Monday, August 10. 2009
Hukum Arab Saudi, Ancaman Terbesar Buruh Migran
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/hukum-arab-saudi-ancaman-terbesar-buruh-migran-t23353/
SUARA PEMBARUAN DAILY
Hukum Arab Saudi, Ancaman Terbesar Buruh Migran
SP/YC Kurniantoro
Sejumlah aktivis dari "Migrant Care" berunjuk rasa dengan aksi teatrikal di depan Kedutaan Besar Arab Saudi, di Jakarta, akhir tahun. Mereka mendesak Pemerintah Arab Saudi untuk memberikan amnesti kepada 40.000 buruh migran asal Indonesia tak berdokumen yang terancam dideportasi.
idak pernah terbayang di benak Wen (33), impian indah mengadu nasib di Arab Saudi justru membuahkan bencana. Alih-alih menangguk riyal, Wen justru dipulangkan ke Tanah Air dengan membawa luka fisik dan segudang aib. "Saya diperkosa oleh majikan sampai hamil dan melahirkan anak," tutur Wen, wanita asal Karawang, dengan suara bergetar menahan tangis.
Akibat perbuatan bejat sang majikan, Wen dijebloskan ke penjara Al-Malash, Riyadh. Ia dijatuhi hukuman penjara satu tahun dan cambuk 200 kali. "Dalam satu minggu, saya dikasih 50 cambukan," ungkap Wen, ketika menuturkan pengalaman pahitnya kepada SP, Kamis (6/3).
Dalam pemeriksaan, sang majikan memang akhirnya mengakui bersalah dan meminta maaf. Ia dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun. Tetapi, jerat hukum tetap tidak bisa dihindari. Hukuman Wen hanya diperingan. Sanksi penjara dan hukuman cambuk yang dijatuhkan dikurangi hingga separonya.
Istilah perkosaan tidak dikenal dalam hukum di Arab Saudi. Yang mereka kenal zina. Maka, meskipun ada pengakuan bersalah sekaligus permintaan maaf dari sang maji-kan, Wen tetap dianggap melakukan perzinaan.
Hukuman keras bagi para pelaku zina di Arab Saudi sudah sejak awal diketahui oleh Wen. Zina dimasukkan ke dalam kategori jarimah hudud, yakni pelanggaran terhadap hukum syara' yang sanksinya sudah ditetapkan dalam nash, baik Al Qur'an maupun hadis.
Persoalannya, Wen diperkosa oleh sang majikan. Musibah itu terjadi setelah Wen dibuat tak berdaya. Ketidakadilan ini dipicu fakta bahwa di dalam hukum fiqh tidak dikenal istilah perkosaan, tetapi dimasukkan dalam kategori zina.
"Saya tidak berzina! Saya diperkosa setelah dikasih obat tidur oleh majikan. Saya tidak tahu-menahu dengan apa yang ingin dilakukan majikan saya. Mengapa saya dihukum seperti orang yang sengaja berzina? Inilah hukum Arab Saudi yang sangat tidak adil," tegas Wen, dengan mata berkaca-kaca.
Dari pengamatan Wen, buruh migran Indonesia yang dihukum cambuk di penjara Al-Malash, Riyadh, rata-rata 120 orang per bulan.
Tanpa Pembekalan
Wen adalah salah satu dari buruh migran perempuan yang diberangkatkan ke perantauan tanpa dibekali pemahaman memadai mengenai budaya dan sistem hukum negara tujuan. Sementara Arab Saudi, yang memberlakukan sistem pidana berbeda dengan Indonesia, merupakan salah satu negara tujuan terbesar buruh migran asal Indonesia.
Menurut Depnakertrans, hingga pertengahan 2007 jumlah buruh migran Indonesia di Arab Saudi mencapai 980.000 orang, sebagian besar perempuan. Ironisnya, perlindungan bagi mereka kurang dipedulikan.
Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan Salma Safitri Rahayaan sangat menyayangkan pemahaman tentang kultur dan sistem hukum Arab Saudi belum diberikan pemerintah kepada para calon buruh migran. "Kebanyakan pelatihan melulu soal keterampilan," ungkap Safitri.
Pembekalan tentang kultur Arab juga lebih cenderung pada pengajaran bahasa Arab sederhana. "Hukum dan budaya Arab tidak dijadikan materi secara khusus dalam pembekalan terhadap buruh migran," ujar dia.
Tingginya buruh migran perempuan yang dipenjarakan dan dijatuhi hukuman cambuk di Arab Saudi menunjukkan kegagalan pemerintah memberikan pemahaman tentang hukum dan budaya negara itu kepada calon buruh migran sebelum berangkat.
Tuduhan Sihir
Selain zina, banyak buruh migran Indonesia yang dijerat hukum atas tuduhan melakukan sihir. Jul (29), istri Mashudin alias Didin dari Desa Gebang Kulon, Cirebon, Jawa Barat misalnya, hingga kini masih mendekam dipenjara karena dituduh melakukan guna-guna atau sihir. Mengacu budaya di sebagian wilayah Indonesia, perempuan tidak diperbolehkan membuang kuku dan rambut sembarangan ketika sedang menstruasi. Tetapi, di Arab Saudi, budaya tersebut kerap menyebabkan buruh migran perempuan dikenai tuduhan sihir.
Jul divonis 10 tahun penjara dan cambuk 1.000 kali dengan tuduhan melakukan sihir. Tuduhan dijatuhkan hanya gara-gara Jul mengumpulkan rambutnya serta memberi jamu kepada sang majikan yang sakit dengan maksud untuk mengobati. Jamu berupa seduhan jahe dan gula merah itu sendiri sebetulnya dibuat atas permintaan sang majikan.
Berbagai upaya sudah dilakukan Didin agar istrinya bisa segera dibebaskan. Baik Dubes Arab Saudi di Jakarta hingga pejabat di Departemen Luar Negeri sudah ditemui. Tetapi, tidak ada hasil yang diperoleh hingga sekarang.
"Bapak Presiden, tolonglah agar istri saya bisa dipulangkan secepatnya," ungkap Didin. Kasus yang dialami Jul juga jadi bukti, bahwa calon buruh migran Indonesia perlu mengetahui hukum dan budaya Arab Saudi sebelum diberangkatkan. [SP/Elly Burhaini Faizal]
SUARA PEMBARUAN DAILY
Hukum Arab Saudi, Ancaman Terbesar Buruh Migran
SP/YC Kurniantoro
Sejumlah aktivis dari "Migrant Care" berunjuk rasa dengan aksi teatrikal di depan Kedutaan Besar Arab Saudi, di Jakarta, akhir tahun. Mereka mendesak Pemerintah Arab Saudi untuk memberikan amnesti kepada 40.000 buruh migran asal Indonesia tak berdokumen yang terancam dideportasi.
idak pernah terbayang di benak Wen (33), impian indah mengadu nasib di Arab Saudi justru membuahkan bencana. Alih-alih menangguk riyal, Wen justru dipulangkan ke Tanah Air dengan membawa luka fisik dan segudang aib. "Saya diperkosa oleh majikan sampai hamil dan melahirkan anak," tutur Wen, wanita asal Karawang, dengan suara bergetar menahan tangis.
Akibat perbuatan bejat sang majikan, Wen dijebloskan ke penjara Al-Malash, Riyadh. Ia dijatuhi hukuman penjara satu tahun dan cambuk 200 kali. "Dalam satu minggu, saya dikasih 50 cambukan," ungkap Wen, ketika menuturkan pengalaman pahitnya kepada SP, Kamis (6/3).
Dalam pemeriksaan, sang majikan memang akhirnya mengakui bersalah dan meminta maaf. Ia dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun. Tetapi, jerat hukum tetap tidak bisa dihindari. Hukuman Wen hanya diperingan. Sanksi penjara dan hukuman cambuk yang dijatuhkan dikurangi hingga separonya.
Istilah perkosaan tidak dikenal dalam hukum di Arab Saudi. Yang mereka kenal zina. Maka, meskipun ada pengakuan bersalah sekaligus permintaan maaf dari sang maji-kan, Wen tetap dianggap melakukan perzinaan.
Hukuman keras bagi para pelaku zina di Arab Saudi sudah sejak awal diketahui oleh Wen. Zina dimasukkan ke dalam kategori jarimah hudud, yakni pelanggaran terhadap hukum syara' yang sanksinya sudah ditetapkan dalam nash, baik Al Qur'an maupun hadis.
Persoalannya, Wen diperkosa oleh sang majikan. Musibah itu terjadi setelah Wen dibuat tak berdaya. Ketidakadilan ini dipicu fakta bahwa di dalam hukum fiqh tidak dikenal istilah perkosaan, tetapi dimasukkan dalam kategori zina.
"Saya tidak berzina! Saya diperkosa setelah dikasih obat tidur oleh majikan. Saya tidak tahu-menahu dengan apa yang ingin dilakukan majikan saya. Mengapa saya dihukum seperti orang yang sengaja berzina? Inilah hukum Arab Saudi yang sangat tidak adil," tegas Wen, dengan mata berkaca-kaca.
Dari pengamatan Wen, buruh migran Indonesia yang dihukum cambuk di penjara Al-Malash, Riyadh, rata-rata 120 orang per bulan.
Tanpa Pembekalan
Wen adalah salah satu dari buruh migran perempuan yang diberangkatkan ke perantauan tanpa dibekali pemahaman memadai mengenai budaya dan sistem hukum negara tujuan. Sementara Arab Saudi, yang memberlakukan sistem pidana berbeda dengan Indonesia, merupakan salah satu negara tujuan terbesar buruh migran asal Indonesia.
Menurut Depnakertrans, hingga pertengahan 2007 jumlah buruh migran Indonesia di Arab Saudi mencapai 980.000 orang, sebagian besar perempuan. Ironisnya, perlindungan bagi mereka kurang dipedulikan.
Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan Salma Safitri Rahayaan sangat menyayangkan pemahaman tentang kultur dan sistem hukum Arab Saudi belum diberikan pemerintah kepada para calon buruh migran. "Kebanyakan pelatihan melulu soal keterampilan," ungkap Safitri.
Pembekalan tentang kultur Arab juga lebih cenderung pada pengajaran bahasa Arab sederhana. "Hukum dan budaya Arab tidak dijadikan materi secara khusus dalam pembekalan terhadap buruh migran," ujar dia.
Tingginya buruh migran perempuan yang dipenjarakan dan dijatuhi hukuman cambuk di Arab Saudi menunjukkan kegagalan pemerintah memberikan pemahaman tentang hukum dan budaya negara itu kepada calon buruh migran sebelum berangkat.
Tuduhan Sihir
Selain zina, banyak buruh migran Indonesia yang dijerat hukum atas tuduhan melakukan sihir. Jul (29), istri Mashudin alias Didin dari Desa Gebang Kulon, Cirebon, Jawa Barat misalnya, hingga kini masih mendekam dipenjara karena dituduh melakukan guna-guna atau sihir. Mengacu budaya di sebagian wilayah Indonesia, perempuan tidak diperbolehkan membuang kuku dan rambut sembarangan ketika sedang menstruasi. Tetapi, di Arab Saudi, budaya tersebut kerap menyebabkan buruh migran perempuan dikenai tuduhan sihir.
Jul divonis 10 tahun penjara dan cambuk 1.000 kali dengan tuduhan melakukan sihir. Tuduhan dijatuhkan hanya gara-gara Jul mengumpulkan rambutnya serta memberi jamu kepada sang majikan yang sakit dengan maksud untuk mengobati. Jamu berupa seduhan jahe dan gula merah itu sendiri sebetulnya dibuat atas permintaan sang majikan.
Berbagai upaya sudah dilakukan Didin agar istrinya bisa segera dibebaskan. Baik Dubes Arab Saudi di Jakarta hingga pejabat di Departemen Luar Negeri sudah ditemui. Tetapi, tidak ada hasil yang diperoleh hingga sekarang.
"Bapak Presiden, tolonglah agar istri saya bisa dipulangkan secepatnya," ungkap Didin. Kasus yang dialami Jul juga jadi bukti, bahwa calon buruh migran Indonesia perlu mengetahui hukum dan budaya Arab Saudi sebelum diberangkatkan. [SP/Elly Burhaini Faizal]
Cerita TKW Filipina
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/cerita-tkw-filipina-harus-baca-t4465/
Posted by: Flora del Mindanao on Friday, July 14, 2006 - 01:05 PM
Ini kisah nyata seorang gadis lugu dari Mindanao. Kesengsaraannya akibat tindakan seorang Muslim tulen menunjukkan wajah Islam sebenarnya.
Ini Cerita Saya
Desa saya terletak dipinggir laut didekat Zamboanga di Philippina Selatan. Majoritas penduduk adalah Muslim tapi tidak ada beda besar dgn beda2 lain di Filipina. Desa berikutnya adalah predominan Kristen dan kedua desa sangat dekat hubungannya. Kami saling memenuhi kebutuhan pasar dan ekonomi. Bahkan sering dibalai desa kami diadakan perkawinan Kristen dan sebaliknya. Kami saling menghadiri "fiesta/pesta" di desa2 lain dan perkawinan antar agama sering terjadi, karena baik perempuan maupun lelaki Muslim diijinkan menikah diluar agama mereka. Saya tidak pernah tahu bahwa sebenarnya seorang wanita Muslim dilarang Islam utk menikahi non-Muslim sampai saya meninggalkan Negara saya dan melihat realitas Islam.
Penangkapan ikan dan panen kelapa merupakan mata pencaharian utama penduduk desa kami. Kami tidak kaya namun berkecukupan. Sampai tiba hari ayah saya wafat. Ini membuat kami hamper mati kelaparan dan sbg anak tertua (usia saya 16 ketika itu) saya memutuskan utk bekerja ke Saudi.
Ini ceritanya.
Hari sangat terik saat saya menginjak kaki di Saudi sbg gadis muda utk bekerja sbg pembantu rumah tanggan atau 'khadama,' begitu sebutannya dlm bahasa Arab. Suasananya begitu berebda dgn suasana tropis Filipina, tetapi ini pengorbanan yg harus saya lakukan demi kelangsungan hidup seluruh keluarga saya. Mereka sepenuhnya tergantung pada saya; makanan, pakaian, pendidikan mereka saya semua yg tanggung.
Saya dikatakan akan bekerja di rumah seorang Imam Salafi yg ternama dan saya benar2 merasa beruntung bisa bekerja utk selebriti macam itu.
Pekerjaan dimulai subuh utk mempersiapkan teh dgn madu utk sarapan pagi bagi sang Imam sebelum solat subuhnya. Setelah itu membangunkan anak2, memberi mereka makan, mengenakan baju dan mengantar mereka ke sekolah. Setelah sampai dirumah, nyonya rumah sudah menunggu dan sayapun harus membersihkan lantai, mencuci baju, mempersiapkan makan siang, menjemput anak2 dari sekolah, menyajikan makanan, mencuci piring, mencuci mobil2, bermain dgn anak2, menenteng belanjaan nyonya rumah, mempersiapkan makanan malam dan lagi2 cuci piring, memandikan anak2, mempersiapkan mereka utk tidur, mengumpulkan baju2 kotor, menyajikan teh, dsb dsb.
Waktu makan saya sangat singkat: makanan harus cepat ditelan, biasanya sisa2 makanan keluarga pemilik rumah. Kalau saya tidak cepat menanggapi permintaan mereka, saya akan dibentak atau ditampar, tetapi biasanya saya tidak punya waktu utk bersedih karena pekerjaan begitu banyak. Waktu istirahat juga tidak banyak.
Tahun pertama saya sangat meletihkan. Ramadan khususnya adalah waktu yg paling berat karena saya mencoba puasa sambil bekerja. Apalagi kalau keluarga itu makam sampai malam larut dan bangun pagi utk menyiapkan sahur. Saya harus tidur terlambat dan bangun sangat pagi sambil terus meladeni setiap keperluan mereka. Waktu tidur selama 4 jam perhari menjadi hanya SATU JAM. Saya sampai harus diam2 tidur sejenak selama 5 atau 10 menit di dapur. Muslim sangat gembira dgn datangnya Idul Fitri, tapi bagi para TKW, ini tidak lain dari kolaps fisik akibat keletihan dan kurang tidur selama bulan 'suci' itu.
Begitulah saya menghabiskan tahun kedua saya di Saudi dan memikirkan apakah akan liburan sebulan tapi tidak menerima gaji atau bekerja terus. Tahun kedua ditandai dgn memburuknya sifat sang imam, dgn semakin banyaknya cekcok rumah tangga, dgn sang imam (Abdul Rahman) MEMUKUL isternya atau salah seorang pembantu. Ternyata sang Imam memiliki kesulitan dgn madrassah yg dikepalainya dan melampiaskan frustrasinya kpd isteri dan tkw2nya. Nah, sang nyonya rumah pun melampiaskan frustrasinya, bukan pada suaminya, tetapi pada stafnya.
Entah kami dibentak, ditampar atau dipukul dgn keras kalau sesuatu tidak dilakukan sesuai dgn keinginannya.
Situasi makin parah pada bulan Juli ketika suatu malam terdengar rebut besar antara sang Imam dgn nyonya rumah. Akhirnya sang Imam memanggil sopirnya utk membawa nyonya rumah kembali kpd keluarganya dgn segala harta miliknya. Tadinya kami menyangka bahwa nyonya rumah telah diceraikan. Ternyata, karena sang Imam tidak rela isterinya mendpt kesempatan kawin dgn orang lain, maka ia tidak mau menceraikannya dan membiarkannya dalam keadaan tidak jelas, bak tahanan dalam rumah orang tuanya.
Ini tidak memusingkan sang Imam karena ia memiliki kesempatan utk menikahi banyak wanita lain. Sementara sang nyonya harus menahan aib tanpa kemungkinan perbaikan nasib. Perpisahannya dari suaminya merupakan aib bagi orang tuanya juga, tetapi utk membawa kasus ini ke pengadilan shariah tidak mungkin karena sang Imam adalah orang yg punya kuasa. Malah tindakan itu akan semakin membawa malu bagi keluarga isteri. Lebih baik memenjarakannya dirumah sendiri – tidak cerai, tidak menikah, yahh … hanya eksis dari hari ke hari.
Bagi kami nasibpun tidak membaik. Imam Abdul Rahman selalu marah dgn kami tanpa alas an jelas dan pasti ada yg dipukulinya. Kami tidak diberi liburan dan pupuslah harapan saya pulang menjenguk keluarga. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan dgn kesengsaraan berikutnya.
Suatu malam, setelah anak2 dan sang Imam tidur, saya akhirnya sempat ke kamar dan bersiap2 utk tidur. Setelah saya selesai mandi dan menarik gorden kamar mandi saya tiba2 melihat sang imam berdiri disitu !! Dgn baju tidurnya diangkat dan salah satu tangannya memegang alat kelaminnya !! Saya kaget setengah mati dan mencoba menutupi tubuh saya tetapi ia tiba2 menarik saya dari kamar mandi dan melemparkan saya ke kasur. Sambil masih shock saya mencoba mendorongnya tetapi kepala saya dipukul keras oleh genggaman tangannya dan saya terpelanting. Ia segera menempatkan lututnya diantara betis saya dan memaksa membuka betis saya sambil tangan2nya meraih dgn kasar buah dada saya. Saya memohon agar ia tidka melakukan ini karena saya masih perawan dan hanya suami saya yg boleh melihat apa yg dilihatnya. Sakit di kepala saya sampai saya lupakan saat ia mendorong alat kelaminnya dgn keras kedalam tubuh saya dan menggenjot2 diatas saya sampai ia meraung2 setelah puas. Ia lalu meninggalkan tubuh saya dan membasuh dirinya dgn kain kasur dan mengenakan celananya dan keluar dari kamar saya. Saat ia mengunci pintu dari luar, saya ingat isakan tangis saya sendiri.
Minggu berikutnya benar2 spt di neraka setiap kali ia masuk kamar saya. Kadang ia memaksakan diri sekali saja, tapi kadang juga sampai 2 atau 3 kali. Selama 2 minggu pertama saya tidak boleh keluar kamar saya dan pembantu dari India,
Mira, menyelundupkan makanan utk saya. Akhirnya, suatu hari sang Imam mengatakan bahwa saya boleh keluar selama saya tidak mengatakan kpd siapa2 dan tidak mencoba melarikan diri. Katanya, ini haknya yg tertera dlm Qur'an (saya merupakan ‘kepemilikan tangan kanannya,’ Q.23:6) dan setiap usaha melarikan diri akan dikenakan hukuman pukulan dan lebih parah lagi. Ia memaksa saya membuka pakaian dan mengambil foto2 saya dan melakukan hal2 menjijikkan yang saya sendiri belum pernah bayangkan. Katanya, ini akan ditunjukkannya kpd polisi, utk membuktikan "rendahnya moral" saya dan foto2 ini akan dikirim ke desa saya kalau saya membocorkan semuanya atau mencoba melarikan diri.
Saya tidak ingat bgm saya masih bisa melakukan pekerjaan rumah tangga karena badan saya penuh kesakitan dan say jijik terhdp diri saya sendiri. Saya spt robot yang hanya bergerak dari kanan ke kiri tanpa arti sedikitpun. Saya tahanan dlm rumah ini tanpa hak sedikitpun. Saya diperkosa dan dinodai oleh lelaki ini selama TIGA tahun dan satu2nya alas an baginya adalah bahwa saya memang haknya, kepemilikan tangan kanannya.
Saya tidak lebih dari seorang budak sex. Setiap malam saya menangis dan bertanya apakah ada lelaki yg masih menginginkan mahluk hina spt saya ini.
Saat giliran saya membersihkan madrasahnya, saya heran melihat seorang siswa yg saya yakin orang Filipina. Ia juga melihat saya dan bertanya apakah saya suku Moro. Saya mengatakan ya, tetapi cepat pergi karena takut ada yg melihat kami berbicara.
Saya begitu bahagia bisa mendapatkan namanya (Seif) dan kami bisa mencuri2 wakut utk ngobrol (saat tidak ada orang) dlm bahasa ibu yg begitu saya cintai. Ini spt hadiah yg datang dari surga. Seif adalah satu2nya alas an saya utk hidup. Saya merasa disenangi dan dihormati.
Satu tahun lagi lewat dan hati saya hancur ketika mengatakan bahwa sang imam akan ke Filipina Selatan dgn Seif utk merekrut siswa baru. Ya, saya bahagia kalau sang imam bisa pergi utk beberapa waktu tetapi saya tetap waswas. Ia tidak mengijinkan say autk menulis surat kpd ibu saya dan setelah dikerangkeng selama 5 tahun saya tidak yakin ibu dan adik2nya saya tahu bahwa saya masih hidup. Kedutaan Filipina pernah berkunjung ke rumah sang imam, 2 tahun sebelumnya tapi ia mengatakan bahwa saya melarikan dirisetahun yg lalu.
Utk itu saya menulis surat satu halaman kpd ibu saya dan meminta dgn sangat agar Seif tidak membocorkannya pada sang Imam. Saya tidak pernah menceritakan pengalaman saya, karena saya yakin ia tidak akan mempercayai saya, shg saya
Juga memintanya agar tidak membaca surat saya ini.Seif tidak mungkin akan menyangka sang imam berkelakuan buruk. Walau ia baik pada saya, ia tetap seorang muslim yg dipengaruhi Imam AbdulRahman.
Dan jangan lupa bahwa sbg lelaki Muslim ia tidak akan pernah menerima seorang wanita yg diperkosa dan dinodai spt saya, karena pihak lelaki akan selalu menyalahkan sang wanita.
Hari berikutnya, Seif dan sang Imam pergi dlm mobil besar menuju airport di
Dhahran. Dan perasaan saya semakin tidak enak; apakah Seif bisa dipercaya ?
Imam Abdul Rahman juga memiliki asisten madrasah, imam dari Mesir bernama
Sheikh Ahmed El-Shamsi. Suatu hari Sheikh Ahmed melihat saya sedang membersihkan kantornya dan menyuruh saya utk duduk. Saya sangat takut padanya. Ia duduk sangat dekat dg nsaya di sofa dan menawarkan minuman. Dan betul dugaan saya, ia menaruh tangannya pada betis saya dan memegangnya erat2.
Beberapa menit kemudian ia mulai mencium saya sambill jenggot kasarnya didorong ke muka saya. Saya mendorongya dan Sheikh Ahmed mulai mengata-ngatai saya dan mengatakan bahwa ia tahu bahwa saya lonte dan tukang sihir yg melakukan black magic terhdp sang Imam. Ia kemudian menarik abaya hitam saya dan memukuli saya saat saya menahannya. Akhirnya ia berhasil menelanjangi buah dada saya sambil merebah diatas saya dan menarik celananya. Ia memperkosa saya. Jadi, tanpa Imam Abdul Rahmanpun saya tidak selamat.
Sang Imam tinggal di Filipina selama sebulan dan Sheikh Ahmed menyuruh saya masuk kantornya beberapa kali dalam seminggu. Saya berpura2 tidak enak badan tapi ia mengirim 2 siswa utk membawa saya ke dokter dan kemudian kerumahnya.
Pemerkosaan oleh Sheikh Ahmed hanya berakhir saat darah saya dianggapnya najis. Satu2nya teman saya, Mira, memberi saya obat yg membuat saya semakin banyak mengeluarkan darah. Setelah seminggu Sheikh Ahmed tidak percaya bahwa saya masih juga menses dan ia ingin melihat buktinya dng membuka celana saya. Ia berteriak pada saya dan menuduh saya nenek sihir dan mengusir saya.
Ketika sang imam kembali, hati saya semakin dagdigdug. Apakah siksaan akan berlanjut lagi ? Dan memang iya, belum lama setelah ia kembali ia sudah mengobrak abrik tubuh saya kembali. Ia sangat biadab dgn saya malam itu dan saya merasakan sakit luar biasa. Setleah ketiga kalinya ia membersihkan badannya (setelah orgasme) ia melihat darah mengalir dari vagina saya dan ia memulai berteriak2 dan memukuli wajah saya. Ia menendang perut, dada dan muka saya. Saya yakin saya pingsan karena yg saya ingat hanyalah tamparannya dan teriakannya dan ia mendorong saya agar meninggalkan kamarnya. Saya sampai jatuh 2 kali. Ia menendang saya sampai saya bergelinding di koridor. Saya mencoba berdiri tapi saya jatuh lagi dgn meninggalkan bekas2 darah dibelakang saya.
Ia membanting pintunya dan setelah ia membukanya kembali ia melempar selembar kertas pada saya saat saya terbaring telanjang di lantai. Mata saya remang2 dan tidak bisa melihat jelas tetapi ternyata kertas itu adalah surat saya kpd ibu saya. ‘Ayo, ambillah !’ teriak si imam. "Seif-mu itu yg memberikannya kpd saya sebelum ia mati shahid!" Ia kemudian membanting pintunya lagi
Satu hal yg saya ingat adalah ketika saya bangun di kasur saya, kesakitan, dgn Mira diuduk disebelah saya. Ia membersihkan wajah saya dgn kain basah dan merasa harus muntah. Saya tidak dapat bangun dari tempat tidur dan Mira membantu saya muntah penuh darah. Mira panic melihat saya dan menyuru supir mengantar saya ke rumah sakit. Tapi sang supir takut dan mengatkaan bahwa sang imam pasti akan melarangnya. Tetapi Mira meluap marah dan sambil menutupi tubuh saya yg telanjang itu, ia berteriak kpdnya agar pergi dan membusuk di neraka.
Saya antara sadar dan tidak sadar dan suatu hari saya bangun dan melihat seorang perawat berbicara kpd saya dan bertanya apakah saya bisa melihatnya.
Ketika saya bangun saya merasa sakit di tangan saya dan melihat ada perban dan tabung dan mengantarkan cairan ke tubuh saya. Saya ternyata masih dikamar saya tetapi sebuah botol obat bergantung dari belakang kursi didekat kasur saya. Mira juga berada didekat saya.
Selama terbaring lemah ini saya punya waktu utk berpikir ttg nasib saya dan ajaran Quran. Mana mungkin itu ajaran nabi muhamad saw ? Saya sering mengintip dan mendengar ajaran Imam dan guru2 Salafi lain yg tidak mengerti Islam yg benar. Ternyata Islam yg benar sangat berbeda dgn Islam yg saya kenali pada masa kecil saya. Islam yg diajarkan ini penuh dgn kebencian, tetapi mereka mengatakan, memang inilah Islam yg asli dari nabi yg asli.
Pendek kata, setelah 10 hari saya bisa bangun dan pergi ke WC tanpa bantuan Mira. Setelah 3 hari kemudian saya sanggup membantu di rumah, tapi muncullah sang Imam yang mengatakan bahwa ia akan membutuhkan saya dlm 2 hari.
Saya panic dan malam itu juga saya melarikan diri dari rumah itu. Saya tidak tahu bgm saya akhirnya sampai di dekat sebuah toko yg dimiliki orang Pakistan tua. Ia kaget melihat perempuan sendirian diluar. Ia cepat2 menarik saya kedalam tokonya dan semakin heran ketika melihat tubuh saya penuh luka cacat. Ia sampai meneteskan air mata.
Pendek kata, ia orang baik dan bersedia membawa saya ke kedutaan besar Filipina di Riyadh, yg berjarak 325 kilometer dari tempat saya ini.
Setelah 4 jam naik mobil lewat gurun pasir, kami menemukan kedutaan Filipina. Seorang satpam Filipino muncul dan cepat2 membawa saya masuk. Katanya saya beruntung karena polisi sangat sigap menangkap dan menghindari orang2 spt saya mencapai kedutaan. Saya juga sempat memeluk erat sang supir Pakistan itu dan berterima kasih padanya.
Namun sang Imam tidak semudah itu menerima kepergian saya. Ia melaporkan saya pada polisi dan mengatakan bahwa saya telah mencuri barang2 berharganya. 7 bulan saya disekap di kedutaan Filipina sampai keluarga saya memiliki cukup uang utk membayar sang Imam shg ia rela membatalkan tuduhan. Salah seorang pengacaranya juga meminta saya menandatangani surat bahwa saya telah melakukan tindakan tidak bermoral saat tinggal dirumahnya dan berjanji bahwa ia akan menggunakan alasan ini utk memberatkan saya. Foto2 jijik itu juga akan digunakannya utk mendiskreditkan saya. Saya tidak peduli dgn masalah hukum, tapi aib yg saya bawa bagi keluarga dan tetangga terlalu berat bagi saya.
Sampai kapan kesengsaraan ini berlanjut ?
...
-----------------------------------------
Komentar pembaca : Memang sulit membaca kisah ini terus menerus. Saya sampai benar2 geram dan berhenti sampai tiga kali dan menarik nafas diam2. Cerita ini pantas dijadikan film.
Tapi ada juga Muslim baik, spt si pemilik toko Pakistan itu yg sampai mengendarai mobilnya selama 4 jam ke kedutaan Filipina. Tetapi muslim2 macam ini yg harus kami raih dan bantu meninggalkan Islam. Kami tidak menolak Muslim, tetapi kami menolak Islam yg membuat orang2 baik spt kesurupan terhdp terhdp kafir dan wanita.
Posted by: Flora del Mindanao on Friday, July 14, 2006 - 01:05 PM
Ini kisah nyata seorang gadis lugu dari Mindanao. Kesengsaraannya akibat tindakan seorang Muslim tulen menunjukkan wajah Islam sebenarnya.
Ini Cerita Saya
Desa saya terletak dipinggir laut didekat Zamboanga di Philippina Selatan. Majoritas penduduk adalah Muslim tapi tidak ada beda besar dgn beda2 lain di Filipina. Desa berikutnya adalah predominan Kristen dan kedua desa sangat dekat hubungannya. Kami saling memenuhi kebutuhan pasar dan ekonomi. Bahkan sering dibalai desa kami diadakan perkawinan Kristen dan sebaliknya. Kami saling menghadiri "fiesta/pesta" di desa2 lain dan perkawinan antar agama sering terjadi, karena baik perempuan maupun lelaki Muslim diijinkan menikah diluar agama mereka. Saya tidak pernah tahu bahwa sebenarnya seorang wanita Muslim dilarang Islam utk menikahi non-Muslim sampai saya meninggalkan Negara saya dan melihat realitas Islam.
Penangkapan ikan dan panen kelapa merupakan mata pencaharian utama penduduk desa kami. Kami tidak kaya namun berkecukupan. Sampai tiba hari ayah saya wafat. Ini membuat kami hamper mati kelaparan dan sbg anak tertua (usia saya 16 ketika itu) saya memutuskan utk bekerja ke Saudi.
Ini ceritanya.
Hari sangat terik saat saya menginjak kaki di Saudi sbg gadis muda utk bekerja sbg pembantu rumah tanggan atau 'khadama,' begitu sebutannya dlm bahasa Arab. Suasananya begitu berebda dgn suasana tropis Filipina, tetapi ini pengorbanan yg harus saya lakukan demi kelangsungan hidup seluruh keluarga saya. Mereka sepenuhnya tergantung pada saya; makanan, pakaian, pendidikan mereka saya semua yg tanggung.
Saya dikatakan akan bekerja di rumah seorang Imam Salafi yg ternama dan saya benar2 merasa beruntung bisa bekerja utk selebriti macam itu.
Pekerjaan dimulai subuh utk mempersiapkan teh dgn madu utk sarapan pagi bagi sang Imam sebelum solat subuhnya. Setelah itu membangunkan anak2, memberi mereka makan, mengenakan baju dan mengantar mereka ke sekolah. Setelah sampai dirumah, nyonya rumah sudah menunggu dan sayapun harus membersihkan lantai, mencuci baju, mempersiapkan makan siang, menjemput anak2 dari sekolah, menyajikan makanan, mencuci piring, mencuci mobil2, bermain dgn anak2, menenteng belanjaan nyonya rumah, mempersiapkan makanan malam dan lagi2 cuci piring, memandikan anak2, mempersiapkan mereka utk tidur, mengumpulkan baju2 kotor, menyajikan teh, dsb dsb.
Waktu makan saya sangat singkat: makanan harus cepat ditelan, biasanya sisa2 makanan keluarga pemilik rumah. Kalau saya tidak cepat menanggapi permintaan mereka, saya akan dibentak atau ditampar, tetapi biasanya saya tidak punya waktu utk bersedih karena pekerjaan begitu banyak. Waktu istirahat juga tidak banyak.
Tahun pertama saya sangat meletihkan. Ramadan khususnya adalah waktu yg paling berat karena saya mencoba puasa sambil bekerja. Apalagi kalau keluarga itu makam sampai malam larut dan bangun pagi utk menyiapkan sahur. Saya harus tidur terlambat dan bangun sangat pagi sambil terus meladeni setiap keperluan mereka. Waktu tidur selama 4 jam perhari menjadi hanya SATU JAM. Saya sampai harus diam2 tidur sejenak selama 5 atau 10 menit di dapur. Muslim sangat gembira dgn datangnya Idul Fitri, tapi bagi para TKW, ini tidak lain dari kolaps fisik akibat keletihan dan kurang tidur selama bulan 'suci' itu.
Begitulah saya menghabiskan tahun kedua saya di Saudi dan memikirkan apakah akan liburan sebulan tapi tidak menerima gaji atau bekerja terus. Tahun kedua ditandai dgn memburuknya sifat sang imam, dgn semakin banyaknya cekcok rumah tangga, dgn sang imam (Abdul Rahman) MEMUKUL isternya atau salah seorang pembantu. Ternyata sang Imam memiliki kesulitan dgn madrassah yg dikepalainya dan melampiaskan frustrasinya kpd isteri dan tkw2nya. Nah, sang nyonya rumah pun melampiaskan frustrasinya, bukan pada suaminya, tetapi pada stafnya.
Entah kami dibentak, ditampar atau dipukul dgn keras kalau sesuatu tidak dilakukan sesuai dgn keinginannya.
Situasi makin parah pada bulan Juli ketika suatu malam terdengar rebut besar antara sang Imam dgn nyonya rumah. Akhirnya sang Imam memanggil sopirnya utk membawa nyonya rumah kembali kpd keluarganya dgn segala harta miliknya. Tadinya kami menyangka bahwa nyonya rumah telah diceraikan. Ternyata, karena sang Imam tidak rela isterinya mendpt kesempatan kawin dgn orang lain, maka ia tidak mau menceraikannya dan membiarkannya dalam keadaan tidak jelas, bak tahanan dalam rumah orang tuanya.
Ini tidak memusingkan sang Imam karena ia memiliki kesempatan utk menikahi banyak wanita lain. Sementara sang nyonya harus menahan aib tanpa kemungkinan perbaikan nasib. Perpisahannya dari suaminya merupakan aib bagi orang tuanya juga, tetapi utk membawa kasus ini ke pengadilan shariah tidak mungkin karena sang Imam adalah orang yg punya kuasa. Malah tindakan itu akan semakin membawa malu bagi keluarga isteri. Lebih baik memenjarakannya dirumah sendiri – tidak cerai, tidak menikah, yahh … hanya eksis dari hari ke hari.
Bagi kami nasibpun tidak membaik. Imam Abdul Rahman selalu marah dgn kami tanpa alas an jelas dan pasti ada yg dipukulinya. Kami tidak diberi liburan dan pupuslah harapan saya pulang menjenguk keluarga. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan dgn kesengsaraan berikutnya.
Suatu malam, setelah anak2 dan sang Imam tidur, saya akhirnya sempat ke kamar dan bersiap2 utk tidur. Setelah saya selesai mandi dan menarik gorden kamar mandi saya tiba2 melihat sang imam berdiri disitu !! Dgn baju tidurnya diangkat dan salah satu tangannya memegang alat kelaminnya !! Saya kaget setengah mati dan mencoba menutupi tubuh saya tetapi ia tiba2 menarik saya dari kamar mandi dan melemparkan saya ke kasur. Sambil masih shock saya mencoba mendorongnya tetapi kepala saya dipukul keras oleh genggaman tangannya dan saya terpelanting. Ia segera menempatkan lututnya diantara betis saya dan memaksa membuka betis saya sambil tangan2nya meraih dgn kasar buah dada saya. Saya memohon agar ia tidka melakukan ini karena saya masih perawan dan hanya suami saya yg boleh melihat apa yg dilihatnya. Sakit di kepala saya sampai saya lupakan saat ia mendorong alat kelaminnya dgn keras kedalam tubuh saya dan menggenjot2 diatas saya sampai ia meraung2 setelah puas. Ia lalu meninggalkan tubuh saya dan membasuh dirinya dgn kain kasur dan mengenakan celananya dan keluar dari kamar saya. Saat ia mengunci pintu dari luar, saya ingat isakan tangis saya sendiri.
Minggu berikutnya benar2 spt di neraka setiap kali ia masuk kamar saya. Kadang ia memaksakan diri sekali saja, tapi kadang juga sampai 2 atau 3 kali. Selama 2 minggu pertama saya tidak boleh keluar kamar saya dan pembantu dari India,
Mira, menyelundupkan makanan utk saya. Akhirnya, suatu hari sang Imam mengatakan bahwa saya boleh keluar selama saya tidak mengatakan kpd siapa2 dan tidak mencoba melarikan diri. Katanya, ini haknya yg tertera dlm Qur'an (saya merupakan ‘kepemilikan tangan kanannya,’ Q.23:6) dan setiap usaha melarikan diri akan dikenakan hukuman pukulan dan lebih parah lagi. Ia memaksa saya membuka pakaian dan mengambil foto2 saya dan melakukan hal2 menjijikkan yang saya sendiri belum pernah bayangkan. Katanya, ini akan ditunjukkannya kpd polisi, utk membuktikan "rendahnya moral" saya dan foto2 ini akan dikirim ke desa saya kalau saya membocorkan semuanya atau mencoba melarikan diri.
Saya tidak ingat bgm saya masih bisa melakukan pekerjaan rumah tangga karena badan saya penuh kesakitan dan say jijik terhdp diri saya sendiri. Saya spt robot yang hanya bergerak dari kanan ke kiri tanpa arti sedikitpun. Saya tahanan dlm rumah ini tanpa hak sedikitpun. Saya diperkosa dan dinodai oleh lelaki ini selama TIGA tahun dan satu2nya alas an baginya adalah bahwa saya memang haknya, kepemilikan tangan kanannya.
Saya tidak lebih dari seorang budak sex. Setiap malam saya menangis dan bertanya apakah ada lelaki yg masih menginginkan mahluk hina spt saya ini.
Saat giliran saya membersihkan madrasahnya, saya heran melihat seorang siswa yg saya yakin orang Filipina. Ia juga melihat saya dan bertanya apakah saya suku Moro. Saya mengatakan ya, tetapi cepat pergi karena takut ada yg melihat kami berbicara.
Saya begitu bahagia bisa mendapatkan namanya (Seif) dan kami bisa mencuri2 wakut utk ngobrol (saat tidak ada orang) dlm bahasa ibu yg begitu saya cintai. Ini spt hadiah yg datang dari surga. Seif adalah satu2nya alas an saya utk hidup. Saya merasa disenangi dan dihormati.
Satu tahun lagi lewat dan hati saya hancur ketika mengatakan bahwa sang imam akan ke Filipina Selatan dgn Seif utk merekrut siswa baru. Ya, saya bahagia kalau sang imam bisa pergi utk beberapa waktu tetapi saya tetap waswas. Ia tidak mengijinkan say autk menulis surat kpd ibu saya dan setelah dikerangkeng selama 5 tahun saya tidak yakin ibu dan adik2nya saya tahu bahwa saya masih hidup. Kedutaan Filipina pernah berkunjung ke rumah sang imam, 2 tahun sebelumnya tapi ia mengatakan bahwa saya melarikan dirisetahun yg lalu.
Utk itu saya menulis surat satu halaman kpd ibu saya dan meminta dgn sangat agar Seif tidak membocorkannya pada sang Imam. Saya tidak pernah menceritakan pengalaman saya, karena saya yakin ia tidak akan mempercayai saya, shg saya
Juga memintanya agar tidak membaca surat saya ini.Seif tidak mungkin akan menyangka sang imam berkelakuan buruk. Walau ia baik pada saya, ia tetap seorang muslim yg dipengaruhi Imam AbdulRahman.
Dan jangan lupa bahwa sbg lelaki Muslim ia tidak akan pernah menerima seorang wanita yg diperkosa dan dinodai spt saya, karena pihak lelaki akan selalu menyalahkan sang wanita.
Hari berikutnya, Seif dan sang Imam pergi dlm mobil besar menuju airport di
Dhahran. Dan perasaan saya semakin tidak enak; apakah Seif bisa dipercaya ?
Imam Abdul Rahman juga memiliki asisten madrasah, imam dari Mesir bernama
Sheikh Ahmed El-Shamsi. Suatu hari Sheikh Ahmed melihat saya sedang membersihkan kantornya dan menyuruh saya utk duduk. Saya sangat takut padanya. Ia duduk sangat dekat dg nsaya di sofa dan menawarkan minuman. Dan betul dugaan saya, ia menaruh tangannya pada betis saya dan memegangnya erat2.
Beberapa menit kemudian ia mulai mencium saya sambill jenggot kasarnya didorong ke muka saya. Saya mendorongya dan Sheikh Ahmed mulai mengata-ngatai saya dan mengatakan bahwa ia tahu bahwa saya lonte dan tukang sihir yg melakukan black magic terhdp sang Imam. Ia kemudian menarik abaya hitam saya dan memukuli saya saat saya menahannya. Akhirnya ia berhasil menelanjangi buah dada saya sambil merebah diatas saya dan menarik celananya. Ia memperkosa saya. Jadi, tanpa Imam Abdul Rahmanpun saya tidak selamat.
Sang Imam tinggal di Filipina selama sebulan dan Sheikh Ahmed menyuruh saya masuk kantornya beberapa kali dalam seminggu. Saya berpura2 tidak enak badan tapi ia mengirim 2 siswa utk membawa saya ke dokter dan kemudian kerumahnya.
Pemerkosaan oleh Sheikh Ahmed hanya berakhir saat darah saya dianggapnya najis. Satu2nya teman saya, Mira, memberi saya obat yg membuat saya semakin banyak mengeluarkan darah. Setelah seminggu Sheikh Ahmed tidak percaya bahwa saya masih juga menses dan ia ingin melihat buktinya dng membuka celana saya. Ia berteriak pada saya dan menuduh saya nenek sihir dan mengusir saya.
Ketika sang imam kembali, hati saya semakin dagdigdug. Apakah siksaan akan berlanjut lagi ? Dan memang iya, belum lama setelah ia kembali ia sudah mengobrak abrik tubuh saya kembali. Ia sangat biadab dgn saya malam itu dan saya merasakan sakit luar biasa. Setleah ketiga kalinya ia membersihkan badannya (setelah orgasme) ia melihat darah mengalir dari vagina saya dan ia memulai berteriak2 dan memukuli wajah saya. Ia menendang perut, dada dan muka saya. Saya yakin saya pingsan karena yg saya ingat hanyalah tamparannya dan teriakannya dan ia mendorong saya agar meninggalkan kamarnya. Saya sampai jatuh 2 kali. Ia menendang saya sampai saya bergelinding di koridor. Saya mencoba berdiri tapi saya jatuh lagi dgn meninggalkan bekas2 darah dibelakang saya.
Ia membanting pintunya dan setelah ia membukanya kembali ia melempar selembar kertas pada saya saat saya terbaring telanjang di lantai. Mata saya remang2 dan tidak bisa melihat jelas tetapi ternyata kertas itu adalah surat saya kpd ibu saya. ‘Ayo, ambillah !’ teriak si imam. "Seif-mu itu yg memberikannya kpd saya sebelum ia mati shahid!" Ia kemudian membanting pintunya lagi
Satu hal yg saya ingat adalah ketika saya bangun di kasur saya, kesakitan, dgn Mira diuduk disebelah saya. Ia membersihkan wajah saya dgn kain basah dan merasa harus muntah. Saya tidak dapat bangun dari tempat tidur dan Mira membantu saya muntah penuh darah. Mira panic melihat saya dan menyuru supir mengantar saya ke rumah sakit. Tapi sang supir takut dan mengatkaan bahwa sang imam pasti akan melarangnya. Tetapi Mira meluap marah dan sambil menutupi tubuh saya yg telanjang itu, ia berteriak kpdnya agar pergi dan membusuk di neraka.
Saya antara sadar dan tidak sadar dan suatu hari saya bangun dan melihat seorang perawat berbicara kpd saya dan bertanya apakah saya bisa melihatnya.
Ketika saya bangun saya merasa sakit di tangan saya dan melihat ada perban dan tabung dan mengantarkan cairan ke tubuh saya. Saya ternyata masih dikamar saya tetapi sebuah botol obat bergantung dari belakang kursi didekat kasur saya. Mira juga berada didekat saya.
Selama terbaring lemah ini saya punya waktu utk berpikir ttg nasib saya dan ajaran Quran. Mana mungkin itu ajaran nabi muhamad saw ? Saya sering mengintip dan mendengar ajaran Imam dan guru2 Salafi lain yg tidak mengerti Islam yg benar. Ternyata Islam yg benar sangat berbeda dgn Islam yg saya kenali pada masa kecil saya. Islam yg diajarkan ini penuh dgn kebencian, tetapi mereka mengatakan, memang inilah Islam yg asli dari nabi yg asli.
Pendek kata, setelah 10 hari saya bisa bangun dan pergi ke WC tanpa bantuan Mira. Setelah 3 hari kemudian saya sanggup membantu di rumah, tapi muncullah sang Imam yang mengatakan bahwa ia akan membutuhkan saya dlm 2 hari.
Saya panic dan malam itu juga saya melarikan diri dari rumah itu. Saya tidak tahu bgm saya akhirnya sampai di dekat sebuah toko yg dimiliki orang Pakistan tua. Ia kaget melihat perempuan sendirian diluar. Ia cepat2 menarik saya kedalam tokonya dan semakin heran ketika melihat tubuh saya penuh luka cacat. Ia sampai meneteskan air mata.
Pendek kata, ia orang baik dan bersedia membawa saya ke kedutaan besar Filipina di Riyadh, yg berjarak 325 kilometer dari tempat saya ini.
Setelah 4 jam naik mobil lewat gurun pasir, kami menemukan kedutaan Filipina. Seorang satpam Filipino muncul dan cepat2 membawa saya masuk. Katanya saya beruntung karena polisi sangat sigap menangkap dan menghindari orang2 spt saya mencapai kedutaan. Saya juga sempat memeluk erat sang supir Pakistan itu dan berterima kasih padanya.
Namun sang Imam tidak semudah itu menerima kepergian saya. Ia melaporkan saya pada polisi dan mengatakan bahwa saya telah mencuri barang2 berharganya. 7 bulan saya disekap di kedutaan Filipina sampai keluarga saya memiliki cukup uang utk membayar sang Imam shg ia rela membatalkan tuduhan. Salah seorang pengacaranya juga meminta saya menandatangani surat bahwa saya telah melakukan tindakan tidak bermoral saat tinggal dirumahnya dan berjanji bahwa ia akan menggunakan alasan ini utk memberatkan saya. Foto2 jijik itu juga akan digunakannya utk mendiskreditkan saya. Saya tidak peduli dgn masalah hukum, tapi aib yg saya bawa bagi keluarga dan tetangga terlalu berat bagi saya.
Sampai kapan kesengsaraan ini berlanjut ?
...
-----------------------------------------
Komentar pembaca : Memang sulit membaca kisah ini terus menerus. Saya sampai benar2 geram dan berhenti sampai tiga kali dan menarik nafas diam2. Cerita ini pantas dijadikan film.
Tapi ada juga Muslim baik, spt si pemilik toko Pakistan itu yg sampai mengendarai mobilnya selama 4 jam ke kedutaan Filipina. Tetapi muslim2 macam ini yg harus kami raih dan bantu meninggalkan Islam. Kami tidak menolak Muslim, tetapi kami menolak Islam yg membuat orang2 baik spt kesurupan terhdp terhdp kafir dan wanita.
Wednesday, July 22. 2009
Gadis Muda Iran Dipaksa Menikah Sebelum Dieksekusi
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/gadis-muda-iran-dipaksa-menikah-sebelum-dieksekusi-t33858/
Teheran - Seorang pria Iran terpaksa mengawini seorang gadis Iran sehari sebelum gadis tersebut dieksekusi mati. Perkawinan ini dimaksudkan untuk melegalkan hukuman mati terhadap gadis tersebut.
Pria yang tidak disebutkan identitasnya itu adalah pengikut pemimpin spiritual Iran, Ali Khamenei. Pada The Jerussalem Post dia mengatakan, di usianya yang baru menginjak 18 tahun dirinya diberi kehormatan untuk mengawini wanita muda yang hendak dijatuhi hukuman mati.
Dalam hukum Islam yang diterapkan di Iran, tidak diperkenankan menghukum mati wanita yang statusnya masih perawan. Sehingga, untuk melegalkan penerapan hukuman mati terhadap wanita tersebut, pemerintah menggelar upacara perkawinan kecil-kecilan pada malam sebelum sang terhukum dieksekusi.
Sehingga, di malam itulah, wanita muda tersebut melakukan hubungan badan dengan suaminya sehingga hilanglah keperawanan sang gadis.
"Saya menyesal telah melakukannya (hubungan badan) meskipun sebenarnya itu legal," ujarnya kepada Jerussalem Post seperti dikutip news.com.au, Rabu (22/7/2009).
Pria muda itu menceritakan, dirinya tidak akan pernah melupakan saat-saat ketika malam menjelang eksekusi mati istrinya. "Saya selalu mengingat saat dia menangis setelah hubungan badan itu usai," ujarnya lirih.
"Dan saya tidak akan pernah lupa ketika dia mencakar-cakar wajahnya dengan kukunya sendiri sehingga menimbulkan luka goresan," ceritanya sedih.
(anw/van)
duh agama sinting
Teheran - Seorang pria Iran terpaksa mengawini seorang gadis Iran sehari sebelum gadis tersebut dieksekusi mati. Perkawinan ini dimaksudkan untuk melegalkan hukuman mati terhadap gadis tersebut.Pria yang tidak disebutkan identitasnya itu adalah pengikut pemimpin spiritual Iran, Ali Khamenei. Pada The Jerussalem Post dia mengatakan, di usianya yang baru menginjak 18 tahun dirinya diberi kehormatan untuk mengawini wanita muda yang hendak dijatuhi hukuman mati.
Dalam hukum Islam yang diterapkan di Iran, tidak diperkenankan menghukum mati wanita yang statusnya masih perawan. Sehingga, untuk melegalkan penerapan hukuman mati terhadap wanita tersebut, pemerintah menggelar upacara perkawinan kecil-kecilan pada malam sebelum sang terhukum dieksekusi.
Sehingga, di malam itulah, wanita muda tersebut melakukan hubungan badan dengan suaminya sehingga hilanglah keperawanan sang gadis.
"Saya menyesal telah melakukannya (hubungan badan) meskipun sebenarnya itu legal," ujarnya kepada Jerussalem Post seperti dikutip news.com.au, Rabu (22/7/2009).
Pria muda itu menceritakan, dirinya tidak akan pernah melupakan saat-saat ketika malam menjelang eksekusi mati istrinya. "Saya selalu mengingat saat dia menangis setelah hubungan badan itu usai," ujarnya lirih.
"Dan saya tidak akan pernah lupa ketika dia mencakar-cakar wajahnya dengan kukunya sendiri sehingga menimbulkan luka goresan," ceritanya sedih.
(anw/van)
duh agama sinting
Owner login

Comments