesokan harinya. Jadi akhirnya dia meminta salah seorang pegawai ayahnya untuk menikahi si ‘bekas’ istri. Si ‘bekas’ suami membayar pegawai ini sejumlah uang. Si pegawai menikmati tubuh ‘bekas’ istrinya selama semalam, lalu menceraikan besok harinya dan pasangan ‘bekas’ ini bisa dinikahkan kembali. Yang mengejutkan saya adalah bahwa tak satupun wanita dari pihak keluarga sang wanita memikirkan tentang akibat dari ‘perkosaan’ satu malam yang dialami sang ‘bekas’ istri. Mungkin karena mereka semua merasa telah ‘diperkosa’ pada malam pertama oleh ‘orang asing’ yg dinikahkan kpd mereka sesuai dgn peraturan. Maka ‘diperkosa’ lagi oleh orang asing lain hanya untuk semalam tidak menjadi masalah besar bagi mereka. Malah mungkin mereka berharap diceraikan agar mereka bisa menikahi lelaki lain yang bisa memperlakukan mereka lebih baik dari suami mereka sekarang. Aturan hukum ini membuat saya jijik ! Pertama, pernikahan wanita diatur, lalu terjadi ‘perkosaan semalam’ karena kebutuhan rujuk itu – dan tidak sekalipun pihak wanita dilibatkan dalam diskusi atas keputusan yang dibuat terhdp mereka : mereka diharapkan untuk NRIMO ‘diperkosa’ oleh orang asing, pertama karena tekanan orang tua, lalu karena tindakan sembrono suami mereka. Muslim akan membela peraturan ini dgn mengatakan bahwa hukum ini dimaksudkan agar lelaki tidak menceraikan istri mereka dengan talak tiga: jadi ini semacam pencegahan perceraian, gitu ... AH, OMONG KOSONG ! Dalam islam, lelaki punya hak untuk menceraikan (ini saja sudah merupakan pelanggaran HAM wanita), dibawah prosedur berikut: - Lelaki bisa menceraikan istrinya dengan talak satu lewat perkataan: “saya ceraikan kamu,” dan jika mereka lalu bersamaan kembali, perceraian itu terbatalkan dan mereka bisa menjadi suami istri kembali. - Lelaki bisa menceraikan istrinya talak dua dengan berkata : “Saya ceraikan kamu, Saya ceraikan kamu” – dan lalu jika mereka melakukan hubungan seks kembali, perceraian itu otomatis terbatalkan dan mereka bisa menjadi suami istri kembali. - Lelaki bisa menceraikan istrinya talak tiga dengan mengatakan “Saya ceraikan kamu, Saya ceraikan kamu, Saya ceraikan kamu” dihadapan saksi. Lalu, jika ingin kembali rujuk, si istri harus sudah dinikahi dulu oleh lelaki lain dan diceraikannya. Lelaki lain ini dinamakan MOHALEL. Sering kejadian si MOHALEL ini tidak mau menceraikan si istri keesokan harinya. Dan si ‘bekas’ suami tidak bisa berbuat apa-apa jika itu terjadi. Saya rasa aturan hukum ini barbar dan tidak manusiawi karena, pertama, perasaan dan hak si wanita tidak diperhatikan dan dia ‘diperkosa’ untuk semalam oleh orang asing. Kedua, gagasan sang suami membayar lelaki lain untuk meniduri istrinya utk semalam sangat menjijikan. Terakhir, Jika si MOHALEL tidak menceraikan si wanita, wanita itu terpaksa menghabiskan sisa hidupnya dalam kesengsaraan (kecuali si MOHALEL kebetulan jauh lebih baik dari bekas suaminya) dan jauh dari anak2 dari suami pertamanya, jika dia punya anak. Setelah pertunjukan sirkus ini, saya memutuskan utk tidak lagi jadi Muslim; tapi, saya belum punya keberanian untuk meninggalkan agama ini sepenuhnya. Saya meninggalkan Iran dengan Kitab Qur’an kecil disaku dan meninggalkan yang besar dirumah. Meski saya bukan muslim yang rajin, tapi saya masih percaya Alloh dan Nabi Muhammad ketika saya meninggalkan Iran ditahun 1964 utk belajar di Amerika. Setelah saya belajar bahasa inggris, cukup untuk membaca, saya membaca Quran terjemahan inggris. Saya tidak pernah membaca (dalam arti 'mengerti') Quran. Ketika saya meninggalkan Iran, tidak ada terjemahan bhs Persia atau mungkin saya tidak tahu apakah ada terjemahan Persia atau tidak. Saya baca ayat2 Quran dalam bahasa inggris. Saya kaget akan surah2 itu, terutama Surah AL AHZAB, dimana katanya Tuhan berkata pada Muhammad: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu” (33.59). Masalahnya adalah sejauh itukah wanita harus menutupi dirinya? Dan lagipula, kenapa demikian? Apakah harta wanita itu ada dibawah pusar atau didalam kepalanya? Kelakuan Muslim didalam keluarga dan tetangga saya membuat saya mengerti bahwa harta wanita itu ada dalam keperawanannya sebelum menikah dan vaginanya setelah menikah. Saya menolak itu. Lalu saya baca lagi Quran serta buku2 lain, dan setelah membaca semua itu saya yakin bahwa agama ini akan menghancurkan kemampuan manusia untuk berpikir dan bertindak sesuai akalnya. Saya membuat daftar ayat2 itu: [2.223] Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. [4.34] Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Aku berdiri dipinggiran neraka dan kulihat mayoritas penghuni neraka adalah wanita. Nabi Muhammad (Sahih Bukhari, Sahih Muslim Volume 4, Book 54, No.464) Lebih baik berkubang dalam kotoran babi daripada menyalami tangan wanita. Ulama Islam di Indonesia. Surga wanita ada dikaki suaminya. Wanita hanya boleh terkena matahari tiga kali dalam hidupnya. Ketika lahir, ketika menikah dan ketika mati. Belakangan dalam risetku ttg islam, saya mengetahui akan pernikahan sang Nabi dengan istri pertamanya, nabi berumur 24 tahun dan istrinya 16 tahun lebih tua. Istrinya, Khadijah, seorang kaya, janda dua kali cerai yang melamar Muhammad. Lalu setelah Khadijah mati diumur 72 th, ketika nabi berumur 53 tahun, dia menikahi bocah wanita Aisha berumur TUJUH tahun. Melakukan seks dengan bocah itu ketika ia berumur 9 tahun dan mengumumkannya sebagai Ibu semua Muslim (Ummul Mukminin) ketika nabi meninggal, saat Aisha baru berumur 18 tahun, ia divonis agar tidak boleh menikah lagi seumur hidupnya. Pada 8 sampai 10 tahun terakhir kehidupannya, Muhammad menikahi sekitar 15 sampai 46 wanita. Muslim2 soleh bilang bahwa wanita2 ini semuanya janda dan kesusahan, tidak ada yang menolong hingga sang nabi menolong mereka dengan menikahinya, dengan perintah Allah. Saya melihat alasan ini sangat memuakkan. Aisha, yang dinikahi Muhammad ketika berumur 7 tahun, masih anak2, dan ayahnya baru jadi muslim cuma beberapa tahun saja sebelum dia lahir. Zainab menikah dengan anak angkat sang nabi dan cukup bahagia, sampai Muhammad meminta dengan ‘halus’ pada Zaid untuk menceraikan Zainab agar sang nabi bisa menikahinya sendiri. Agar mendapat persetujuan dari suku Quraish, karena menikahi istri anak sendiri termasuk aib, Muhammad membawa-bawa ijin Allahnya, dia bilang “seorang muslim tidak boleh mengangkat anak”, dengan demikian Zaid tidak lagi menjadi anaknya, meski sebelumnya telah dia angkat anak sebelum menjadi nabi, dan dg demikian sah pulalah dia untuk menikahi Zainab. Itulah alasan utama kenapa Adopsi dilarang islam. Tambahan, Rayhanah adalah seorang istri yang sangat cantik, suaminya dipancung oleh nabi bandit ini dan dia 'dinikahi' pada hari yang sama. Wanita-wanita ini semua BUKAN JANDA, jika jandapun itu karena perbuatan Muhammad. Tentu saja mereka butuh orang utk mengurusi mereka, apalagi setelah orang yang mengurus mereka dibunuh Muhammad. Ketika kubaca kisah2 tsb, perasaanku langsung MELEDAK ! Bagaimana bisa begitu banyak orang didunia ini mengikuti seorang penganiaya dan penista wanita? Bagaimana bisa kakekku menjadikan aku muslim ketika berumur enam hari demi mengikuti seorang bajingan kriminal ini? Lalu aku menyimpulkan bahwa kakekku tidak tahu tentang ini. Atau, jikapun dia tahu, dia menerimanya secara pasrah karena ia dibesarkan oleh budaya barbar itu sendiri dan tidak tahu mana yang benar, mana yang salah. Ketika anakku lahir, aku tidak memberinya agama apapun. Saya tidak memberinya pendidikan religius tentang Allah dan nabinya. Malah, saya tidak menyunat anakku itu. Imanku pada tuhan terkikis pada 1 April 1979, seiring dengan pendirian Pemerintahan Tuhan Republik Islamik Iran, tanah kelahiranku – ketika negara ini mengalami kemunduran kejaman kegelapan karena pendirian hukum syariah. Para WANITAlah yang menjadi KORBAN pertama penganiayaan Islami. Lebih dari 130 tahun perjuangan dinihilkan oleh pemimpin religius jaman barbar. Terlucuti hak2 konstitusionalnya, para wanita menjadi warganegara kelas kambing. Bulan Maret 1979, Khomeini menetapkan hijab (jilbab) sebagai sebuah perlambang perjuangan melawan imperialisme dan kerusakan. Dia menyatakan bahwa “Wanita tidak boleh masuk kenegara Islamik Iran dengan kepala tidak tertutupi. Mereka boleh terus bekerja asal mereka pakai jilbab” (Kayhan, Maret 1979). Mentri Pendidikan menetapkan gaya dan warna dari pakaian bagi wanita pelajar, hitam, lurus dan tertutup dari kepala sampai ujung kaki bagi wanita diatas umur 6 tahun. Untuk menekan perlawanan dari wanita akan aturan ini, pemerintah mendirikan unit khusus yang melakukan patroli untuk mengawasi apakah para wanita taat pada aturan ini atau tidak, dijalan-jalan, tempat umum, dll. Pemerintahan Islam ini bahkan bertindak lebih jauh lagi. Selama 28 tahun terakhir, kondisi wanita sangat menurun. Tapi, meski banyaknya siksaan (cambuk, rajam, penjara dan pemisahan dari keluarga), wanita2 Iran tidak kehilangan semangat perjuangan mereka. Dibawah aturan islam, hukum perlindungan keluarga digantikan. POLIGAMI ditetapkan. Republik Islam secara penuh mendukung praktek poligami. Pernikahan Mut’ah (kawin kontrak sementara) disahkan. Hasilnya, lelaki bisa menikahi empat istri ‘permanen’ dan sebanyak mungkin istri ‘kontrak’. Kebanyakan orang Eropa punya gundik. Untuk apa kita menahan insting manusiawi? Ayam jago saja memuaskan nafsunya pada beberapa ayam betina, kuda jantan pada beberapa kuda betina. Wanita punya saat-saat dimana tidak bisa digauli sementara lelaki setiap saat bisa aktif. - Ayatollah Ghomi, Le Monde, 20 Januari 1979. Tugas khusus wanita dalam masyarakat adalah menikah dan melahirkan anak. Mereka dilarang ikut serta dalam karir legislatif, hukum atau karir apapun yang membutuhkan ‘pembuatan keputusan’, karena wanita kurang pintar, tidak punya kemampuan intelektual dan karir2 tsb membutuhkan kepintaran ini. - Ayatollah Mutahar (salah seorang ideolog utama Republik Islam Iran) dalam tulisannya “The Question of Veil” Nilai wanita = 1/2 dari pria ? Menurut klausa hukum nomor 33 dan 91, qisas (Aturan ganti rugi islam), nilai kesaksian seorang wanita dianggap berharga setengah dari kesaksian satu pria. Menurut Hukum Pidana Islam yang dipraktekkan di rejim Iran sekarang ini, “seorang wanita berharga 1/2 dari seorang pria.” Menurut klausa nomor 6, “Jika seorang wanita membunuh seorang pria, keluarga pria punya hak utk mendapatkan sejumlah uang yang dibayarkan sebagai kompensasi dari terbunuhnya kerabat tsb, sebaliknya, jika seorang pria membunuh seorang wanita, pembunuh tsb harus membayar uang darah sebanyak setengah dari yang ditetapkan jika ia membunuh pria, dibayarkan pada pelindung wanita tsb.” Th 1991, Jaksa Penuntut Umum Iran menyatakan bahwa “siapapun yang menolak prinsip jilbab adalah orang murtad dan dihukum sebagai orang murtad dibawah Hukum Islam, yaitu MATI!” Wanita2 yg dihukum mati tidak akan dihukum selama mereka masih perawan. Jadi mereka secara sistematis DIPERKOSA TERLEBIH DAHULU sebelum hukuman mati itu dijalankan. Sementara itu, sebuah laporan dari Perwakilan Khusus Komisi HAM PBB di Republik Islam Iran, th. 1992 menyatakan: "Memperkosa tawanan wanita, khususnya perawan, yang dituduh menentang rejim, adalah sebuah praktek sehari-hari yang normal di tempat tahanan Republik Islam, dan dengan melakukan itu, para ulama menyatakan bahwa mereka mengacu pada kebaikan dari hukum dan prinsip ISLAM, mencegah seorang perawan masuk surga. Para Mullah percaya bahwa wanita perawan akan masuk surga jika meninggal, dan para wanita terhukum yang nista ini tidak pantas masuk surga, maka mereka diperkosa terlebih dahulu agar mereka yakin para wanita nista itu masuk neraka.” Bukti lain dari perlakuan terhadap wanita ini dinyatakan dalam artikel 115 konstitusi Islam yang jelas2 menyatakan bahwa Presiden negara ini harus dipilih dari kaum pria yang berdedikasi dan takut Allah; ini artinya seorang wanita bukan saja tidak bisa jadi presiden tapi juga tidak punya hak untuk menjadi Valiat-e-Faghih (pemimpin spiritual) atau posisi pemimpin dalam sebuah negara muslim. Wanita2 Iran tidak boleh menikahi orang asing kecuali dgn ijin tertulis dari Mentri Dalam Negri. Kementerian Dalam Negeri Dirjen Urusan Kewarganegaraan dan Immigrasi, Ahmad Hosseini, menyatakan pada 30 Maret 1991: “Pernikahan antara wanita iran dan orang asing akan menciptakan banyak masalah bagi wanita dan anak2 mereka dikemudian hari, karena pernikahan ini tidak secara hukum diakui. Pendaftaran religius akan pernikahan demikian tidak akan dianggap sebagai dokumentasi yang cukup utk memberikan pelayanan hukum bagi keluarga ini.” Juga, “Wanita yang sudah menikah tidak boleh bepergian keluar negeri tanpa ijin tertulis dari suami mereka.” Lihat juga: http://www.homa.org Kesaksian Ali Sina (2/2)Thursday, October 2. 2008
Jalan dari ‘iman’ ke pencerahan terdiri dari tujuh lembah.
Lembah pertama adalah Kaget (Shock/Kejut). Setelah membaca Quran, pemikiran saya tersentak kaget. Saya mendapatkan diri saya berhadapan muka dengan kebenaran dan saya takut utk menatapnya. Pastinya bukan itu yang saya harapkan utk saya tatap. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, mengutuk atau memaki siapa-siapa. Saya temukan kemustahilan dari Islam dan ketidak manusiaan ‘Pengarang’ Quran dengan membacanya. Dan saya Kaget. Hanya, kekagetan/Kejutan inilah yg membuat saya sadar dan berhadapan dengan kebenaran. Sayangnya, hal ini adalah sebuah proses yg sulit dan menyakitkan. Para pengikut Muhammad harus melihat Kebenaran Nyata dan mereka haruslah terkejut. Kita tidak bisa terus menerus menutupi kebenaran dengan yang manis-manis. Kebenaran itu terasa pahit dan harus diterima. Fakta2 itu sangat keras kepala, tidak mau pergi2. Hanya dengan demikianlah proses pencerahan bisa dimulai. Karena setiap orang itu tingkat sensitivitasnya berbeda, yang dirasakan sebagai shock bagi orang lain mungkin bukan shock bagi yang lainnya. Tapi bahkan sebagai seorang lelakipun saya shock ketika membaca bahwa Muhammad memerintahkan pengikutnya utk memukul istri2 mereka dan menyebut wanita itu “kurang pintar.” Tapi saya sudah mengenal banyak wanita muslim yang tidak sulit menerima perintah ini. Bukan karena mereka itu ‘kurang pintar’ atau mereka percaya bahwa penghuni neraka itu kebanyakan wanita hanya karena nabi bilang begitu, tapi karena mereka menjegal, memblok informasi tsb. Mereka baca tapi tidak meresapinya. Mereka dalam mode penyangkalan. Tindakan penyangkalan berlaku sebagai perisai yang menutupi dan melindungi mereka, yang membantu mereka menghadapi sakitnya realitas. Sekali saja perisai itu dilepas, tak ada satupun yang bisa mengembalikannya. Pada titik ini kepercayaan mereka harus diserang dari segala arah. Kita harus membombardir mereka dengan ajaran mengejutkan lainnya dari Quran. Mereka mungkin punya titik kelemahan. Itulah yang diperlukan: Shock yang tepat. Shock itu menyakitkan tapi bisa menyelamatkan. Shock dipakai dokter utk mengembalikan kehidupan pada para pasien. Utk pertama kalinya, internet telah mengubah Keseimbangan Kekuatan. Sekarang kekuatan brutal senjata, penjara dan pasukan pembunuh tidak berdaya dan ‘tinta’ jauh lebih berbahaya. Utk pertama kalinya, para muslim tidak bisa menghentikan kebenaran dengan membunuh pembawa pesannya. Sekarang banyak diantara mereka bersentuhan dengan kebenaran dan merasa tdk berdaya. Mereka ingin membungkam suara ini tapi tidak bisa. Mereka ingin membunuh pembawa pesan, tapi tidak bisa. Mereka mencoba mem-ban (melarang) situs2 yang mengungkapkan agama sesembahan mereka; kadang mereka berhasil sementara, tapi kebanyakan gagal. Saya membuat sebuah situs utk mengajar muslim tentang islam yang sebenarnya. Saya pasang di tripod.com. Para islamis memaksa tripod utk menutupnya dan secara pengecut eksekutif Tripod memenuhi keinginan mereka. Saya dirikan domain dan situs saya lagi dalam waktu dua minggu saja. Dg demikian, cara kuno dengan membunuh murtadin, membakar buku2 mereka, dan membungkam dengan teror tidak bisa dipakai lagi. Mereka tidak bisa mencegah orang utk membaca. Meski situs saya dilarang si Saudi Arabia, Emirat dan banyak negara2 lain, sejumlah besar muslim yang tidak pernah tahu kebenaran tentang islam telah dikenalkan dengan kebenaran utk pertama kalinya, dan terkaget-kaget. Saya bertemu seorang wanita di internet yang telah masuk islam, ia mulai memakai jilbab. Dia punya situs web dengan fotonya yang tertutup dengan cadar hitam bersama dengan kisahnya tentang bagaimana dia menjadi muslim. Dia sangat aktif dan suka memberi nasihat pada yang lain agar jangan membaca situs saya. Tapi, ketika dia membaca kisah dari Safiyah, wanita yahudi yang ditangkap Muhammad dan diperkosa dihari yang sama ketika ayah, suami serta kerabatnya dibunuh, dia terkaget-kaget. Dia bertanya pada muslim lain tentang ini, tapi percuma. Pintu itu terbuka dan dia tertendang keluar dari ruang pembodohan. Dia terus menulis pada saya dan bertanya-tanya. Akhirnya, dia mampu meliwati tahap2 mulai dari percaya buta hingga kepada pencerahan dengan sangat cepat dan berterima kasih pada saya karena telah membimbing dia melalui jalan yang berliku itu. Dia menarik diri dari situsnya di Yahoo! Islamic club. Jika orang tahu tentang kehidupan najisnya Muhammad dan kemustahilan dari Quran, mereka kaget. Saya ingin menelanjangi Islam: menulis kebenaran tentang hidup najisnya Muhammad, kata2 kebenciannya, pengakuan tak berdasarnya; dan membombardir muslim dengan fakta2. Mereka akan marah, mengutuk, menghina dan bilang bahwa setelah membaca artikel2 saya iman mereka MAKIN KUAT. Tapi itulah saatnya saya tahu bahwa saya telah menanam bibit keraguan dalam benak mereka. Mereka bilang semua ini karena mereka kaget dan telah masuk TAHAP PENYANGKALAN. Bibit keraguan telah tertanam dan akan tumbuh berkembang. Pada diri sebagian orang itu akan memakan waktu tahunan, tapi jika dibiarkan akan tumbuh membesar pada akhirnya. Ragu adalah berkat terbesar yang bisa kita berikan pada satu sama lain. Ragu adalah Berkat bagi Pencerahan. Keraguan akan membebaskan kita, akan memajukan pengetahuan dan akan mengungkap misteri2 jagat raya. Salah satu rintangan utk dilalui adalah tradisi dan nilai2 yang salah yang dimasukkan dalam diri kita selama ribuan tahun berdirinya Islam. Dunia masih menghargai agama dan menganggap bahwa keraguan adalah pertanda kelemahan. Orang2 banyak membicarakan orang2 beriman dengan rasa kekaguman dan menghina orang yang lemah iman. Kita diperkosa oleh nilai2 kita sendiri. Keraguan, dilain pihak, punya arti sebaliknya. Artinya adalah berkemampuan untuk berpikir mandiri, bertanya dan menjadi skeptis. Kita berhutang sains dan peradaban modern kita pada orang2 (lelaki dan wanita) yang meragukan banyak hal – bukan mereka yang percaya banyak hal. Mereka yang ragu itulah yang menjadi pionir/pelopor; mereka Pemimpin2 Pemikiran Baru. Mereka filsuf2; pencipta2 dan penemu2. Mereka yang percaya, yg hidup dan mati sebagai pengikut, sedikit sekali atau malah bisa dibilang tidak menyumbang pada kemajuan sains dan pengertian umat manusia. Setelah dikejutkan, atau mungkin secara simultan, penyangkalan. Mayoritas muslim akan terjebak dalam penyangkalan ini. Mereka tidak bisa dan tidak mau mengakui bahwa Quran Cuma tipu-tipu belaka. Mereka jungkir balik mencoba menjelaskan hal yang tidak bisa dijelaskan, jungkir balik mencoba menemukan mukjijat didalamnya dan akan rela membengkokkan semua aturan logika utk membuktikan bahwa Quran itu benar. Setiap kali mereka terkena efek kejut dari pernyataan mengejutkan dalam Quran atau tindakan menjijikan yg dilakukan Muhammad, mereka ngumpet dalam penyangkalan. Ini yang kulakukan dalam fase pertama ‘Perjalanan’ saya. Penyangkalan adalah tempat aman. Ketidak relaan utk mengakui bahwa anda telah ditendang dari ‘ruang pembodohan’. Anda mencoba utk kembali, tidak mau mengambil langkah pertama utk menjauhi pintu ruang itu. Dalam penyangkalan anda menemukan zona nyaman. Dalam penyangkalan anda tidak merasa tersakiti, segala sesuatu oke oke saja; segala sesuatu is fine. Kebenaran itu sangat menyakitkan, khususnya jika orang telah terbiasa dijauhkan dari kebenaran sepanjang hidupnya. Tidak mudah bagi seorang muslim untuk melihat Muhammad apa adanya. Ini sama seperti bilang pada anak kecil bahwa ayahnya adalah seorang penjahat besar, pemerkosa dan pencuri. Anak yang mengidolakan ayahnya tidak akan mampu menerima hal itu, meskipun jika semua bukti2 nyata ditunjukkan padanya. Kejutannya akan sangat besar hingga yang mampu dia lakukan hanya menyangkal. Dia akan menyebut anda pembohong, membenci anda hingga ingin menyakiti anda, mengutuk, menganggap musuh, bahkan akan meledak dalam kemarahan dan membunuhmu. Ini adalah TAHAP PENYANGKALAN. Sebuah mekanisme Self-Defense (Pertahanan Diri). Jika rasa sakit terlalu besar, penyangkalan akan menghilangkannya. Jika seorang ibu diberitahu anaknya mati dalam kecelakaan, reaksi pertama dia sering berupa penyangkalan. Disaat bencana besar menimpa, orang biasanya diliputi oleh rasa letih dan merasa bahwa semua itu hanya mimpi buruk dan pada akhirnya dia nanti akan bangun dan segalanya oke-oke saja. Sayangnya, fakta itu keras kepala dan tidak mau pergi. Orang bisa saja hidup dalam penyangkalan utk sementara tapi cepat atau lambat kebenaranlah yang harus dia terima. Muslim diselimuti oleh kebohongan. Karena bicara hal yang menentang Islam bisa dihukum mati, tak seorangpun berani mengatakan kebenaran. Mereka yang melakukannya tidak hidup lama. Mereka dengan cepat dibungkam. Jadi bagaimana bisa anda tahu kebenaran jika semua yang anda dengar Cuma kebohongan2? Disatu pihak Quran mengklaim sebagai mukjijat dan menantang setiap orang utk membuat Surah sepertinya: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” Q2.23 Tapi lalu memerintahkan pengikutnya utk membunuh siapa saja yang berani mengkritik atau menantangnya. Jika anda berani mengambil tantangan dan membuat surah sejelek Quran, anda akan dituduh telah mengejek Islam, dimana hukumannya adalah mati. Dalam atmosfir ketidak jujuran dan penipuan ini, kebenaran jadi korbannya. Rasa sakit karena berhadapan dengan kebenaran dan menyadari semua yg kita percaya Cuma bohong sangatlah menyengsarakan. Mekanisme dan cara alami satu-satunya utk menghadapi itu hanya penyangkalan. Penyangkalan menghilangkan rasa sakit. Sebuah berkat yang membuat nyaman, meski seperti menyembunyikan kepala dalam tanah belaka. Orang tidak bisa hidup dalam penyangkalan selamanya, cepat atau lambat malam akan tiba dan dingin akan menyelimutinya dan akhirnya anda sadar bahwa anda sudah ditendang dari ruang pembodohan. Pintu telah tertutup dan kunci telah dibuang. Anda tahu terlalu banyak. Anda orang buangan. Dengan gentar anda menatap jalan yang berliku yang samar-samar dalam temaram sinar ketidak menentuan, dan pelahan anda terpaksa mengambil langkah pertama kearah ‘takdir tak dikenal’. Anda menggapai dan tersandung-sandung, mencoba tetap fokus. Tapi rasa takut menyelimuti anda dan tiap kali mencoba lari balik ke ‘ruangan’ itu anda sekali lagi berhadapan dengan pintu yang tertutup. Mayoritas muslim hidup dalam penyangkalan. Mereka tinggal didalam ruang pembodohan. Mereka tidak bisa keluar atau lari dari situ. Mereka yang ada paling dalam adalah mereka yang tidak pernah beranjak pergi. Yang disediakan bagi orang2 ‘beriman’, mereka yang tidak pernah ragu setitikpun, mereka yang tidak mau berpikir. Mereka percaya apa saja. Jika dikatakan malam itu siang dan siang itu malam, akan ditelan mentah2 oleh mereka. Mereka percaya begitu saja bahwa Muhammad naik ke surga ketujuh, bertemu Tuhan, membelah bulan dan bicara dengan para jin. Para orang percaya in itidak akan pernah bisa melihat kebenaran jika mereka secara permanen ditutupi oleh kebohongan. Semua yang mereka dengar selama ini Cuma kebohongan bahwa Islam itu baik dan kalau saja para muslim mempraktekan islam sejati, dunia akan menjadi surga; bahwa masalah2 dalam islam adalah kesalahan orang2nya (muslim). Ini semua bohong. Kebanyakan orang2 muslim adalah orang2 baik. Mereka tidak lebih buruk atau lebih baik dari orang lainnya. Islamlah yang membuat mereka melakukan kekejian2. Para muslim yang melakukan kekejian itulah yang sungguh2 islam sejati. Islam memunculkan insting kejahatan didalam diri orang. Semakin islami seseorang, semakin haus darah orang itu, semakin penuh kebencian dan semakin menjadi zombie orang tsb. Ingin sekali saya menyangkal semua yang kubaca ini. Saya ingin percaya bahwa arti sesungguhnya dari Quran itu bukan begini, tapi tidak bisa. Saya tidak bisa lagi membodohi diri sendiri dengan bilang bahwa ayat2 tidak manusiawi ini diartikan keluar konteks. Quran tidak punya konteks. Ayat2nya berjubelan, berdesakan secara acak, kadang tidak ada koherensi satu sama lain. Mereka yang baca artikel saya dan tersakiti akan apa yang saya katakan tentang Quran dan Islam sebenarnya beruntung. Mereka bisa menyalahkan saya. Mereka bisa membenci saya, mengutuk dan mengarahkan semua kemarahan mereka pada saya. Tapi, ketika saya membaca Quran dan mempelajari isinya, saya tidak bisa menyalahkan siapapun. Setelah meliwati TAHAP KEJUTAN DAN PENYANGKALAN, saya bingung dan menyalahkan diri sendiri. Saya membenci diri kenapa memakai otak, kenapa meragukan hingga menemukan kesalahan dari sesuatu yang saya anggap sebagai perkataan Tuhan. Seperti muslim lain, saya dibohongi dan menerima saja semua kebohongan, kemustahilan dan ketidak manusiawian. Saya dibesarkan sebagai orang yang religius. Saya percaya semua yang diajarkan. Kebohongan2 ini diberikan pada saya pelahan2 dalam dosis2 kecil, sejak masa kanak2. Saya tidak pernah diberi alternatif lain utk perbandingan. Ini sama seperti vaksinasi. Saya kebal akan kebenaran. Tap ketika mulai baca Quran secara serius sampai tamat dan mengerti apa isinya, saya merasa pusing. Semua kebohongan2 itu mendadak muncul dihadapan saya. Saya pernah mendengar semuanya dan menerima begitu saja. Dulu pemikiran rasional saya beku. Saya jadi tidak sensitif pada kemustahilan dari Quran. Ketika saya menemukan hal yang tidak masuk akal, saya kesampingkan dan bilang pada diri sendiri, kita harus lihat gambarannya secara luas. Gambaran Luas tsb, ternyata tidak ditemukan dimanapun kecuali dalam benak bodoh saya belaka. Saya menggambarkan Islam yang sempurna; jadi semua kemustahilan tidak mengganggu saya karena saya tidak perhatikan. Ketika saya baca seluruh Quran, saya menemukan gambaran yang sangat berbeda dari yang ada dalam benak saya selama ini. Gambaran baru islam muncul dari halaman2 Quran yang keji, tidak toleran, irasional, arogan; jauh dari islam agama damai, kesetaraan dan toleransi. Dalam kemustahilan ini, saya harus menyangkal agar tetap waras. Tapi sampai berapa lama saya bisa menyangkal kebenaran ketika kebenaran itu bersinar begitu terangnya seperti matahari diwajah saya? Saya menbaca Quran Arab agar tidak bisa menyalahkan terjemahan. Lalu saya baca terjemahannya. Saya sadar banyak terjemahan yang tidak begitu tepat. Para penterjemah berusaha keras menyembunyikan ketidak manusiawian dan kekejian Quran dengan memelintir kalimat dan menambahkan perkataan mereka sendiri dalam kurung utk memperlunaknya. Quran Arab jauh lebih mengejutkan dari yang terjemahan. Saya bingung dan tidak tahu harus lari kemana. Iman saya terguncang dan dunia saya jatuh bangun. Saya tidak bisa lagi menyangkal yang saya baca. Tapi, saya tidak mau menerima kemungkinan bahwa ini semua hanya kebohongan besar. Gimana bisa begitu, saya bertanya terus, gimana bisa begitu banyak orang tidak melihat kebenaran tapi saya melihatnya? Gimana bisa orang besar seperti Jalaladin Rumi tidak melihat Muhammad sebagai penipu dan Quran sebagai tipuannya, tapi saya bisa melihatnya? Saat itu lah saya memasuki TAHAP RASA BERSALAH. Rasa salah ini berbulan2 membebani saya. Saya benci diri sendiri karena berpikiran seperti ini. Saya merasa Tuhan sedang menguji saya. Saya malu. Saya bercakap-cakap dengan orang2 terpelajar yang saya percaya, orang yang bukan saja berpengetahuan banyak tapi yang saya pikir juga bijaksana. Yang saya dengar sedikit sekali menyejukkan hati saya. Salah seorang malah menyarankan jangan dulu baca Quran utk sementara. Dia bilang sholatlah dan baca buku2 yang menguatkan iman saya saja. Saya lakukan itu, tapi tidak membantu. Pemikiran tentang kemustahilan, kekejian dan keanehan ayat2 Quran terus berputar2 dalam pemikiran saya. Tiap kali melihat lemari buku dan menatap Quran, saya merasa sakit didalam diri. Saya ambil dan sembunyikan dibelakang buku lain. Saya pikir jika tidak memikirkannya utk beberapa waktu, pemikiran negatif saya akan hilang dan iman saya akan kembali lagi. Tapi tidak begitu. Saya menyangkal sebisa saya, sampai tidak sanggup lagi. Saya terkejut, bingung, merasa bersalah dan semua itu sangat menyakitkan. Perioda rasa bersalah ini berakhir terlalu lama. Satu hari saya memutuskan CUKUP!! Saya bilang ini bukan salah saya. Saya tidak mau menanggung rasa salah ini terus menerus, memikirkan hal2 yang tidak masuk akal saya. Jika Tuhan memberi otak pada saya, ini karena Dia kepingin saya memakainya. Jika yang saya anggap benar dan salah dibanding Quran ternyata terbalik-balik, maka itu bukan salah saya. Dia mengatakan pembunuhan itu salah, dan saya tahu itu salah karena saya sendiri tidak mau dibunuh. Lalu kenapa UtusanNya membunuh begitu banyak orang tak bersalah dan memerintahkan pengikutnya membunuh mereka yang tidak percaya? Jika pemerkosaan itu salah, dan saya tahu itu salah karena saya tidak mau hal itu terjadi pada orang yang saya cintai, lalu kenapa Nabi Allah memperkosa para wanita yang tertangkap dalam perang? Jika perbudakan itu salah, dan saya tahu itu salah karena saya juga tidak suka kehilangan kebebasan dan jadi budak, lalu kenapa nabinya Tuhan memperbudak begitu banyak orang dan membuat dirinya kaya dengan menjual para budak itu? Jika memaksakan agama itu salah, dan saya tahu itu salah karena saya juga tidak mau orang lain memaksa saya masuk agama dia, lalu kenapa Nabi menyerukan Jihad dan memerintahkan para pengikutnya untuk membunuh orang kafir, merampas harta mereka dan membagikan wanita serta anak2 sebagai rampasan perang? Jika Tuhan mengatakan sesuatu itu baik, dan saya tahu itu baik karena terasa baik bagi saya dan semua orang, lalu kenapa NabiNya melakukan kebalikan dari semua itu? Ketika rasa salah ini terangkat dari pundak saya, cemas, kecewa dan sinisme muncul. Saya merasa sedih karena telah membuang percuma banyak tahun2 dalam hidup saya, dan sedih pada semua muslim yang masih terperangkap dalam kepercayaan bodoh ini, sedih bagi mereka yang telah kehilangan nyawanya dalam nama doktrin palsu ini, sedih bagi para wanita di semua negara islam yang menderita segala macam aniaya dan tekanan. Mereka itu bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang dianiaya. Terpikir oleh saya semua perang yang dilakukan atas nama agama – begitu banyak orang mati sia-sia. Jutaan muslim meninggalkan rumah dan kerabat utk berperang atas nama Allah, tidak kembali, mereka pikir mereka sedang menyebarkan iman Allah. Mereka membantai jutaan orang tak bersalah. Peradaban dihancurkan, perpustakaan dibakar dan begitu banyak pengetahuan hilang – semuanya utk kesia-siaan. Saya ingat ayah bangun subuh2 setiap hari dan dengan air sedingin es ketika musim dingin ia memaksakan diri melakukan wudhu. Sasya ingat pulang ke rumah kelaparan dan kehausan selama bulan puasa, dan saya pikir jutaan orang yang menyiksa diri mereka dengan puasa, semuanya sia-sia belaka. Kesadaran bahwa semua yang saya percayai ternyata kebohongan dan semua yang saya lakukan Cuma kesia-siaan, dan fakta bahwa jutaan orang masih terperangkap dalam gurun kebodohan mengejar fatamorgana yang kelihatan seperti air, sangatlah mengecewakan. Sebelum itu, Tuhan selalu ada dalam pikiran saya, saya biasa bicara padaNya dalam imajinasi saya dan percakapan itu terasa nyata bagi saya. Saya pikir Tuhan sedang mengawasi dan mencatat setiap tindakan baik yang saya lakukan. Perasaan ada yang mengawasi, membimbing langkah dan melindungi saya, sangatlah nyaman. Sulit sekali utk menerima bahwa ternyata tidak ada yang namanya ALLAH, misalnya ada Tuhan itu, pastilah bukan ALLAH SWT. Saya tidak berhenti percaya pada Tuhan, tapi sejak saat itu saya yakin bahwa jika jagat ini ada penciptanya, pastilah bukan makhluk yang dipuja Muhammad, yang digambarkan Muhammad. Allah terlalu bodoh, bodoh hingga ketulang-tulangnya. Quran penuh kesalahan. Tidak mungkin pencipta Jagat begitu bodohnya, sebodoh Tuhannya Quran. Allah tidak mungkin ada dimana-mana, Allah cuma ada diotaknya orang gila belaka Saya mengerti bahwa Allah Cuma isapan jempol imajinasi Muhammad, tidak lebih dari itu. Betapa mengecewakan sekali bagi saya ketika sadar bahwa saya telah sekian tahun berdoa pada sebuah khayalan. Perasaan hilang dan kecewa ini ditemani oleh rasa sedih dan semacam rasa depresi, seakan dunia saya runtuh, saya merasa tanah tempat saya berdiri menghilang dan saya jatuh kedalam jurang yang tak berdasar. Tanpa membesar-besarkan, saya merasa ada dalam neraka. Saya kebingungan, minta-minta tolong, tapi tak ada yang bisa menolong. Saya malu akan pemikiran saya dan benci diri saya karena berpikir demikian. Rasa salah ini muncul bersamaan dengan rasa kehilangan dan depresi. Biasanya saya seorang yang berpikir positif, saya lihat sisi baik dalam segala hal. Saya selalu berpikir hari esok akan lebih baik dari hari ini. Saya bukan semacam orang yang mudah depresi. Tapi, perasaan kehilangan ini sangat meluap-luap. Saya masih ingat rasa berat dalam hati saya. Saya pikir Tuhan telah meninggalkan saya dan saya tidak tahu kenapa Dia berbuat demikian. “Apakah ini Hukuman Tuhan?” Saya terus bertanya diri demikian. Saya tidak ingat pernah menyakiti siapapun. Saya berusaha menolong orang2 yang hidupnya bersinggungan dengan hidup saya dan yg meminta tolong. Jadi, kenapa Tuhan ingin menghukum saya dengan cara ini? Apa dia menguji saya? Lalu dimana jawaban dari doa2 saya? Jika saya lulus apakah akan jadi bodoh dan berhenti pake otak? Jika demikian, utk apa dia kasih saya otak? Apakah hanya orang bodoh saja yang lulus test keimanan ini? Saya merasa dikhianati dan diperkosa. Saya tidak bisa bilang perasaan mana yang lebih dominan. Kadang saya kecewa, sedih atau cemas. Bahkan jika iman itu palsu, tetap saja terasa manis. Sangatlah nyaman utk percaya saja. Mensejajarkan perasaan sedih dan kehilangan, saya merasa terbebaskan. Anehnya saya tidak lagi merasa bingung atau bersalah. Saya tahu dengan pasti Quran itu Tipuan dan Muhammad itu penipu. Utk menaklukan rasa sedih ini saya mencoba menyibukkan diri dengan aktivitas lain. Bahkan saya ambil les dansa dan merasakan bagaimana hidup itu sebenarnya, bebas dari rasa bersalah, menikmati kehidupan dan menjadi normal. Saya sadar betapa banyak yang saya tidak dapatkan dan betapa bodohnya telah menghalangi diri dari kesenangan2 yg sederhana sekalipun. Tentu saja, penyangkalan adalah cara kultus melingkup pengaruh pada pengikutnya. Saya menyangkal diri sendiri dari kesenangan sederhana sekalipun, hidup dalam rasa takut akan Tuhan yang terus menerus, dan saya pikir itu normal2 saja. Saya bicara tentang kesenangan seperti tidur sampai pagi, berdansa, berteman bebas tanpa pilih gender atau ras, menyeruput segelas anggur dll. Dititik ini, saya memasuki tahap lain dari perjalanan spiritual saya menuju pencerahan. Saya menjadi marah. Marah karena telah percaya kebohongan2 itu selama bertahun-tahun, menyia-nyiakan begitu banyak tahun2 kehidupan saya mengejar hantu. Marah pada budaya saya yang mengkhianati saya, karena nilai2 salah yang mereka tanamkan; pada orang tua saya karena mengajarkan sebuah kebohongan; pada diri sendiri karena tidak berpikir dari dulu, karena percaya kebohongan, karena percaya pada seorang penipu; pada Tuhan karena membiarkan saya, tidak bertindak dan menghentikan kebohongan yang dilakukan dalam nama Dia. Ketika saya melihat gambaran jutaan muslim yang, dengan begitu penuh pengabdian, pergi ke Saudi Arabia, malah banyak dari mereka yg menghabiskan tabungan mereka utk melakukan Ibadah Haji. Say amarah pada kebohongan yang membesarkan orang2 ini. Ketika saya baca ada orang yang mualaf, sesuatu yang sangat disuka muslim utk digembar-gemborkan kemana-mana dan menjadi isu besar, saya jadi sedih dan marah. Saya sedih utk jiwa malang itu dan marah pada kebohongan2 yang membuatnya terperangkap. Saya marah pada dunia yang mencoba melindungi kebohongan ini, yang membelanya bahkan menganiaya orang yang berani angkat suara utk mengatakan yang sebenaranya. Bukan Cuma orang muslim, bahkan orang barat sekalipun yang tidak percaya Islam. Oke-oke saja mengkritik apapun, asal jangan mengkritik Islam. Yang mengherankan saya dan membuat saya tambah marah adalah perlawanan yang saya dapati ketika mencoba memberitahu orang lain bahwa Islam bukan kebenaran. Untungnya, kemarahan ini tidak lama. Saya tahu Muhammad bukan Utusan Tuhan tapi tukang tipu-tipu, seoarng demagog yang niatnya adalah membodohi orang dan memuaskan ambisi narsisisnya belaka. Say atahu semua kisah2 kekanak-kanakan tentang neraka dng api hebatnya dan surga dg sungai arak, susu dan madu adalah khayalan orang sakit, liar, tidak waras dan keji dari orang yang sangat butuh utk mendominasi dan memastikan otoritasnya sendiri. Saya sadar saya tidak bisa marah pada orang tua saya; karena mereka melakukan yang terbaik utk mengajarkan saya apa yang mereka pikir terbaik. Saya tidak bisa marah pada masyarakat atau budaya karena orang2 saya juga sama salah informasinya seperti orang tua dan saya sendiri. Setelah memikirkan ini, saya sadar setiap orang menjadi korbannya. Ada lebih dari semilyar korban. Bahkan mereka yang menjadi pelaku sekalipun sebenarnya adalah korban islam juga. Bagaimana bisa saya salahkan muslim jika mereka sendiri tidak tahu apa yang dimaksud Islam dan secara jujur mereka percaya, meski salah, bahwa islam adalah agama damai? Bagaimana dengan Muhammad? Apa saya harus marah padanya karena berbohong, menipu dan menyesatkan orang? Bagaimana bisa saya marah pada orang mati? Muhammad adalah orang sakit yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dia dibesarkan sebagai yatim dalam rawatan lima orang tua yang berbeda-beda sebelum dia mencapai umur delapan tahun. Segera setelah dia dekat pada seseorang, dia dilepaskan dan diberikan pada orang lainnya lagi. Ini pastilah sulit baginya dan mengubah emosinya. Sebagai anak kecil, kekurangan cinta dan sayang, dia tumbuh dengan rasa takut dan kurang percaya diri. Dia menjadi seorang narsisis. Narsisis adalah orang yang tidak cukup menerima cinta dimasa kanak-kanaknya, yang tidak mampu mencintai malah lapar perhatian, penghormatan dan pengenalan. Dia melihat dirinya pantas dipandang oleh orang lain sekeinginan dia. Tanpa pengenalan demikian dia bukan siapa-siapa. Dia menjadi seorang manipulator dan pembohong yang menyedihkan. Orang narsisis adalah Pemimpi Hebat. Mereka ingin menaklukan dunia dan mendominasi semua orang. Hanya dalam angan megalomania merekalah rasa narsisisme itu dipuaskan. Beberapa narsisis terkenal adalah Hitler, Mussolini, Stalin, Saddam Husein, Idi Amin, Pol Pot dan Mao. Orang Narsisis biasanya pintar, tapi secara emosi hancur. Jauh didalam dirinya mereka adalah orang2 ‘terganggu’. Mereka mengeset tujuan yang sangat tinggi. Tujuan mereka selalu berhubungan dengan dominasi, kekuasaan dan penghormatan. Mereka bukan siapa-siapa jika diacuhkan. Orang narsisis sering mencari pembenaran utk memaksakan kuasa mereka terhadap korban2 tak berdaya mereka. Bagi Hitler adalah partai dan ras. Bagi Mussolini adalah fasisme atau Kesatuan Bangsa melawan bangsa lain. Bagi Muhammad adalah agama. Penyebab2 ini adalah alat semata bagi usaha mereka mencari kekuasaan. Alih-alih mengenalkan dirinya, orang narsisis mengenalkan tujuan, ideologi atau agama sambil menyebutkan bahwa dirinya menjadi satu-satunya otoritas dan wakil dari tujuan2 itu. Hitler tidak meminta orang Jerman utk mencintai dirinya sebagai pribadi tapi mencintai dan menghormatinya karena dia seorang Fuhrer. Muhammad tidak meminta orang utk mematuhinya. Tapi, dia dg mudah menuntut pengikutnya mematuhi Allah dan UtusanNya. Tentu saja, Allahnya Muhammad Cuma alter ego dirinya sendiri, jadi semua pengabdian sebenarnya ditujukan pada dirinya. Dengan cara ini Muhammad bisa menerapkan kuasa atas hidup semua orang dengan bilang bahwa Dia adalah wakil Tuhan dan apa yang dia katakan adalah yang diperintahkan Tuhan. Muhammad adalah orang keji tanpa perasaan. Ketika dia merasa orang Yahudi tidak berguna lagi buatnya, dia berhenti menghormat mereka dan memusnahkan mereka semua. Dia membantai semua lelaki Bani (Suku) Quraiza dan mengusir atau membunuh yahudi2 atau kristen2 lain dari Arabia. Pastinya jika Tuhan mau memusnahkan orang2 ini dia tidak perlu pertolongan utusanNya. Dg demikian, saya lihat tidak ada alasan utk marah pada orang ‘gila dan sakit’ yang sudah mati dulu kala ini. Muhammad sendiri menjadi korban dari budaya bodoh bangsanya, korban kebodohan ibunya yang tidak memberi dia kasih saya ketika dia sangat membutuhkannya, malah memberikannya pada wanita Bedouin yang membesarkannya semata hanya agar ibunya itu tidak terhalangi dan bisa mendapatkan suami baru. Saya tidak bisa mengkritik atau menyalahkan orang2 Arab abad 7 yang bodoh karena tidak bisa membedakan Muhammad itu orang ‘sakit’ bukannya nabi, bahwa janji2 keterlaluannya, mimpi2 hebatnya itu semua hanya keinginan Muhammad belaka, disebabkan oleh komplikasi emosi patologis dan bukan karena kuasa Yang Maha Tinggi. Bagaimana bisa saya menyalahkan Arab2 bodoh itu karena mereka jadi krban orang seperti Muhammad, padahal abad kemarin saja jutaan orang Jerman jadi korban yang sama oleh Karisma Narsisis lain, yang seperti Muhammad, membuat janji2 besar dan sama2 kejinya, sama-sama manipulatif dan ambisiusnya? Setelah dipikirkan dengan lama dan berat, saya sadar tidak ada satu orangpun yang bisa jadi sasaran kemarahan saya. Saya sadar kita semua adalah korban dan sekaligus dikorbankan. Biang kerok dari semua ini adalah kebodohan. Karena kebodohan kita sendiri yang percaya pada Dukun Lepus dan dusta2nya, membuat mereka bisa menaburkan benci diantara kita dalam nama Tuhan, Ideologi dan agama Palsu. Kebencian ini yang memisahkan kita satu sama lain dan mencegah kita dari kesatuan dan pengertian bahwa kita semua adalah sama-sama umat manusia, saling tergantung satu sama lain. Saat itulah kemarahan saya hilang dan berganti dengan perasaan empati, sayang dan cinta. Saya berjanji pada diri sendiri untuk melawan kebodohan yang memisahkan umat manusia ini. Kita telah membayar dan masih membayar besar atas perpecahan kita. Perpecahan ini disebabkan oleh kebodohan dan kebodohan adalah hasil dari kepercayaan palsu dan ideologi jahat yang ditanamkan oleh orang yang secara emosi tidak sehat dan punya tujuan pribadi. Ideologi memisahkan kita. Agama menyebabkan perpecahan, benci, perang, pembunuhan dan antagonisma. Sebagai anggota umat manusia, kita tidak perlu ideologi, sebab atau agama utk bersatu. Saya sadar bahwa tujuan hidup bukan untuk percaya tapi utk meragukan. Saya sadar bahwa tak seorangpun bisa mengajar kita kebenaran karena kebenaran tidak bisa diajarkan. Kebenaran hanya bisa dialami. Tidak ada agama, filosofi atau doktrin yang bisa mengajar anda kebenaran. Kebenaran ada dalam cinta yang kita punya bagi sesama manusia, dalam tawa anak2, dalam persahabatan, dalam pertemanan, dalam cinta antara orang tua dan anaknya dan dalam hubungan kita satu sama lain. Kebenaran bukan ada dalam ideologi. Satu2nya yang nyata hanyalah Cinta. Proses dari iman menuju pencerahan adalah proses berliku dan menyakitkan. Saya pinjam istilah dari sufisme dan menamakan tujuh “Lembah” Pencerahan - Iman adalah kondisi yang pasti dalam kebodohan/ketidak tahuan. Anda akan terus berada dalam kondisi ini sampai anda dikejutkan dan dipaksa keluar dari dalamnya. Kejutan ini adalah “Lembah Pertama” Reaksi alami pertama dari kejutan ini adalah penyangkalan. Penyangkalan itu seperti perisai. Menahan rasa sakit dan melindungi anda dari derita karena keluar dari daerah nyaman. Daerah nyaman dimana kita merasa enak, akrab, tidak menemui tantangan2 baru atau yang tidak dikenal. Ini adalah “Lembah Kedua”. Pertumbuhan tidak terjadi dalam daerah nyaman. Utk maju dan berkembang serta tumbuh kita perlu keluar dari daerah nyaman ini. Kita tidak akan melakukan itu kecuali kita dikejutkan. Juga alami sekali utk menahan rasa sakit kejutan itu dengan penyangkalan. Saat beginilah kita perlu kejutan lain, dan kita mungkin memutuskan melindungi diri lagi dengan penyangkalan lain. Semakin banyak orang dihadapkan dengan fakta dan kejutan, semakin sering dia mencoba utk melindungi dirinya dengan penyangkalan2. Tapi penyangkalan tidak menghilangkan fakta2. Cuma melindungi kita sementara saja. Ketika kita dihadapkan pada fakta, pada titik tertentu kita tidka bisa terus menerus menyangkal. Mendadak kita tidak akan bisa melindungi diri lagi, dan perisai penyangkalan akan hancur. Kita tidak bisa terus menerus sembunyi. Sekali saja keraguan muncul, akan terjadi efek domino dan kita mendapatkan diri kita diserang dari semua arah dengan fakta2 yang sebelumnya kita hindari dan sangkal. Mendadak semua kemustahilan2 yang sebelumnya kita terima bahkan bela tidak lagi logis diotak kita dan kita mulai menolaknya. Kita ditarik kedalam tahap menyakitkan yaitu Kebingungan dan ini adalah “Lembah Ketiga”. Kepercayaan lama terasa tidak masuk akal, bodoh dan tidak bisa diterima, kita tidak punya pegangan lagi. Lembah ini, saya kira, adalah tahap yang paling menderita dalam perjalanan ini. Dilembah ini kita kehilangan iman kita tanpa/sebelum mendapatkan pencerahan. Kita berdiri sendiri tidak tahu dimana. Kita serasa terjun bebas. Kita meminta tolong tapi yang didapat hanya omong kosong2 yang itu-itu saja. Sepertinya mereka yang mau menolong kita itu sendiri sedang tersesat, tapi mereka seperti yakin diri. Mereka percaya apa yang mereka tidak tahu. Argumen2 mereka tidak logis sama sekali. Mereka minta kita percaya tanpa banyak tanya. Mereka memberi contoh iman orang lain. Tapi intensitas iman orang lain itu bukanlah bukti kebenaran dari apa yang mereka percaya. Kebingungan ini akhirnya menuntun kita ke “Lembah Keempat”, Rasa Salah. Anda merasa salah karena berpikir demikian. Anda merasa bersalah karena telah meragukan, telah mempertanyakan, telah tidak mengerti. Anda merasa telanjang dan malu akan pemikiran2 anda. Anda pikir ini semua salah anda sendiri jika kemustahilan yang ditampilkan dalam Kitab Suci tidak masuk akal anda. Anda pikir Tuhan meninggalkan anda atau dia sedang menguji anda. Dalam lembah ini anda dirobek-robek oleh emosi dan intelektualitas anda. Emosi tidaklah rasional, tapi sangat kuat. Anda ingin kembali ke ‘Ruang Pembodohan’: anda mati-matian ingin percaya, tapi tidak bisa. Anda telah berdosa karena berpikir. Anda telah memakan buah Kholdi, buah terlarang dari pohon Pengetahuan. Anda membuat marah Tuhan imajinasi anda. Akhirnya anda memutuskan tidak perlu lagi merasa salah karena pengertian2 belaka. Rasa salah ini bukan milik anda. Anda merasa dibebaskan tapi sekaligus dilingkupi rasa sedih utk semua kebohongan yang membuat anda ada dalam kebodohan dan membuang2 waktu. Inilah Lembah Kelima, Kekecewaan. Disaat yang sama anda dilingkupi rasa sedih. Anda merasa bebas, tapi seperti baru keluar dari penjara seumur hidup anda merasa depresi berat. Anda merasa kesepian dan, meski telah bebas, anda merasa kehilangan sesuatu. Anda merenungkan waktu2 yang terbuang. Anda pikir banyak orang percaya kebohongan dan secara bodoh mengorbankan segala sesuatu utk itu, termasuk nyawa mereka. Sejarah ditulis dengan darah orang yang terbunuh dalam nama Allah atau Tuhan2 lain. Semuanya sia-sia. Semuanya utk sebuah kebohongan! Saat itulah anda memasuki “Lembah Keenam”: Kemarahan. Anda menjadi marah pada diri anda, dan pada segalanya. Anda sadar betapa banyak hidup berharga anda sia-siakan dalam banyak kebohongan. Lalu anda sadar bahwa andalah yang beruntung telah sanggup berjalan sekian jauh dan bahwa ada banyak ratusan juta lain yang masih terkungkung dalam penyangkalan dan tidak berani keluar dari daerah nyaman mereka. Mereka masih berputar-putar di Lembah Pertama. Pada tahap ini anda sepenuhnya bebas dari agama, iman, rasa salah dan amarah, anda siap utk mengerti Kebenaran Mutakhir dan mengungkap misteri2 kehidupan. Anda penuh dengan empati dan rasa sayang. Anda siap untuk dicerahkan. Pencerahan datang ketika anda sadar bahwa kebenaran itu ada dalam cinta dan hubungan kita dengan sesama umat manusia bukan dalam sebuah agama dan kultus. Anda sadar bahwa Kebenaran itu adalah Dataran tak berjalan. Tidak ada nabi atau guru bisa mengantar anda kesana. Anda sebenarnya sekarang sudah ada disana, di Lembah Ketujuh, Lembah Pencerahan.
(Page 1 of 2, totaling 5 entries)
» next page
Competition entry by David Cummins powered by Serendipity v1.0 |
CalendarRecent EntriesPenghalalan Perselingkuhan
Tuesday, December 2 2008 Jangan Benci Mereka (By Duladi) Friday, November 28 2008 Funny Video Friday, November 28 2008 Yoga Difatwa Haram Oleh (ga perlu ditanya lagi) Thursday, November 27 2008 Kebohongan Tingkat Tinggi Wednesday, November 26 2008 Bagaimana Cara Menjadi Nabi? Wednesday, November 26 2008 Pemaksaan Tak Langsung Sunday, November 23 2008 Teroris VS Teroris Friday, November 21 2008 Wafa Sultan Menolak Islam Sunday, November 16 2008 Homa Arjomand: Lindungilah Wanita dan Anak-anak dari Shariah Sunday, November 16 2008 Popular EntriesMuslim rasis & berdarah dingin di FFI (sesuai kelakuan junjungannya)
(1904) Tentang FPI part 1(1402) Foto Pemboman Kuil Hindu di India(1361) Radiyah-Khairul, kisah pasangan muslim di negara kafir(1287) Ahli perkawinan Saudi: Pernikahan Nabi dgn anak dibawah umur(1094) kenapa yah banyak kejadian pemuda islam suka menghamili perempuan non islam?(990) Hadis: Ijin Perkosa Wanita di Hadapan Suaminya(913) Transkrip Ucapan Ali Makrus(887) Putera Tokoh Hamas Murtad: Aku telah Meninggalkan Masyarakat yang Memuliakan Teror(880) Kesaksian Ahmed Awny Shalakamy (Penipuan Licik yang Menyakiti Hati Wanita)(846) CategoriesSyndicate This Blog |
Owner login
Comments
Wed, 03.12.2008 09:45
lakum dinukum waliyadin bagimu agamamu dan bagiku agamaku.. plis jangan saling mencela
Wed, 03.12.2008 09:22
Masya Allah.ada2 aja ini bang jube.lucu banget posting diatas.mana ada di islam perselingkuhan di perbolehkan.coba deh [...]
Wed, 03.12.2008 08:56
Udahlah,anda ga usah menjelek2kan agama orang..lakukan apa yang terbaik menurut anda.bukannya bagimu agamamu dan bagiku [...]
Wed, 03.12.2008 08:07
jube...najiz...tinggal tunggu azab aja lu!!! ga kebayang orang tua lu bisa punya anak kayak setan gini...baik buruk [...]
Wed, 03.12.2008 07:55
eh..kamu belum tahu ya kalau indonesia sekarang udah punya cyber crime police ? alias polisi untuk dunia maya ? gue [...]
Wed, 03.12.2008 06:03
Wakakakakaka............. mas jefri si anjing FFI. Lu kata Bush udah ketemu Bom Atom di Iraq??? hahahaha dasar FFI [...]
Wed, 03.12.2008 04:12
memang palsu deh dan penuh penipuan. Gwa minta bukti sahih lu bilang diambil dari FFI dan ternyata lu cuma copy n paste. [...]
Wed, 03.12.2008 03:28
bukti apa yg mampu ente berikan? ente mampu buktikan ayat2 yg ada di web ini palsu? ente mampu buktikan gambar [...]
Wed, 03.12.2008 01:49
Bukti udah diberi contoh disitus yoga tapi banyak alasan yang FFI beri (yg ngak ada bukti cuma omong kosong) untuk [...]
Tue, 02.12.2008 11:56
silahkan ikuti sunnah nabi ngerampokin yahudi2 yg lewat, gw pengen liat lu brani ngerampok atau ga, palingan abis [...]
Tue, 02.12.2008 11:51
tipikal muslim sejati... sok tau, kyk tau aja lo agamanya orang berdosa itu apa
Tue, 02.12.2008 04:40
Mas Ketipu, jagn salah Amerika dong, salahin Tuhannya...................... .................... Balas dendam: 2 askar [...]
Tue, 02.12.2008 04:28
Gwa memang jujur mengikut ajaran Nabi gwa ngak dibenarkan menipu. Tapi kalo versi FFI memang boleh menipu seperti lu [...]
Tue, 02.12.2008 04:11
Mas orang berdosa, kata tuhan lu..KASIHILAH MUSUHMU..., BERDOALAH BAGI MEREKA YANG MENGANIYAYA KAMU.... tapi di situs [...]
Tue, 02.12.2008 03:37
Ketemu lagi Noni Belande. Oh!.. gwa udah baca Al-Quran tapi hadisnya cuma yang sahih aja bukan versi FFI :) Hehehe... [...]